Katakan Sesuatu!

Jadi kemarin kantor saya kedatangan orang dari pusat yang kemudian memberi motivasi pada kami-kami sebagai pegawai cabang. Gaya berceritanya… hmm.. sulit dideskripsikan. Yang pasti ada unsur galaknya yang mengingatkan saya pada seorang dosen. Ngebentak-bentak gitu, plus suka nanya-nanya retoris.

Ini adalah sepenggal adegan di ruangan antara si Bos dengan teman saya, Dewi (bukan nama sebenarnya).
Bos : “Coba jawab pertanyaan saya, Dewi. Katakan sesuatu.”
Dewi : “….” *ngeblank
Bos : “JAWAB, DEWI. APAPUN! KATAKAN SESUATU!”
Dewi : “….” *bingung & speechless
Bos : “Katakan sesuatu Dewi. Apa saja. Katakan!”
Dewi : “Hmm…”
Sinta : (bantuin jawab) “SESUATU!”
Heran juga betapa beraninya saya menjawab “sesuatu” ketika si bos (tampaknya) sedang galak mode on. Tapi gimana dong. Saya kasihan sama Dewi. Lagipula toh perintah si bos kan “Katakan sesuatu”. Ya suw, aku bilang aja itu “Sesuatu!” *syahrini mode on* Hwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk.
Untungnya si bos gak marah. Gimana mau marah, kan saya gak salah :p
Anyway, sejujurnya saya gak suka dengan penyalahgunaan kata “sesuatu” yang dipopulerkan Syahrini. Apa itu “sesuatu”? Artinya apppaaaaaa?? Lebih menyebalkan lagi ketika hampir semua orang (termasuk saya) ramai-ramai ngomong “sesuatu”. Grrrrr..
Frasa “Alhamdulillah yahh” sih masih saya maklumi. Tapi “sesuatu”??? *jedot-jedotin kepala ke bantal*.
Jadi ingat, dulu senior saya sebal sekali kata “secara” disalahgunakan. Harusnya kan untuk kalimat seperti ini ya “Dia mengerjakan tugasnya secara baik dan benar.” Tapi malah dipakai seperti ini “Gua ga mau lah.. SECARA gue gitu looooh…”
Apaan tuh? -___-”
Bagi saya ini seperti kasus bahasa alay, tapi dengan tingkatan yang lebih ringan.
Semoga “sesuatu” ini segera berlalu… Ckckckck
Advertisements

Friendship Through The Years

Buat saya, foto di atas ini mengharukan sekali :’)
Sepuluh tahun selalu bareng, dari anak-anak hingga beranjak dewasa.
Gak kebayang gimana jadi mereka yang sekarang harus berpisah.
Pasti sedih banget.
Saya belum pernah punya hubungan persahabatan sepuluh tahun.
Hubungan saya dengan teman terdekat saya baru akan menginjak 9 tahun. Itu pun cewek dan kami kuliah di kampus yang berbeda. Ga sebanding lah sama Emma, Daniel, & Rupert.
Emma sendiri pernah bilang.. apa ya.. intinya bahwa ga banyak orang di dunia ini yang tahu bagaimana rasanya jadi dia (secara dia aktris dan menghabiskan masa remajanya di film Harry Potter yang fenomenal itu). Cuma dua orang yang ngerti karena punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan dirinya, yaitu Dan & Rupert. Emma sampai nangis pas produksi film HP berakhir dan dia tahu pasti akan sangat merindukan syuting bersama dua sahabatnya itu.
Saya gak tahu detail persahabatan mereka di dunia nyata. Yang saya tahu persahabatan Harry, Ron, dan Hermione di film (di buku udah lupa >.<).
Satu hal yang saya perhatikan: MEREKA SUKA BERTENGKAR! Hahahahaha..
Harry & Hermione jarang sih.
Ron & Harry kadang-kadang.
Ron & Hermione lumayan sering.
Bagi saya pribadi, pertemanan/persahabatan kurang afdol kalau belum bertengkar. Pertengkaran itu seperti ujian. Kalau setelah bertengkar kita tetap bisa bersahabat seperti sebelumnya, maka bisa dikatakan kita memang benar-benar sahabat. Sebaliknya, kalau malah membuat hubungan memburuk, kita tahu sebatas apa hubungan kita.
Selain pertengkaran, jarak dan waktu juga bisa menjadi ujian. Ketika kita berpisah jauh, atau jarang sekali bertemu, kita akan tahu sejauh mana nilai persahabatan saat kita bertemu. Apakah canggung atau bingung mau ngobrol apa, ataukah akan curhat panjang lebar seperti saat dekat dulu seolah jarak & waktu yang pernah memisahkan itu tidak pernah ada?
Saya benar-benar salut sama orang yang bisa mempertahankan persahabatan sampai bertahun-tahun. Ujian pertengkaran masih bisa dilewati kalau saya dan sahabat saya sama-sama ikhlas memaafkan. Tapi kalau ujian jarak dan waktu… saya agak susah nih, meskipun sekarang saya mulai berharap terbantu dengan adanya internet.
Melihat persahabatan Golden Trio juga bikin saya punya teori *halah.
Sebuah teori tentang persahabatan dengan lawan jenis.
Mari kita sebut dengan “Teori Persahabatan Hermione”.
Begini bunyinya,
Seperti Hermione dan Ron, persahabatan bisa berubah jadi percintaan.
Seperti Hermione dan Harry, persahabatan bisa bertahan selamanya.
*Eaaaaaa
Sesuatu banget kan ya? Hehehehehe..
Eniwei, bagaimana kabar sahabatmu? 😉

