The Hunger Games & The Warlock

The Hunger Games

Saya pertama kali mendengar The Hunger Games dari postingan orang-orang yang saya follow di Tumblr. Waktu itu mereka membahas tentang persaingan Kaya Scodalario dengan Jennifer Lawrence yang berebut peran sebagai Katniss Everdeen (yang pada akhirnya dimenangkan oleh Jennifer).

Saya tidak terlalu menghiraukan sampai kemudian saya semakin banyak menerima terpaan *tsah, bahasanya!* tentang buku yang difilmkan ini. Penasaran, dan kebetulan nemu bukunya di Pitimoss (tempat saya biasa nyewa buku), akhirnya saya pinjam. Ternyata… lumayan 😀

Gak perlu saya kasih tahu lah ya sinopsisnya. Tapi yang berkesan dari buku ini adalah karena buku ini mengingatkan saya pada Twilight & Harry Potter. Yang mirip Twilight adalah salah satu konfliknya dimana seorang cewek yang terjebak kondisi dimana ia terancam terbunuh oleh cowok yang mencintai dia. Yang mirip Harry Potter adalah karena ini tentang seseorang yang harus bertahan hidup, dan memang ia mampu. Bedanya, kalau Potter bertahan hidup karena “cinta” dan “bakat”, Katniss bertahan hidup karena dia memang berpengalaman (hidup susah) dan skillfull.

Tapi yang saya gak suka, ceritanya tentang bunuh-bunuhan 😦

Meskipun endingnya ketebak, gaya penceritaannya mirip The Da Vinci Code yang bikin kita enggan berhenti membaca sampai selesai. Highly recommended!

The Warlock

Serial The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel adalah serial terfavorit ketiga setelah Harry Potter & Artemis Fowl. The Warlock merupakan buku kelima setelah The Alchemyst, The Magician, The Sorcerer, & The Necromancer.

Serial ini penuh dengan sihir (I love magic!), mitologi, science, dan yang pasti, petualangan. Yang suka bikin saya “sebel” tiap baca ini adalah, deskripsi penulis tentang makhluk-makhluk aneh tuh kayaknya mengerikan banget. Selalu mematikan. Sering bikin jantung saya deg-degan sendiri. Hahahahaaa. Padahal begitu terjadi pertarungan, selalu pihak yang baik yang menang. Sebel banget kan? Sesuatu yang udah bikin kita ketakutan, ternyata bisa dikalahin gitu doang. Heuheu.

Saya gak tau serial ini sampai buku keberapa. Semoga gak lebih dari 7 buku. Amiin.

Kalau kamu, buku apa yang baru kamu baca? Punya rekomendasi? 😉

Jangan Paksa Saya Jadi Pengusaha!

Protes 1

Saya pernah melihat sebuah judul buku: Kalau Mau Kaya, Berhenti Sekolah Sekarang Juga! (kira-kira gitu deh, lupa tepatnya). Saya memang belum baca buku itu tapi saya pernah membaca tulisan yang ide intinya sama. Bahwa sekolah itu tidak membuat kaya. Bahwa banyak orang-orang sukses padahal gak sekolah, putus sekolah, atau drop out (DO). Banyak figur-figur yang dijadikan contoh, termasuk si penemu Facebook yang sekarang tajir tujuh turunan *berlebihan* meski DO dari kuliahnya.

Yeah, right.

Tapi plis dong, saya benar-benar tidak suka mereka melarang (?) orang bersekolah dan melanjutkan kuliah demi kekayaan dan (apa yang mereka sebut) kesuksesan.

Belajar dan menuntut ilmu adalah wajib. Tidak ada yang salah dengan orang yang memilih belajar di universitas sampai tamat, sampai S2, S3, PhD. Tidak ada yang salah dengan orang yang belajar demi kehausan akan ilmu pengetahuan, atau keinginan mengejar passion dalam mengajar dan menjadi ilmuwan.

