Eroserum

Besok Chandra ulang tahun yang ke-16. Aku sudah tahu akan memberinya apa, yaitu sebuah kue mangkuk yang ditambah beberapa tetes Eroserum. Sebagai salah satu siswa paling pintar di sekolah sihir ini, tak sulit bagiku membuat ramuan yang sebenarnya merupakan materi untuk tingkat empat itu.

eroserum

Aku adalah siswa tingkat dua. Beberapa waktu yang lalu, aku tak sengaja menemukan cara pembuatan “ramuan cinta” itu saat membuka-buka buku pelajaran kakakku. Ketika membaca materi Eroserum, orang pertama yang terlintas di kepalaku adalah Chandra, ketua kelasku yang tampan dan baik hati. Aku sangat menyukainya. Hubungan kami cukup dekat sebenarnya tapi banyak gadis yang tergila-gila padanya dan aku tidak cukup percaya diri bersaing dengan mereka. Aku harap dengan Eroserum ini, hanya ada aku di hati Chandra hingga ia tak ragu memilihku menjadi kekasihnya.

Aku berjalan mengendap-endap dari dapur menuju kamar. Sebotol Eroserum yang baru kuracik dan buku ramuan kakak kusembunyikan di balik punggung. Aku sudah hampir masuk kamarku ketika aku terpergok.

“Apa yang kau bawa, Shila?”

Deg! Degup jantungku serasa berhenti. Aku berbalik menghadap kakak. Kakak menghampiriku dan dengan mudah mengambil dua benda dalam tanganku. Ia heran melihat buku Ramuan Tingkat 4, namun lebih heran lagi melihat sebotol kecil cairan merah darah. Ia lalu membuka tutup botol dan mencium aromanya.

“Hmm… Eroserum?”

Aku tak berani menjawab. Kutundukkan wajahku karena malu.

“Kamu tahu fungsi Eroserum?”

Aku terdiam sejenak. “Aku cuma ingin disukai, Kak.” sahutku pelan.

“Bisa. Kalau kamu berhasil bikin gebetanmu meminum sedikit saja Eroserum ini, dia pasti langsung suka sama kamu. Tapi dia gak akan mencintai kamu.”

Dahiku mengernyit, tak mengerti apa yang Kakak ucapkan.

“Rasa suka itu dangkal, Shila. Tapi cinta? Tak ada satu pun ramuan yang bisa membuat kita memiliki kasih sayang teramat tulus dan pengorbanan tanpa syarat. Kamu bisa saja membuat banyak orang menyukaimu. Tapi kalau kamu ingin seseorang benar-benar mencintaimu, yang bisa kamu lakukan hanya menampilkan keindahan hatimu padanya. Itu!” ucap Kakak mengedipkan mata dan mengembalikan Eroserum itu di telapak tanganku. Ia lalu pergi dengan membawa buku ramuan miliknya.

Aku memasuki kamar dengan perasaan bimbang. Benarkah Eroserum fungsinya sedangkal itu? Padahal aku pikir Eroserum ini ramuan paling keren yang pernah kubuat.

Perhatianku teralihkan saat seekor burung merpati hinggap di jendela. Di kakinya ada segulung kertas. Aku menghampiri burung pembawa pesan itu dan membuka gulungan kertasnya.

‘Hai Shila, besok adalah hari ulang tahunku dimana aku akan diizinkan menunggang Zamrud. Kau ingat kan, nagaku itu? Datanglah kerumahku karena aku ingin kau yang pertama kuajak terbang. Chandra.’

Aku tersenyum. Ah Kakak, sepertinya aku memang tidak perlu Eroserum ini.

 

Sumber gambar : etsy

Advertisements

Dua Dunia

Aku sudah menduga sebelumnya bahwa status “in a relationship”ku di facebook akan menimbulkan kontroversi seperti ini.

Ada yang percaya, ada yang tidak percaya.
Ada yang mendukung, ada yang protes.

Buat teman-teman yang percaya, mungkin tidak akan heran aku “in a relationship” dengannya. Kami memang sudah (terlihat) dekat sejak lama.

