Oki Setiana Dewi

Setelah di postingan sebelumnya aku membahas Sheila Marcia Joseph, kali ini aku membahas aktris pendatang baru sang pemeran Anna Althafunnisa di Mega Film Ketika Cinta Bertasbih: Oki Setiana Dewi.
Aduh.. Semoga blog ini tidak berubah jadi blog infotainment :p

Motivasiku menulis tentang dia: numpang beken! Hehe..
Ya.. siapa tahu banyak yang ngefans ma dia, terus gooling tentang dia, terus mampir di blogku! Kan lumayan.. heuheu..

Oke, jadi begini ceritanya..


Oki adalah adik kelasku di SMA Negeri 1 Batam. Waktu aku kelas 3, dia kelas 1. Saat itu aku tahu tentang Oki karena sejak SMP dia lumayan sering masuk koran lokal. Dan selalu, isinya tentang prestasi-prestasi dia yang bejibun mulai dari bidang modelling sampai akademik. Saat itu bisa dibilang dia sudah terkenal di Batam. Kalau mau googling, kamu bisa dapat info tentang Oki dari blog-blog orang Batam.

Yang aku ingat sih.. dulu dia sempat jadi latihan jadi mayoret.. sempat pula menunjukkan kebolehannya berjalan di atas catwalk-buatan di lapangan sekolah.. sempat minjem spidolku.. Haha.. ga penting banget aku cerita dia pinjem spidolku! Apalagi dia ga kenal aku.. :p
(eh, coba tebak, gimana ceritanya dia pinjem spidolku tanpa tahu namaku? *tetep ya.. dibahas.. heuheu)

Ketika aku mendengar dia lolos audisi KCB dan dapat peran Anna, aku kaget sekaligus senang. Sumpah ya, ni anak emang keren banget. Apalagi dengan penampilannya sekarang yang Subhanalloh.. jaaauhhh banget dari Oki yang aku lihat dulu, saat dia masih jadi model.

Aku dengar dari adik aku (yang juga adik kelas Oki), kalau Oki pindah ke Jakarta kelas 2 SMA untuk meniti karir di bidang entertainment. Ternyata di Jakarta dia dapat hidayah dan kemudian menutup auratnya. Bayangkan, ke Jakarta untuk meraih mimpi tapi memutuskan suatu hal yang berpotensi sangat besar untuk menghambatnya!
Waktu itu aku pikir, hancurlah cita-citanya.

Tapi ternyata.. jilbab itu yang kemudian membuat ia mendapat peran Anna. Membuka jalannya ke dunia entertainment tanpa meninggalkan perintah agamanya. Wuah.. Keren.. Tuhan kami Maha Keren!

Aku pun termotivasi. Aku pernah berpikir, sungguh jilbab ini membuat aku merasa agak terbatas. Habis, ga bisa jadi cheerleader & sexy dancer, hahaha.. becanda!

Aku ingin sekali terjun di bidang perfilman. Jadi orang di balik layar. Tapi aku melihat, tidak banyak jilbaber yang berada di lingkungan seperti itu. Aku dengar, pergaulan para artis yang sering dugem, narkoba, kru yang banyak merokok, dan hal-hal negatif lain yang membuat aku berpikir, mungkinkah aku..?

Dan dari KCB-lah aku menemukan jawabannya. Pada intinya, kita harus mencari orang-orang yang satu visi. Seperti para kru KCB yang mengemban misi yang sama: Dakwah. Sebelumnya aku tidak bisa membayangkan ada film yang dalam prosesnya sungguh-sungguh menjaga nilai-nilai keislaman. Yah.. memang sih, aku merasa agak aneh melihat adegan ranjang KCB dimana sang istri tetap pakai jilbab dan tidak bersentuhan kulit dengan suaminya. Tapi dari sana aku berpikir, hei, kreatif nih yang bikin film! Ternyata bisa loh, bikin adegan suami-istri tanpa melanggar perintah agama. Hal yang sulit aku temukan di film manapun yang pernah aku tonton.