Buat kamu yang meninggalkan bangku sekolah dan sukses jadi pengusaha, kamu keren!

Buat kamu yang rela “hidup miskin”, selalu berhemat, mencari beasiswa, demi pendidikan setinggi-tingginya, kamu HEBAT!

Protes 2

Sekarang lagi musim “kampanye” untuk jadi pengusaha sepertinya. Buku-buku yang berjejer di toko buku banyak yang “mengajari” itu. Bagus, sih, Indonesia memang butuh lebih banyak pengusaha. Tapi sejujurnya itu membuat saya merasa bersalah dan merasa “berdosa” karena (waktu itu) sama sekali tidak berniat dan berminat jadi pengusaha.

Saya pernah curhat ke seorang teman, “Saya maunya jadi penulis, ga mau jadi pengusaha. Gimana dong?”

Dia (yang “pro” pengusaha) menjawab, “Bikin sekolah penulisan aja kalau gitu,”

Zzzz…

Saya maunya NULIS, bukan me-MANAGE orang-orang untuk belajar dan mengajar nulis. Itu sama saja kayak saya mau jadi penulis skenario, terus disaranin jadi produser. Saya maunya berimajinasi, mengarang cerita, sambil ngetik di laptop, bukan pusing nyari duit buat produksi! *maap, agak gemes*

*cooling down*

Tapi baiklah…

Saya sedikit demi sedikit mengerti betapa “urgent” jadi pengusaha.

Saya tahu 9 dari 10 pintu rejeki ada di perdagangan.

Saya (sepertinya) tahu in the end hidup jadi pengusaha itu enak. Waktu kerja fleksibel, uang ngalir terus. Passive income.

Saya tahu bahwa seharusnya saya tidak egois melakukan hal-hal yang hanya menyenangkan buat saya diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain. Saya sebaiknya ikut membuka lapangan kerja.

Saya perlu jadi pengusaha.

Maaf,

mungkin ini hanyalah cara agar saya tidak terus menerus merasa bersalah karena menamatkan S1 lalu memilih menganggur saat ini (menganggurnya jangan dicontoh!), bukannya mengundurkan diri di semester 4 lalu mulai berjualan.

Mungkin ini hanyalah pembelaan saya yang mengaku sudah mengerti pentingnya jadi pengusaha, tapi toh belum juga memulainya.

Saya masih perlu waktu…

Eniwei, saya juga pernah baca, katanya kalau kita memang belum bisa jadi pengusaha, mintalah pasangan untuk berwirausaha. Pokoknya salah satu harus jadi pengusaha.

Nah, itu lebih solutif menurut saya. Hahaha..

Jadi gimana kalau kamu..

kamu yang di belakang itu..

iya kamu.. kamu pengusaha sukses kan?

Mau jadi suami saya?

Yuwk mariiii…

ckckckckck

Kita Sangat Beruntung

Aku punya satu kebiasaan. Kalau aku masuk ke kamar seorang teman, yang biasa aku tuju pertama kali adalah rak buku dan melihat-lihat koleksi bukunya. Begitu nemu yang menarik hati, langsung aku ambil & baca. Kalau Mamaku tau, bakal dimarahin tuh. Katanya gak sopan. Masak di rumah orang malah baca? Tuan rumahnya dicuekin dong? Hihihi…

Kemarin malam aku menginap di rumah teman. Aku menemukan dua buku Totto-chan. Totto-chan: Gadis Cilik Di Jendela sudah aku baca. Aku lalu mengambil yang ‘sekuel’nya, berjudul Totto-Chan’s Childrens, A Goodwill Journey To The Children Of The World.

Aku membacanya.
Tak lama, aku merasa shock, dan ingin menangis.