Buat teman-teman yang tidak percaya, berarti kalian lebih tahu tentang aku.
Kalian benar, aku tidak mungkin berpacaran dengannya.
Tidak di dunia nyata.

Katakan saja kami hanya mencari sensasi.
Karena kami sepakat facebook sudah terasa membosankan akhir-akhir ini.

Terbukti kan? Pergantian status kami dari “single” menjadi “in a relationship” telah menghebohkan jagad per-facebook-an.

Tapi sudah ya, teman-teman tak perlu khawatir.
“In a relationship”ku dengannya semu saja, hanya di dunia maya,
karena kami tahu, dan kalian semua tahu,
di dunia nyata, ini tak akan terjadi.

Tidak akan,
selama kami menyebut Tuhan dengan nama yang berbeda.

Di dunia maya, kami saling mencintai satu sama lain.
Di dunia nyata, kami mencintai Tuhan lebih dari segalanya.

sumber foto: gettyimages

24 Ramadhan: Pseudo Moments-Beach

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam keduapuluhempat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.

Sumber dari sini

—–

Kali ini copas lagi. Hehe.
Postingan sebelumnya juga copas.
Pokoknya emang lagi copas mode on lah malam ini. Hihi

Tapi kalau yang sebelumnya copas karya orang,
yang satu ini adalah karyaku sendiri.
Aku copas dari note fb: Sebuah fiksi karya Sintamilia 🙂

Happy Reading!

Aku takjub dengan apa yang aku lihat.
Pasirnya putih, bersih, dan halus. Pantainya landai.
Dari jauh, ombak biru bening bergulung-gulung kecil.
Matahari sore berwarna oranye kemerahan.
Tak jauh dari sana, perbukitan hijau menambah warna teduh.

Waow! Gila keren buanget! Pas sekali untuk lokasi foto pre-wedding.
Ups.. Aku jadi malu sendiri membayangkannya.

“Kita salat Ashar dulu yuk,” ajak Fariz. Pria kurus tinggi dan berkulit cokelat itu menuntun lengan Angel, keponakan-4-tahun-mirip-Suri Cruise nya. Lengan Angel yang satunya menarik tanganku. Bertiga kami berjalan beriringan menuju mesjid terdekat.

Selesai salat, kami menikmati kelapa muda yang baru dipetik langsung dari pohonnya. Aku selalu suka kelapa muda. Terutama yang alami seperti ini: tanpa susu kental, tanpa pemanis. Meskipun sebenarnya kurang es batu, tapi rasanya sudah nikmaaaaat sekali! Ah, ini pasti karena hormon oxytocin lagi mengalir deras dalam darahku.

Matahari semakin rendah. Semakin sore warnanya semakin merah.
Kami menyusuri pantai, menuju matahari yang mulai terbenam.

Aku, Angel, dan Fariz berjalan pelan di atas pasir. Sesekali kaki kami diusap air laut. Ingin sekali kugenggam tangan Fariz. Bagaimana rasanya ya? Namun saat ini aku harus cukup puas dengan hanya menggenggam tangan mungil Angel.

Ngomong-ngomong tentang Angel, Fariz pernah menjelaskan mengapa Angel selalu ada di setiap kencan kami. Katanya, “Kalau kita cuma berdua, yang ketiganya itu syaitan. Jadi daripada kita ditemenin syaitan, kan lebih baik sekalian aja kita bawa aja malaikat,”. Mungkin karena itu Fariz memanggilnya Angel.

Aku pribadi agak curiga kalau Angel itu bukan nama aslinya. Karena kadang-kadang dia tidak menoleh saat dipanggil ‘Angel’. Kalau sudah begitu, Fariz akan memanggilnya ‘Angelina’, baru kemudian ia menoleh. Jangan-jangan nama sebenarnya adalah Lina. Hihi. Tapi itu tidak penting. Yang penting, bagiku kehadiran Angel bisa mengurangi rasa gugupku. Kalau tidak ada Angel di sini, mungkin aku akan grogi setengah mati.