Foto Bareng Siti Nurhaliza

Setelah 2 postingan sebelumnya bersedih-sedih ria, sekarang saatnya kembali ke kehidupan normalku yang menyenangkan & bahagia *hayhay

Tanggal 27 Januari lalu, aku diutus atasanku untuk mendokumentasikan sebuah acara di sebuah hotel keren. Perusahaanku menjadi salah satu pengisi acara & 2 orang pejabatnya menjadi pembicara.

Nah! Surprisingly, ternyata di sana ada Siti Nurhaliza dong! Dia gak nyanyi sih (gak tau deh kalau malemnya. Aku di sana cuma sampai sore soalnya), dia datang sebagai businesswoman, sebagai pemilik perusahaan kosmetik dengan merek Simplicity (=Simply Siti= Siti yang simple *azeeek)

Dia menjadi pembicara di salah satu sesi.
Memperhatikan dia berbicara, aku
terpukau.
Dia begitu cantik, elegan, anggun, bersahaja, cerdas, dan tutur
katanya lembut.
Ah, aku jatuh cinta!

Begitu acara selesai, banyak orang minta foto bareng, termasuk teman-teman kerjaku.
Aku gak mau ketinggalan dong, aku juga mau foto bareng dia!

Sebenarnya sih, aku pernah bertekad, ga akan mau foto bareng artis kecuali Baim Si Pipi Tembem & Rifky Balweel.
Aku pernah melewatkan kesempatan foto
bareng Dewi Sandra, Saykoji, Revalina, Vino G Bastian, Andhika Pratama, dll demi tekadku itu. Tapi begitu melihat Siti Nurhaliza… aww… meleleh rasanya *lebay.

Pas aku update status tentang “Foto Bareng Siti Nurhaliza” di Facebook, seorang temanku ga percaya. Dikiranya aku berkhayal.
Akhirnya aku kasih deh, bukti nyata ini:

Tengok ni awak dah poto kat Siti Nurhaliza!


Dan dia pun speechless melihatnya.
Hihihi…

Senang sangat lah awak ni jumpa Puan Siti.. 🙂

*Foto diambil tanpa ijin dari facebook Nieke :p

19 Ramadhan: Life is a Climb, Miley Cyrus

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam kesembilanbelas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.

Sumber dari sini

—–

Beberapa hari yang lalu aku nonton Hannah Montana The Movie.
Lumayan. Lagu terakhirnya bagus: Life is a Climb.
Jadi inget sama postinganku yang berjudul Mengejar Impian Itu Seperti Mendaki Gunung

“I can almost see it.
that dream I’m dreaming, but
there’s a voice inside of my head, tellin’
you’ll never reach it
every step I’m takin’
every move I make
feels lost in no direction,
my faith is shakin’
but I gotta keep tryin’
gotta keep my head held high

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
always gonna be an uphill battle
sometimes I’m gonna have to lose
ain’t about how fast I get there
ain’t about what’s waitin’ on the other side
it’s a climb

The struggles I’m facing
the changes I’m taking
sometimes they knock me down, but
no I’m not breaking
I may not know where, but
these are the moments that
I’m gonna remember most
I’ve just gotta keep goin’, and
I gotta be strong
just keep pushing on, but

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
always gonna be an uphill battle
sometimes I’m gonna have to lose
ain’t about how fast I get there
ain’t about what’s waitin’ on the other side
it’s a climb

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
always gonna be an uphill battle
sometimes I’m gonna have to lose
ain’t about how fast I get there
ain’t about what’s waitin’ on the other side
it’s a climb

Keep on movin’
keep climbin’
keep faith baby
It’s all about, it’s all about
the climb
keep the faith, keep your faith, woah”
-Miley Cyrus-

Intinya:
hidup itu seperti mendaki gunung,
bukan tentang seberapa cepat..
bukan tentang apa yang menunggu kita di puncak atau di sisi lain gunung.
tapi tentang perjalanan itu sendiri.
tentang

perjalanan itu sendiri

12 Ramadhan: Lagu Agnes Monica

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-12, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama.

Sumber dari sini

—–

“Dimana letak surga itu
Biar kugantikan tempatmu denganku..”
(Agnes Monica-Tanpa Kekasihku)

Lucu sekali lirik ini.