Buku itu bercerita tentang pengalaman Totto-chan sebagai Duta UNICEF, mengunjungi beberapa negara (bermasalah) di dunia, dan menyaksikan keadaan anak-anak di sana. Banyak fakta yang baru aku tahu dan membuatku miris. Diantaranya:

  1. Kelaparan. Tanah tandus, tidak ada hujan, tidak ada tanaman yang bisa dipanen, tidak ada yang bisa dimakan, tubuh hanya tulang terbalut kulit, anak-anak sangat kekurangan gizi. Kalaupun anak-anak yang sakit dibawa ke dokter/rumah sakit, tidak ada obat. Tidak ada listrik untuk menyimpan vaksin atau melakukan operasi.
  2. Kekeringan. Sumber air jauh hingga berkilo-kilo meter, dan kalaupun ada, airnya berwarna cokelat dan sebenarnya tidak layak minum. Tapi tidak ada sumber air lain. Sekali lagi, tidak ada hujan.
  3. Kehilangan orangtua. Sebagian besar terjadi di daerah konflik. Anak-anak tumbuh tanpa perlindungan dan kasih sayang. Yang lebih parah, fisik mereka pun jadi korban. Ada yang dipotong tangannya *gak kebayang, mereka salah apa sih?*, ada yang kena bom/ranjau darat, bahkan ada yang digigit hyena (binatang buas) karena tidur di alam liar (ga punya rumah) T_T
  4. HIV /AIDS. Anak-anak perempuan belasan tahun jadi pelacur dan meskipun ada yang takut terkena AIDS, tapi menurutnya, dengan AIDS ia masih bisa hidup beberapa tahun lagi. Tapi kalau tubuhnya tidak terjual hari ini, ia dan keluarganya tidak bisa makan besok T_T
  5. Rendahnya kesempatan mendapatkan pendidikan. Selama ini aku menganggap anak-anak sekolah dan belajar karena ‘disuruh’ orang dewasa. Tapi ternyata anak-anak memang punya keinginan & kebutuhan untuk belajar. Sayang, tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Sebelum ini aku pernah baca *lupa bukunya apa*, kalau kita punya tempat bernaung yang nyaman, sehat, tidak haus/lapar, tidak berada dalam daerah konflik, tidak sedang terkena bencana alam, maka kita lebih beruntung dari puluhan (atau ratusan?) juta orang di seluruh dunia. Kalau kita bersekolah hingga pendidikan tinggi, memiliki ortu yang lengkap dan keluarga yang harmonis, maka kita adalah satu dari segelintir(=sangat sedikit) orang di dunia yang sangat beruntung.

Saat itu aku tidak terlalu sepakat. Bagiku, semua ‘persyaratan’ itu biasa saja, banyak orang yang memenuhi ‘persyaratan’ itu, setidaknya teman-temanku. Lagipula aku tidak seberuntung itu. Aku pernah berada di daerah konflik (Aceh) dan aku pernah terkena bencana alam (banjir semata kaki :p). Menurutku, orang yang beruntung adalah orang kaya yang hartanya gak habis-habis 7 turunan, dan orang-orang yang main di film Titanic & Harry Potter The Movies *yeeee.

Tapi setelah membaca buku ini, aku merasa tertampar, merasa disadarkan bahwa aku benar-benar sangat amat beruntung. Memang, selama ini aku sudah merasa cukup beruntung dibanding anak-anak jalanan, dibanding orang-orang yang gak bisa kuliah karena ketiadaan biaya, dibanding teman-teman yang keluarganya broken home. Buku ini membuat perasaan “Aku beruntung” ini menjadi meningkat 30x lipat.

Hidupku memang pas-pasan. Makan irit & sering seporsi berdua ma adik (maklum anak kos), belum bisa beli HP berkamera, BB, apalagi Android *yuwk*, belum bisa benerin hard disk teman yang aku rusakin, belum bayar utang ke temen buat buka account di bank, belum bisa pake behel, belum bisa ambil kursus Scriptwriting yang aku inginkan karena muahal buanget, belum bisa beliin ortu apa-apa, dan belum bisa ikutan produksi film box-office *tetep yah*.