Aku menatap wajah Fariz, yang sedang terpaku pada matahari.
Ah, ia paling cakep kalau dilihat dari samping.
Garis wajahnya seperti dalam komik. Hidungnya, bibirnya.. Aku memalingkan wajah.

“Fariz..” ucapku pelan sambil menunduk.
“Ya?” ia menoleh padaku.
“Ini seperti mimpi,” sahutku.
Ia tersenyum menahan tawa, “Memang!”

Hah? Aku berpikir sejenak.
Astaga! Dia benar.
Aku bahkan tak perlu repot-repot mencubit tanganku untuk membuktikan itu.

Ah sial, jam berapa aku memasang alarm tadi malam?
Semoga hp ku low bat dan mati sebelum berbunyi.
Amin.

(semoga)
Bersambung..

Actually…

Inspirasi postingan ini didapat setelah membaca sebuah postingan di blog senior.

“Kenapa aku yang mesti ngomong? Kamu lah, kan kamu yang perlu bantuan dia,”
“Kamu aja lah. Kan kamu temannya,”
“Gak mau ah. Aku malu,”
“Kenapa mesti malu? Kalau malu berarti suka,”

(mengembalikan handycam) “Tolong bilangin ke temen kamu yah, terimakasih, gitu,”
“Kepake gak handycamnya?”
“Enggak,”

“Kamu sms-an sama mereka? Kirain kamu ga ada pulsa. Kok kalau aku sms kamu, ga dibales?”
“Mereka pake IM3. Kamu enggak,”

“Tadi Mama nelpon, katanya kamu ngirim kado ya buat Mama? Cie..”
“Aku yang ngasih kado, kok malah kakak yang ditelepon Mama?”
“Kan nelpon sesama Esia gratis,”

“Berapa orang yang mau kamu traktir pas ultah kamu?”
“Hmm… 10 orang lah kira-kira,”
“Siapa aja mereka?”
“Pokoknya yang pernah traktir aku,”

“Kalau di sana Wisnu dan Ruli sama-sama dateng, kamu bakal duduk di dekat siapa?”
“Hmm… Ruli kayaknya,”
“Kenapa?
“Lebih enak diajak ngobrol,”
“Kalau Wisnu?”
“Dia mah cuma enak diliat doang..”

“Wah, abis juga. Kirain masakan aku gak enak,”
“Kan sebelum kamu masak juga aku udah janji bakal aku abisin,”

“Dia gak mau pacaran sama aku. Katanya aku jarang sholat,”
“Kamu rajin sholat juga belum tentu dia mau pacaran sama kamu,”
“Kenapa?”
“Karena dia maunya langsung nikah, ga pacaran,”

“Ayolah, kami butuh pemain ni, secepatnya,”
“Aku mau banget. Mauuuuu banget. Tapi ga bisa,”
“Kenapa?”
“Pacarku ngelarang aku jadi artis,”

“Aku punya berita buruk,”
“Apa?”
“Aku mau pinjam uang sama kamu,”
“Hahaha.. Itu berita buruk? Kalau gitu, aku punya berita yang lebih buruk,”
“Apa?”
“Aku juga lagi ga punya uang,”

“Sebenernya untuk apa sih bikin skripsi?”
“Biar dapat ijazah,”

“Kamu suka shushi?,”
“…. emmh, suka..”
“Aku tahu restoran Jepang yang enak. Kita ke sana aja ya?”
“Boleh..”
“ Tadinya aku mau bikin nasi goreng. Tapi nasinya aja belum dimasak. Takut kelamaan, ntar kamu keburu lapar,”
“Aku pengen masakan kamu aja,”

“Minggu depan mau datang ke konser musik ga?”
“Aku ga suka acara yang kayak gitu,”
“Oya? Tapi bulan lalu kamu mau aku ajak ke konser musik,”
“Waktu itu aku lagi stres,”

“Kamu sekarang sombong banget. Kenapa sih?”
“Kamu bukan sahabatku lagi,”
“Kok kamu ngomong gitu?”
“Sahabat itu harusnya selalu ada setiap kali dibutuhin,”
“Waktu itu aku lagi sibuk,”
“Aku yah, sesibuk apapun, kalau sahabat aku butuh, pasti aku luangin waktu buat dia,”
“Ya udah, mungkin aku memang ga bisa jadi sahabat kamu. Tapi aku masih bisa jadi temen kamu, kan?”