Kalau bisa, aku juga mau.
Bukan karena aku ga terima kekasihku mati.
Bukan karena aku pengen mati cepat (yang -sepertinya- dimaksud dalam lagu ini)
tapi..

Jelas, karena memang lebih enak hidup di surga daripada di bumi.
Ya toh? :p

Ckckckck…

Mama Loren

Dua hari yang lalu aku menerima pesan lewat offline message di ym yang intinya:
1. Mama Loren bilang, jalan layang terpanjang di Bandung akan runtuh hari Jumat/Sabtu
2. Korbannya akan lebih besar dari Padang dan Aceh
3. Dia mempertaruhkan nyawanya dan akan pindah agama kalau itu bohong
4. Jangan jauh dari keluarga, jangan lewat fly over

Membaca itu, jujur aku agak khawatir, meskipun aku tau haram hukumnya percaya sama ramalan. Tapi gimana ya.. Biarpun aku gak pernah mengamati/ membuktikan kebenaran setiap ramalannya, Mama Loren itu udah terkenal kredibilitasnya sebagai peramal.

Tapi akhirnya setelah berdiskusi dengan teman-teman, kami pun mencium kebohongan, karena:
1. Mama Loren ga pernah meramal se-spesifik itu. Biasanya beliau cuma bilang, tahun ini ada bencana.. artis nikah sekian orang, artis cerai sekian orang. Dia ga pernah nyebutin nama, apalagi tanggal.

2. Gak masuk akal kalau jalan layang runtuh tapi korbannya melebihi korban Tsunami Aceh.

3. Mama Loren itu taat beragama dan sangat aneh kalau dia ‘mengiming-imingi’ pindah agama

4. Motivasi orang mencatut Mama Loren di isu ini sepertinya: Supaya weekend ini Bandung ga macet! Tiap weekend kan Bandung dipenuhi sama visitors. Apalagi kalau malam minggu. Beuh.. bakal bete lah, kalau ke luar rumah dan ketemu macet.

Dan Alhamdulillah, ternyata itu memang berita yang tidak benar 😉

Kontroversi Miyabi

Wuah.. ini ketiga kalinya (berturut-turut, pula) aku membahas artis! Bonus payung cantik nih. Pantas saja banyak blogger entertainment yang blogwalking kemari.. Fiuh..

Kembali ke topik.

Sebelum ramai dibicarakan akhir-akhir ini, aku ga banyak tahu tentang Miyabi. Dari internet, aku baru tahu kalau dia bintang film porno di Jepang. Dan aku sama sekali tidak tertarik.

Tapi karena kabar kedatangannya ke Indonesia menjadi heboh, aku jadi penasaran. Yang mana sih cewek yang namanya Miyabi? (kan ceritanya aku cewek baik-baik yang belum pernah nonton film Miyabi :p) Maka googling-lah aku mencari gambar Miyabi. Aku sih ngebayanginnya bakal menemukan cewek sintal seperti Dewi Perssik, bibir tebal ala Manohara, muka ‘khas’ dan bodi gitar ala Julia Perez.

Ternyata.. apakah yang kutemukan??

Subhanallah.. ternyata Miyabi cantik!
Mukanya imut, innocent, wajah tanpa dosa.. (padahal mah…hehehe).
Waktu itu aku hanya berkomentar, “Oh.. ini toh yang namanya Miyabi..”
Sudah. Case closed.

Tapi seminggu setelah itu kontroversi semakin memanas. Mulai muncul demo-demo, para public figure mulai angkat bicara. Dan aku mulai penasaran tingkat dua: Emang seheboh apa sih Miyabi sampai orang-orang pada ribut? Wajahnya memang cantik. Tapi masih lebih cantik Dian Sastro, lah. Dan aku mulai berpikir untuk menonton film porno Miyabi.

“….”

Tiba-tiba aku tersentak.
Kini aku mengerti mengapa banyak orang yang tidak setuju Miyabi ke Indonesia. Dan sungguh aku merasa ngeri.

Aku teringat adikku yang cowok, Yusuf, yang baru menginjak masa puber.

Bagaimana jika ia berpikir seperti apa yang aku pikirkan sekarang?

Bagaimana jika ia mendengar kehebohan Miyabi, penasaran, mencari informasi tentangnya, melihat fotonya, dan (semoga tidak) menonton video pornonya?

Naudzubillahi min dzaliik..!

Banyak orang yang berkata wajar jika seorang pemuda menonton video porno. Tapi sungguh, aku tidak ingin dia terjerumus dalam maksiat yang berawal dari menonton video Miyabi. Tidak di usianya yang terlalu muda. Bagaimana jika ia menikmati tontonan itu? Bagaimana jika ia ketagihan? Bagaimana jika.. ah, aku tidak berani membayangkan hal yang mungkin terjadi selanjutnya.

Andai saja…

Andai saja…

I wish you never heard Miyabi’s name, Yusuf..