Tapi aku saat ini…
sehat dan semua anggota tubuh berfungsi normal, sudah makan (enak) & minum, punya tempat bernaung yang sangat aman dan nyaman, air bersih berlimpah, punya gelar sarjana, ortu lengkap & keluarga harmonis, teman-teman yang menyenangkan, punya pekerjaan sesuai passion, tempat kerja yang kondusif, bisa beli sepatu sendal + kaus kaki dan nonton film pakai duit sendiri *apa sih*. Hihihi..

Pokoknya…
AKU SANGAT-SANGAT AMAT BERUNTUNG SEKALI.

Aku mungkin belum bisa banyak membantu orang-orang yang kurang beruntung dibanding aku. Tapi sekarang aku sadar, mereka ada & butuh pertolongan. Dan aku harap, sedikit demi sedikit, bisa membantu mereka suatu hari nanti.

Untuk saat ini, aku baru bisa berbagi cerita pada kalian, dan aku ingin kalian tahu,
bahwa KITA SANGAT AMAT BERUNTUNG, kawan…

Apakah kalian sudah menyadarinya?

Sumber gambar: diary sang putri (dia juga ngebahas buku ini loh..)

Damien Dematra

Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis.

Ia telah menulis 45 buah novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia,
53 skenario film dan TV series,
dan memproduksi 26 film dari berbagai genre.


Sebagai fotografer, ia meraih puluhan penghargaan internasional, diantaranya International Master Photographer of The Year.


Damien Dematra juga telah menghasilkan 365 karya lukis dalam waktu 1 tahun.

Sebagian karya-karyanya dapat dilihat di http://www.damiendematra.com

I LIKE THIS! *ngacungin jempol*

Kisah-kisah Beedle si Juru Cerita- JK Rowling


Oh I looooooooove JK Rowling!
http://emo.huhiho.com
Setelah lama ga membaca karya-karyanya, akhirnya aku bisa membaca satu-satunya buku Rowling yang belum aku koleksi: The Tales of Beedle The Bard.
Dan seperti biasa, aku jatuh cinta dengan kisah-kisahnya yang luar biasa.

Konsepnya, ini adalah buku dongeng di kalangan dunia sihir, yang diterjemahkan dari bahasa Rune Kuno oleh Hermione Granger. Terdapat lima kisah, dan di akhir masing-masing kisah tersebut diberi catatan tentang pelajaran moral yang bisa diambil oleh pembaca. Catatan tersebut ditulis oleh Albus Dumbledore, sebagai Order or Merlin (Kelas Pertama), Kepala Sihir Hogwarts, Anggota Konferensi Sihir Internasional, dan Warlock Kepala Wizengamot (gile, pejabat tinggi nih! :D)

Kelima dongeng tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sang Penyihir & Kuali Melompat
2. Air Mancur Mujur Melimpah
3. Penyihir Berhati Berbulu
4. Babbity Rabbity dan Tunggul Terbahak
5. Kisah Tiga Saudara

Kisah yang aku respon dengan kalimat “Wow! Keren!” adalah Air Mancur Mujur Melimpah. Pesan moralnya dapet banget.
Bercerita tentang air mancur yang jika ada orang tak mujur yang berhasil sampai disana, lalu membasuh diri, ia dapat kemujuran berlimpah untuk bahagia selama-selamanya.
Tiga penyihir wanita & satu ksatria berhasil melakukan perjalanan penuh rintangan. Mereka berempat saling membantu hingga sampai di air mancur.
Sayangnya, air mancur hanya dapat memberi kemujuran pada satu orang.
Lalu bagaimana mereka memutuskan siapa diantara mereka yang berhak mendapatkan kemujuran itu?
Endingnya oke banget. Harus baca sendiri http://emo.huhiho.com