“Hei! Aku nyari kamu loh dari tadi. Kamu mau kemana?”
“Pulang,”
“Naik motor?”
“Yap,”
“Hmm, aku mau ke tempat temen aku ni di Cileunyi,”
“O gitu, ya udah. Hati-hati ya di jalan,”

Kali ini bener-bener Hiatus! :D

Makin ga jelas nasib blog ini.

Dua postingan sebelumnya, Hiatus.
Eh, besoknya, posting lagi sambil ngomongin program Posting Setiap Hari.
Hehe..

Tapi kali ini aku benar-benar sulit meluangkan waktu buat nge-blog.
Jadi memang mau cuti dulu.

Sebagai posting perpisahan sebelum Hiatus, aku tampilkan ini, yang sebelumnya sempat aku publish di facebook.

Happy Reading!

“Kamu sibuk banget, ya?” tanyanya padaku via telepon.

“Aku kan sudah jelaskan..”

“Ya sudah, tidak apa-apa kok..”

Dia menutup telepon.

Tidak apa-apa? Huh. Dasar cewek!
Aku berani bertaruh, kata “tidak apa-apa” yang ia ucapkan bukan berarti benar-benar “tidak apa-apa”. Dari nada suaranya aku tahu, dia kecewa.
Teramat kecewa.

Hmpfh..
Aku menghempaskan diri ke sofa.
Aku memang workaholic. Dia tahu itu.
Tapi meskipun aku tahu bahwa dia sangat memaklumiku, aku sadar aku memang harus meluangkan waktu untuknya.
Tapi bagaimana? Kapan?

Sialan.
Aku tidak suka seperti ini.
Aku selalu merasa bersalah setiap kali aku berkata,
“Maaf, aku tidak bisa datang..”
“Maaf, aku sedang di luar kota..”
“Maaf, hp ku tadi mati,”
Hingga kalimat yang paling basi:
“Maaf, aku sibuk..”
Serta berbagai alasan lain yang mengiringi setiap kata maafku.

Terkadang aku setengah berharap, ia berhenti saja menghubungiku.
Sehingga aku tidak perlu menolaknya setiap saat, yang membuat perasaan bersalahku bertambah dari waktu ke waktu.
Dan melihat betapa sering aku mengecewakannya, aku tidak akan heran jika ia memutuskanku dari dulu.

Tapi disisi lain, aku tahu itu adalah caranya mempertahankan hubungan ini.
Hubungan yang di mataku sudah seperti perahu yang bocor disana-sini.
Dia berusaha menambalnya sendiri,
Dia berusaha menguras airnya sendiri,
Sementara aku sibuk dengan ikan-ikan.

Dia mencintaiku. Jelas.
Lalu aku?
Aku kini justru mempertanyakan perasaanku.

Beranikah aku katakan padanya, bahwa ini bukan tentang “sibuk” semata?

NB:
Cerita di atas adalah FIKSI. Mohon saran dan kritiknya.. ;p

Buat siapapun yang merasa terlupakan karena “kesibukan”ku,
Aku mohon maaf.
Tapi sungguh, aku selalu ingin kamu menghubungiku.
Karena aku yakin, suatu saat nanti, entah kapan,
Alih-alih minta maaf, aku akan berkata,

“Ya, aku akan datang menemuimu..”

H.I.A.T.U.S

Tuhan.. beri kami hidup..

Jam menunjukkan waktu pukul sembilan tepat ketika bel rumah Raddy berbunyi. Dari dalam rumah, seorang wanita setengah baya membukakan pintu. Di depan, tampak seorang gadis manis tersenyum sopan padanya. Sang ibu langsung mengenalinya. Gadis itu adalah Salsa. Kekasih Raddy.