Buat aku, film KCB adalah sebuah Masterpiece. Sebuah karya yang mampu mengubah pikiranku, dari yang tidak mungkin menjadi mungkin. .
Ya Allah, izinkanlah hamba mengabdi pada-Mu melalui film.. Amin

NB:
Mau tahu apa yang paling membuatku iri pada Oki? Aku iri pada hidayah yang diberikan Allah padanya. Dan aku ingin sekali syuting bersama Deddy Mizwar T.T

Advertisements

Sheila Marcia Joseph


sumber gambar: gadis.co.uk

Tumben amat nih aku ngebahas artis. Padahal aku bukan penonton setia infotainment. Tapi cewek yang satu ini beda.
Dia pernah jadi orang spesial bagi aku (APPAAAAA….??? Hehe).
Iya, jadi sebenarnya aku itu.. jatuh cinta pada pandangan pertama padanya
(APPAAAAA …?? Sinta, ternyata kamu….).

Hey, bentar. Begini ceritanya.

Waktu SMA, aku pertama kali melihat wajahnya di sampul majalah Gadis, dan aku langsung suka. Menurutku, mukanya cute dan eksotis. Saat itu warna kulitnya agak kecoklatan terkena matahari Bali *tsah*. Dan serius, aku ga bosan melihat wajah cantiknya.

Saking sukanya, dia jadi inspirasiku buat menulis novel! Waktu itu aku baru mulai menulis, dan pas melihat muka Sheila, aku langsung berandai-andai, jika novel ini difilmkan, aku pengen pemeran utamanya Sheila Marcia! *Imajinaaaaassiiii…..

Dan selama aku menulis, aku membayangkan adegan-adegan dalam novelku diperankan Sheila. Sheila yang cantik, imut, dan punya senyum manis. Ow..ow..ow.. I love you.. Sheila!

Sampai.. Sheila-ku yang manis, berubah. Sheila di kepalaku dengan Sheila yang di TV, berbeda. Mulai dari gaya pacaran dengan Roger yang kelewat mesra, penampilan yang terlalu seksi, semuanya bikin aku mengurut dada. Tapi aku masih menyukainya. Gak papa, wajarlah. Namanya juga artis.

Eh.. tiba-tiba dia tertangkap pakai narkoba dan masuk penjara. Lemaslah aku.

Sheila.. Sheila..

Tapi melihat perhatian dan kasih sayang ibunya, Sheila tampak tegar dan semakin dekat dengan Tuhan. Hm.. bagus. Bertobatlah kamu, Nak..

Dia sempat bebas, sempat jadi host Inbox di SCTV, dan sekarang dia masuk penjara lagi…
dan hamil.
HAMIL!
What the hell were you doing Sheilaaaaa…??
Sungguh, semua yang ia lakukan memporak-porandakan imaji indahku tentangnya.

Sepertinya, semua yang ia lakukan sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang aku pegang. Melihat mama Sheila dan mamaku, aku menemukan perbedaan prinsip diantara keduanya. Kalau mama Sheila membebaskan anaknya untuk melakukan apapun dengan membiarkan Sheila menanggung resikonya sendiri, tidak demikian dengan mamaku.

Mamaku dulu pernah berpesan, bahwa aku boleh memilih: dibebaskan melakukan segala sesuatu dengan penuh tanggung jawab, atau, jika aku belum bisa bertanggung jawab, maka lebih baik aku ‘dipingit’, alias dikekang saja sekalian. Demi kebaikanku.

Tentu saja aku memilih yang pertama.
Aku ingin bebas.
Dan aku tahu batasan yang dimaksud orang tuaku.
Hamil di luar nikah? Wow, bisa-bisa aku langsung dipecat jadi anak! Hehe..

But still, aku tidak ingin menghakiminya. Because I can’t put myself in her shoes. Aku tidak membenci Sheila. Tidak pernah. Tapi aku berharap, semoga tidak ada yang bernasib semalang Sheila. Semoga masyarakat Indonesia bisa memetik hikmah dari kisah hidupnya..