Kisah lain yang jadi favoritku adalah yang paling kelam & paling berdarah:
Penyihir Berhati Berbulu.
http://emo.huhiho.com
Bercerita tentang seorang pria penyihir yang karena melihat bahwa cinta banyak menimbulkan kebodohan & penderitaan, ia melakukan Sihir Hitam agar ia tidak jatuh cinta. Ia mengeluarkan hatinya dari tubuhnya, dan menyimpannya dalam kotak. Ia menjadi orang yang dingin, aneh, dan angkuh. Ia tidak tertarik dengan gadis manapun dan hidup senang dengan kesendiriannya. Baru ketika lingkungan ‘menantang’nya untuk menikah, ia memasukkan lagi hati itu ke dalam dadanya. Sayang, dia tidak menyadari sebelumnya bahaya yang dapat ditimbulkan jika hati dipisahkan dari tubuh: Hati akan buta, buas, dan jahat. Ia bukan manusia lagi. Ia menjadi pembunuh. Di akhir cerita ia mati dalam usahanya untuk mengeluarkan hati yang jahat itu.. Hiks
http://emo.huhiho.com

Kalimat-kalimat bagus yang aku temukan di buku ini antara lain:

Syarat meraih tujuan (dalam hal ini, tujuannya adalah air mancur pembawa kebahagiaan):

Persembahkan padaku bukti sakitmu
Persembahkan padaku buah usahamu
Persembahkan padaku harta masa lalumu

Tentang penghindaran rasa sakit:

Tak seorangpun, laki-laki maupun perempuan, berkekuatan sihir ataupun tidak, kebal terhadap rasa sakit, baik sakit fisik, mental, maupun emosional.
Merasakan sakit sama manusiawinya dengan bernapas.

Pesan moral dari “Kisah Tiga Saudara”

Upaya manusia untuk menghindari atau mengalahkan kematian selalu berujung pada kekecewaan

Tentang hadiah-hadiah dari Kematian:

Penyihir & Muggle sama-sama memiliki keinginan untuk berkuasa;
berapa banyak yang mampu menolak Tongkat Sihir Takdir?
Manusia manakah, yang pernah kehilangan orang yang dicintai,
dapat menahan godaan untuk memiliki Batu Kebangkitan?

Tentang ramuan cinta sejati:
Hector Dagworth-Granger, pendiri Perhimpunan Pembuat Ramuan Paling Luar Biasa, menjelaskan:

“Rasa suka yang sangat besar memang bisa dimunculkan oleh pembuat ramuan yang hebat, tetapi hingga saat ini belum ada seorang pun yang mampu menciptakan ramuan yang bisa memunculkan hubungan abadi, tak terputus, dan tanpa syarat yang disebut Cinta.”

Laik dis!

gambar diambil dari www.snitchseeker.com

Artemis Fowl

Pertama kali aku tertarik dengan buku Artemis Fowl adalah ketika masih sekolah. Sampulnya itu loh, hardcover berwarna hijau, dan berkilau-kilau karena ada.. apa ya itu namanya.. pokoknya seperti hologram lah. Dari segi packaging, sangat menarik.

Nah, aku berkesempatan membaca buku itu beberapa hari yang lalu.
Aku membaca buku pertama yang judulnya Artemis Fowl, dan buku kedua yang berjudul Artemis Fowl, The Arctic Insident (Insiden Arktik).


Artemis Fowl
Bercerita tentang peri bernama Holly Short yang diculik oleh seorang anak bernama Artemis Fowl. Artemis menculik peri untuk meminta tebusan berupa emas. Kelakuan Artemis menghebohkan dunia peri. Padahal, Artemis adalah hanya seorang anak berusia 12 tahun! Ia superjenius, super kaya, dan pelaku kriminal.

Aku sempat heran dengan sang penulis yang menyebutkan bahwa Holly Short dan Artemis adalah tokoh protagonis. Bagiku, Artemis adalah tokoh antagonis karena dia licik dan jahat, melihat perilaku dia yang menculik dan mengurung Holly, padahal Holly dan seluruh dunia peri tidak punya salah apa-apa pada Artemis.