Ny.Darma tersenyum senang. Beliau mempersilahkan Salsa masuk. Salsa adalah perempuan pertama yang direstuinya untuk menjadi kekasih Raddy. Menurutnya, Salsa adalah gadis sederhana & bersahaja. Ia banyak memberikan pengaruh yang positif pada Raddy, putra bungsunya.

“Kalian sudah janjian? Raddy lagi ga ada di rumah, lho?” sahut beliau ramah.

“Saya tahu, Bu. Justru itu saya kesini. Saya mau bikin surpraise buat dia. Boleh ga, saya masak kue disini..?” jawab Salsa manis.

* * *

“Raddy itu sibuk banget ya, Bu?” Tanya Salsa seraya menghias cake ultah mungil dengan tulisan ‘Semoga panjang umur’.

“Iya.. begitulah. Ia ingin menikmati hidupnya. Ia lakukan semua hal yang ia ingin lakukan…”

Jawaban itu membuat Salsa sedikit heran. Tapi ia tidak berkomentar.

“Oya, Bu. Biasanya hari minggu pagi kaya gini, Raddy itu main di mana ya, sama temen-temennya..?” Sudah lama Salsa ingin menanyakan ini, karena selama dua bulan ia berpacaran dengan Raddy, ia tidak pernah bias menemui Raddy setiap Minggu pagi. Berbagai macam, alasannya. Kali ini, Raddy mengatakan bahwa ia akan ngumpul sama teman-temannya.

Ny. Darma menatap Salsa dengan bingung.

“Kamu tidak tahu Raddy kemana..?”

Salsa menggelengkan kepala pelan dengan sedikit bingung.

“Raddy tidak memberitahu kamu tentang keadaannya..?”

Salsa semakin bingung. Lalu ia mulai merasa cemas & khawatir. Walaupun untuk alas an yang belum ia ketahui.

Ny. Darma terdiam.

“Memangnya, Raddy kemana, Bu?”

Ny. Darma tidak langsung menjawab. Ia sepertinya agak ragu.

“Sebenarnya..tiap Minggu Raddy harus…” Ny. Darma menghela nafas berat. “…cuci darah. Ginjalnya hanya satu & semakin melemah. Usianya hanya sampai.. selama ia mampu cuci darah…” sahutnya pelan.

Suasana mendadak hening. Salsa shock. Ia terdiam, berusaha mencerna kalimat itu. Ia tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Seluruh tubuhnya lemas. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ia lalu memandang hasil karya di hadapannya: ‘Semoga panjang umur’.

* * *

Salsa terdiam di jendela kamarnya, memandang matahari yang mulai terbenam. Air mata bergulir di pipinya yang halus. Tadinya ia pikir hari itu adalah hari yang bahagia. Karena ia akan membuat kejutan untuk Raddy. Tapi justru ia yang terkejut. Dan mendadak hari itu adalah hari yang paling kelabu baginya. Ia meninggalkan rumah Raddy tanpa sempat memberikan secara langsung kue itu padanya

.

Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Salsa menghapus air matanya.

“Sa.. Raddy datang, tuh!” teriak kakaknya dari luar pintu.

Salsa langsung keluar kamar & menuju ruang tamu. Disana, duduk seorang pemuda tampan, yang membuat orang lain iri betapa beruntungnya dia. Seseorang yang ia sayangi & membuat hidupnya berwarna. Seseorang yang telah menjadi belahan jiwanya walaupun usia pacaran mereka belum genap tiga bulan. Seseorang yang ingin ia lalui hidup bersamanya.

Raddy memakai jaket merah favoritnya. Matanya memandang kearah Salsa. Mata itu.. Salsa tidak tahan melihatnya. Ia lalu mengajak Raddy berbicara di teras.

Tanpa diduga, malam itu mereka bertengkar.

“Memangnya kenapa kalau aku sakit..?!” ucap Raddy setengah berteriak. “Aku harus ngejauhin kamu? Gitu?! Kayak di film-film bioskop itu? Aku ga mau ngejauhin orang yang aku cintai cuma gara-gara aku sakit!”

“Kamu ga ngerti, Raddy!” balas Salsa dengan mata yang mulai terasa panas.

“Aku cuma pengen sisa hidupku bahagia. Dan itu cuma kalau aku sama kamu!” ucap Raddy.

Tangis Salsa pecah.

“Dengar Salsa. Aku ga peduli sama penyakit aku..!”

“Tapi aku peduli!” teriak Salsa. “Umur kamu gak lama lagi! Kamu bakalan ninggalin aku! Kamu ga tau gimana rasanya..!”

“Umurku gak lama lagi..? Huh!” Raddy mencibir, “Siapa yang menjamin umur kamu bakal lebih panjang daripada aku..?”

Salsa memandang Raddy tajam.

“Yang namanya manusia itu semuanya bakalan mati! Emangnya kamu pengen aku hidup selamanya..? Gak mungkin, kan..?” sahut Raddy pedas.

Salsa tidak tahan lagi. Ia berlari meninggalkan Raddy, menuju kamarnya. Ia membanting pintu, berjalan ke arah tempat tidurnya, menenggelamkan dirinya dalam bantal & menangis hebat.

Diluar, Raddy terdiam menahan amarah. Sekaligus menahan sedih.

Keesokan harinya..

Raddy mendekati Salsa yang berdiri di pinggir jalan. Saat itu Salsa baru saja selesai kuliah.

“Sa, aku antar kamu pulang naik motor,” sahut Raddy datar.

“Gak perlu, Raddy. Kita udah putus,” sahut Salsa, berharap secepatnya mendapat angkutan umum. Kening Raddy berkerut.

“Alasannya..?”

“Lebih baik aku sedih sekarang. Aku berharap nanti aku gak akan terlalu sedih kalo kamu beneran ninggalin aku selamanya..!” Salsa berjalan menjauh. Raddy mengikutinya.

“Ini ga adil, Sa!”

Salsa berjalan semakin cepat. Ia tidak ingin berbicara lagi dengan Raddy. Hal itu akan membuat hatinya semakin sedih. Sejujurnya ia tidak ingin seperti ini. Ia masih mencintai Raddy.

“Aku mencintai kamu, Sa!” teriak Raddy.

Berharap ia mampu membuat Raddy diam, Salsa berbalik & berkata, “Aku gak mencintai kamu!”. Dilihatnya wajah Raddy. Tapi Raddy tidak menatapnya. Raddy justru melihat ke sebelah kiri Salsa. Salsa mengikuti arah pandang Raddy. Dari sebelah kiri, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ia tidak bisa menghindarkan diri. Ia masih bisa mendengar teriakan Raddy menyebut namanya. Lalu semua menjadi gelap.

Di ruang ICU…

Raddy mendekati Salsa yang terbaring. Ia berusaha keras mengendalikan diri agar tidak menangis. Ia memandang wajah Salsa yang tertidur lelap, ditemani alat bantu pernafasan. Kondisinya masih kritis.

Teringat olehnya pertengkaran mereka tadi malam.

‘Umur kamu gak lama lagi! Kamu bakalan ninggalin aku! Kamu ga tau gimana rasanya..!’

“Sa.. kini aku tahu rasanya. Aku khawatir. Aku cemas. Aku sedih. Aku takut. Aku takut kehilangan kamu.. Aku gak mau kamu meninggal di depanku.. Aku gak mau ditinggal mati, Sa..

Siapa yang menjamin umur kamu bakal lebih panjang daripada aku..?’ Kini Raddy benar-benar menyesal telah mengatakan itu. Ia mulai menangis.

‘Yang namanya manusia itu semuanya bakalan mati!’

Dadanya bergemuruh. Ia merasa hancur. Untuk pertama kalinya ia merasa betapa manusia amat lemah.