Tapi di akhir buku, sang penulis menunjukkan sisi baik Artemis. Artemis meminta peri untuk menyembuhkan ibunya yang menjadi kurang waras karena suaminya (ayah Artemis) menghilang karena kapalnya diserang saat sedang berbisnis.
Meskipun Artemis menyadari bahwa dengan pulihnya sang ibu, ia tidak akan sebebas dulu untuk melakukan apapun (yang ilegal dan kriminal), toh ia tetap ingin ibunya sehat, cantik, dan memperhatikan dia seperti sebelumnya.

Yang aku suka dari buku ini adalah, meskipun tidak ada penyihir, tapi ada para peri bisa tak terlihat, bisa menyembuhkan, dan bisa menghipnotis dengan suara merdunya. Lalu, ada karakter-karakter yang pernah aku temui sebelumnya di buku Harry Potter seperti troll, goblin, pixie, dan kurcaci. Hehe..

Suka banget lah, sama buku ini. Jadi jangan heran kalau aku penasaran dengan buku keduanya:


Artemis Fowl, The Arctic Incident
Ayah Artemis ditemukan hidup! Ia disandera mafia Rusia. Sementara itu, di dunia peri, terjadi kehebohan karena ada goblin mendapat pasokan senjata manusia. Padahal, tidak boleh ada kontak antara dunia peri dengan dunia manusia. Tidak ada manusia yang boleh mengetahui keberadaan dunia peri. Holly Short menduga Artemis lah yang menjadi otaknya.

Artemis terbukti tidak bersalah. Akhirnya mereka justru membuat kerjasama. Artemis harus membantu peri menyelesaikan kasus goblin, kemudian para peri akan membantu Artemis menyelamatkan ayahnya yang berada di dekat wilayah Kutub Utara.

Konflik di buku kedua ini lebih rumit. Ada beberapa bagian yang tidak aku mengerti. Tapi tak apa. Yang penting inti ceritanya ngerti. Hehehe..

Ada satu karakter lucu yang ada di buku Artemis Fowl.
Karakter itu adalah seorang kurcaci bernama Mulch Diggums.
Kenapa lucu? Karena “senjata utama” yang ia punya adalah… (maaf) kentutnya! Hahaha..

Mulch adalah kurcaci yang punya sifat licik dan pintar, menyebalkan, hobi mencuri, dan berkali-kali keluar masuk “penjara” peri. Ia dibenci para “perwira” peri, tapi kemampuan Mulch dalam menjebol sarang lawan tidak bisa dibantah. Ia terkadang dimintai tolong untuk membantu peri memasuki markas musuh lewat bawah tanah (keahlian kurcaci adalah menggali).
Kentutnya pernah membuat Butler, pengawal Artemis yang sangat kuat dan berbadan besar, terjengkang. Gokil kan? Bayangkan sedahsyat dan sebau apa kentutnya! Hahaha..

Di buku yang kedua ini, sisi kemanusiaan Artemis lebih diperdalam. Penulisnya, Eoin Colfer, menunjukkan Artemis yang kesepian, tidak tertarik sekolah, rindu pada ayahnya, kesulitan Artemis bekerja dalam tim, serta kelemahan Artemis dari segi fisik (Artemis sehat, tentu saja. Tapi dia lebih sering menggunakan otak. Urusan fisik selalu diserahkan pada Butler).

Ada dua bagian favoritku dalam buku Artemis Fowl, The Arctic Incident ini.
Pertama, adalah kalimat perpisahan yang diucapkan Holly pada Artemis:

“Untuk mengingatkan dirimu bahwa jauh di balik lapisan kelicikan, kau memiliki setitik cahaya kebaikan. Mungkin sesekali kau bisa meniup cahaya kebaikan itu agar membesar”

Kedua, adalah ketika Artemis ditanya oleh psikolognya tentang siapa orang yang Artemis hormati. Ketika pertama kali ditanya seperti itu, Artemis tidak bisa menjawabnya. Ia terlalu sombong dan arogan untuk bisa menghormati orang lain.