Malam itu Raddy berdoa. Doanya kali ini sangat khusyuk.

Lama.

Penuh kepasrahan.

Pada akhir doanya, ia bersujud & memohon,

“Ya Tuhan.. berikanlah kami hidup…”

Air matanya mengalir deras, tanpa suara.

Kopiah Putih

Hari itu adalah Ulang tahun Ali yang ke-20 tahun. Ali tersenyum senang menerima kado dari Nida, adik bungsunya yang masih duduk di kelas 1 SD. Tapi Ali meringis saat melihat isi kado itu adalah.. sebuah kopiah putih.

Nida melihat perubahan raut wajah kakaknya itu. Senyum lebar Nida pun berubah sedih.

“Aa ga suka yah..?” tanya Nida polos.

Ali terkejut. Ia tak menyangka Nida akan bertanya seperti itu.

“Su..ka..!” jawab Ali berusaha meyakinkan Nida.

“Bohong..!”

“Bener! Kopiahnya bagus. Terimakasih ya…”

Nida memasang wajah cemberut.

Ali berlutut, agar matanya sejajar dengan mata Nida.

“Nida sayang.. Aa sukaaaa banget sama kopiah ini..”

“Apa buktinya?” tantang Nida.

“Haaah..? Bukti..? Buktinya…….” Ali bingung.

“Aa besok pake kopiah itu ya. Pake juga ke kampus. Pasti keren!” ucap Nida riang.

Ali bengong.

“Tuh kan.. Aa ga mau!” Nida kembali cemberut.

“Iya.. iya.. Aa pake kopiah ini besok. Oke?” jawab Ali sambil tersenyum.

Nida memeluk kakaknya bahagia.

Keesokan harinya…

Ali tiba di kampus pukul 12 siang. Hari itu ada rapat KKN. Beberapa orang temannya sudah berkumpul di salah satu sudut kampus. Ali menghampiri mereka.

Teman-temannya yang sedang asyik ngobrol, baru ngeh akan kehadiran Ali ketika Norman berseru,

“Gilee.. si Ali pake kopiah!”

Ali langsung jadi pusat perhatian.

“Oh my God.. Sumpah ya.. sumpah ya.. lo ganteng banget…” sahut Intan yang terkenal blak-blakan itu.

“Addeuuu…” yang lain menyoraki.

Ali salah tingkah.

“Eh, gw mau solat dulu ya..” sahut Ali seraya meninggalkan teman-temannya.

“Gw ikut!” sahut Gama. Ia melompat dari duduknya, mengikuti Ali ke mesjid.

Teman-teman Ali memandang Ali yang menuju masjid dengan tatapan takjub.

“Gua seneng tuh, orang kayak gitu. Dugem sih dugem. Tapi solat gak pernah ketinggalan coy!” sahut Norman. Yang lain mengiyakan.

“Tapi.. penting ya, dia pake kopiah?” tanya Kujo.

Norman angkat bahu.

Di mesjid..

Mushola belum begitu ramai. Memang tidak banyak orang yang on-time sholatnya. Ali & Gama berdiri di shaf kedua, mendengarkan orang yang tengah iqomat. Begitu selesai iqomat, orang tersebut menyingkir, menyediakan tempat untuk imam. Tapi tidak ada seorang pun yang maju. Para jamaah saling melempar pandang. Sampai akhirnya, satu persatu menoleh kea rah Ali.

Ali menyenggol Gama dengan sikunya.

“Lo jadi imam, deh..”

“Tapi orang-orang nunjuk elo!” bisik Gama.

Ali tidak punya alasan untuk menolak. Huh.. pasti gara-gara orang liat gw pake kopiah ini, deh… gerutu Ali dalam hati.

Ali pun maju, merapikan shaf, & memimpin shalat.

“Allaaahu Akbar..”

Ali & Gama kembali ke tempat anak-anak berkumpul. Tinggal menunggu dua orang lagi untuk memulai rapat.

Ada orang lain disitu. Teman Kujo. Kujo memperkenalkannya pada Ali & Gama.