Setelah petualangan menyelamatkan dunia peri dan ayahnya, Artemis diberi pertanyaan yang sama oleh psikolognya. Lalu Artemis teringat Ayahnya yang ia sayangi, teringat Holly yang berani, penuh perjuangan, dan rela berkorban, serta teringat Butler yang selalu menjaganya dari segala bahaya, 24 jam 7 hari seminggu, sejak ia lahir sampai sekarang. Dan Artemis pun menemukan jawabannya.

Owwh.. so sweet..!
Sintamilia like this!
*ngasih jempol*

Sumber gambar dari sini:
Artemis Fowl
Artemis Fowl, The Arctic Incident

Alasan Mengapa Aku Suka Buku Harry Potter: Sebuah Postingan Pre-kuel

Ini adalah postingan prekuel. Maksudnya?
Sebenarnya yang mau aku bahas adalah The Alchemyst.
Tapi sebelum membahas buku itu, mau ga mau harus membahas buku Harry Potter dulu. Kenapa? Karena alasan aku membaca buku yang satu itu, adalah karena dalam buku itu ada tokoh yang disebut-sebut dalam Harry Potter and The Sorcerer’s Stone:
Nicholas Flamel.

Aku suka banget sama tujuh buku Harry Potter + dua buku tambahannya (tentang Quidditch & Hewan-Hewan Sihir).
Membaca buku-buku itu menimbulkan sensasi yang mirip ketika dulu aku menonton Sailormoon dan Doraemon: Imajinasi tingkat tinggi, humor, dan pengalaman seru.

Sejak membaca Harry Potter-lah aku suka dengan sihir.
Tapi setelah membaca beberapa buku fantasi lain yang ada sihir-sihiran, kurang tepat kalau aku bilang aku suka sihir.
Yang benar adalah, aku suka sihir di Harry Potter.
Selain dari itu, tidak.
Hehehe..

Berikut ini adalah beberapa hal yang membuat tujuh buku Harry Potter menjadi yang paling keren dibanding buku-buku sihir lain:
1. Setting tempat sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
2. Aku suka dengan misteri. Misteri kucing berubah jadi wanita, atau manusia terbakar sendiri tapi sekelilingnya tidak terbakar, akan terjawab dengan satu kata: Sihir. Yah.. itu bikin aku berpikir, sihir itu keren. Ya! xp
3. Humor! Duh, itu yang tidak aku temukan di buku-buku lain
4. Harry Potter menggunakan karakter-karakter yang ada di berbagai mitos dan legenda.

Nah, yang terakhir itu yang aku temukan juga di buku The Alchemyst. Tokoh-tokohnya , Nicholas Flamel, istrinya Perenelle, musuhnya Jhon Dee, adalah tokoh-tokoh nyata. Dewa-dewi yang ia ‘kerahkan’ juga memang berdasarkan mitos-mitos yang ada. Jadi ya.. aku suka aja. Lebih terasa realis. Meskipun sebenarnya enggak.

Mungkin itu juga ya, yang membuat aku tidak terlalu suka The Twilight Saga.
Habis, kurang sesuai mitos sih.
Keluarga Cullen too cool to be true.
Hehe.. Aku lebih suka buku Dracula. Mirip kisah nyata.

Eit, mulai melenceng nih tulisan.

Satu hal yang kurang dari sihir The Alchemyst: Ga ada tongkat sihir!
Kan ga seru.
Aku suka tongkat sihir.
Aku pernah punya tuh tongkat sihir, bonus dari majalah Cinemagz.
Tapi patah dong sama sepupuku.
Aaaargh sebel.
Demi mengobati kekesalanku, akhirnya aku bikin sendiri aja.
(Kok aku kelihatan freak banget ya, nulis ini? Hihi)

Gambar adalah hasil karya Sintamilia.
Boleh copas asal sertakan sumber.
Terimakasih.. 🙂