“Nah, kalo yang ini namanya Ali & Gama, yang paling soleh diantara kita-kita,” sahut Kujo pada Ian.

“Apa sih lo,” komentar Ali.

Ian mengangguk-angguk. Ia lalu bertanya.

“Eh, Al, gw mau nanya deh. Sebenernya, kenapa sih, Allah nyuruh kita solat?”

Ali kaget. Ia terdiam. Berpikir keras.

Teman-teman menoleh kea rah Ali. Menunggu jawaban apa yang akan ia kemukakan. Kenapa ya…? Sepengetahuannya, ketika Nabi Muhammad menerima perintah solat. Emang ga pake alasan. Duh, kenapa ya…? Ali bingung.

“Aaaahhh.. gimana sih lo, Al. Masak gitu aja ga bisa jawab. Malu sama kopiah!” sindir Kujo. Ali tak berkata-kata. Ia merasa sangat malu. Mungkin wajahnya udah kayak udang rebus.

“Lo percaya ga sih kalo Allah itu tuhan kita?” tiba-tiba Gama bertanya pada Ian.

“Percaya,” jawab Ian. Yang gw tanyain, kenapa Allah nyuruh kita solat. Kenapa solat..?”

“Gini. Kalo lo percaya Allah itu tuhan lo, lo ga berhak nanya kayak gitu.”

Ian heran.

Teman-teman lain diam memperhatikan.

“Sebagai zat yang nyiptain kita, Dia bebas nyuruh kita ngapain aja. Yang harus kita lakuin cuma nurut. Tapi apapun itu yang ia perintahkan, prinsipnya satu: itu demi kebaikan kita…”

Suasana hening.

Ali merenung.

“Eh, tuh Aldo & Ve udah dateng. Kita rapat yok!” ucap Kujo memecah kesunyian.

Mereka pun bergerak, mencari tempat yang cukup lapang untuk duduk melingkar.

“Jadi… Koordinator acaranya Intan, MCnya Kujo, LO pembicara Ve, Pembaca doanya.. belum ada. Siapa nih?” sahut Nana, ketua pelaksana program Buka Bareng.

“Gama aja…” Ali mengusulkan.

“Gama kan koor dokumentasi…” komentar Nana.

….

“Ali aja ya..?” sahut Nana, setelah menerima isyarat dari Intan & Kujo.

“Kenapa gw sih..? Gw ga bisa! Ga ah. Ga mau…!”” tolak Ali mentah-mentah.

“Siapa lagi, Al. Gak ada orang lagi. Udahlah, gw yakin lo pasti bisa…” Intan mendukung.

Ali cemberut.

Begitu rapat selesai, Ali menghampiri Nana.

“Lo yakin, gw jadi pembaca doa..? Gw ga bisa, Na. Serius gw…” sahut Ali dengan tampang memelas.

Nana menghela napas. Ia bersikap sabar.

“Al, lo muslim kan..? Masak lo ga bisa baca doa sih? Abis solat lo ngapain?”

“Ya… bisa, tapi…”

“Ya udah, gw tau lo bisa..”

“Doa apa…?”

Melihat reaksi Nana yang: sumpeh-lo-ga-tau-doa-apa? Membuat Ali sadar kalo ia salah pertanyaan.

“Ntar gw kasih lo teks doanya…” jawab Nana.

Ali tidak punya alasan lagi untuk menolak.

Malamnya.. di kamar Ali.

Ali menimang-nimang kopiah itu. Ia teringat kata-kata Kujo, “Malu tuh sama kopiah!”

Bukan malu sama kopiah Jo, ucap Ali dalam hati. Gw malu sama diri gw sendiri. Gw malu sama Allah. Ternyata gw belum jadi muslim sejati. Gw masih harus banyak belajar…

Ali lalu mengambil sebuah buku doa, dari Nana. Ia membuka halamannya & mulai menghafal.


Ali membacakan doa dengan lanc
ar di acara Bubar. Nana & teman-teman tersenyum bangga..