Aku Tidak Pernah Memberimu Ramuan Cinta

Aku tidak pernah memberimu ramuan cinta.
Lalu bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa kamu mencintaiku?
Rasa yang begitu besar dan dalam, katamu.

Aku tidak pernah memberimu ramuan cinta.
Maka aku heran ketika ketidakpedulianku, kejahatanku, dan kesemena-menaan diriku padamu tak membuatmu pergi.
Meski hancur hatimu, meski mendidih darahmu, meski sampai ubun-ubun kekesalanmu.
Kau selalu kembali.

Aku tak pernah memberimu ramuan cinta.
Lalu bagaimana bisa kau membayangkan kita hidup bersama selamanya?
Menua bersamaku, inginmu.
Dengan kulit yang mengeriput dan tubuh lemah terbungkuk-bungkuk.
Aku akan tetap mencintaimu, katamu.

Aku tak pernah memberimu ramuan cinta.
Maka aku nyaris tak percaya saat kau bilang tak apa aku berjalan dengan yang lain,
tak apa jika ingin berpisah denganmu,
yang meskipun itu akan menghancurkanmu,
tak apa jika itu semua membuatku bahagia.

Aku tak pernah memberimu ramuan cinta.
Jadi tolong jelaskan padaku,
mengapa engkau ada?

Alhamdulillah.. :)

Buat kamu yang “nyerap” banget isi buku Harry Potter, mungkin tahu, bahwa yang selama ini membuat ia terlindung dari kalimat jahat dan paling mematikan “Avada Kedavra” adalah mantra kuno dari ibunya. Pada dasarnya, bukan mantranya yang melindunginya, tapi cinta seorang ibu. Terkesan ga masuk akal memang (lagipula sejak kapan novel fantasy masuk akal? :D), tapi kadang-kadang, di saat saya menyadari bahwa saya masih dikaruniai kesehatan dan keselamatan, saat itu saya selalu teringat ibu saya yang pasti tiada hari tanpa mendoakan saya.

Beberapa hari terakhir ini saya tinggal di Jogja. Ada beberapa kejadian yang saya alami, yang membuat saya bersyukur sekali Allah masih melindungi dan menyayangi saya. Contoh sederhana, kerjaan saya kan mobile ya. Mengingat tingginya angka kecelakaan pengendara motor, bisa pulang ke kosan dalam keadaan sehat dan selamat (dan tanpa kena tilang :p) itu Alhamdulillah sekali..

Dua hari yang lalu STNK yang saya bawa juga sempat tercecer di sebuah rumah makan. Untung saya belum meninggalkan tempat itu. Saat sedang merogoh-rogoh saku dengan kebingungan, ketika berbalik saya melihat seorang pegawai yang menunjukkan bahwa STNK saya terjatuh di depan kasir. Waaaaa… Alhamdulillah…!

Keesokan harinya, saya menerima kartu ATM dan uang yang ditemukan di antara baju-baju cucian yang saya serahkan ke laundry. Jujur, saya gak menyadari ATM dan uang saya hilang. Kalau pihak laundry gak mengembalikan, saya pasti mengira kartu ATM saya tercecer. Uang yang ditemukan juga lumayan. Rp. 70.000! Gede banget itu untuk ukuran Jogja.

Saya ini memang ceroboh banget. Tapi Alhamdulillah ya.. Semoga Allah membalas kebaikannya, dan laundrynya semakin laris. Aaamiiin…!

Selain itu, ada kiriman makanan enak dari klien, ada cemilan yang kadang-kadang dikasih ibu kos, ada laptop yang nyala kembali setelah tadi malam sempat ngadat ga mau nyala. Ckckck..

Plus, ada Mas @61618351 yang berbaik hati ngasih peta Jogja yang lucu ini 😀

Alhamdulillah..
Alhamdulillah..
Alhamdulillah..

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
🙂

Beautiful Me

“Thx ya kaka yang cantik ini sudah mengabulkan keinginanku membaca fiksi cinta dr kak sinta..! (Duwie – my fans :p)

“iya, karna tadi pas mau nge-tag note ke Sinta tampak ada yang berbeda dari jilbabmu, penasaran terus diklik eeeh., ternyata bagus dan cantik.ihihi.,” (Indri – my best friend)

“Hei Ungu! Kamu cantik! Beneran!” (Sakinah – teman kampus yang terpukau melihatku memakai rok dan kerudung ungu)

Saya jarang sekali merasa cantik. Dulu, jika ada yang menyebut saya cantik, saya akan memasukkannya ke dalam salah satu dari 3 golongan: (1) Tukang gombal, (2) Tukang bohong, (3) Ada maunya. Soal kecantikan, saya memang lumayan minder. Cantikku di sebelah mana woy?

Tapi akhir-akhir ini saya bingung, gak tahu (atau ga ingin?) menyebut mereka yang bilang saya cantik sebagai tukang gombal apalagi tukang bohong. Selain karena mereka saya anggap baik, mereka juga tampak tulus (semoga. Hahahaa..)

Kadang-kadang, saya merasa bersalah karena merasa tidak cantik. Kesannya tidak mensyukuri karunia Allah. Padahal Allah memberi wajah dan tubuh sehat, muka yang jarang berjerawat dan ga alergi dengan kosmetik manapun, juga badan yang cukup proporsional. Saya bahkan gak bisa mengeluh tentang berat badan seperti cewek-cewek lain *ups* karena Allah memberi saya tubuh langsing. Alhamdulillah.

Tapi tetap saja namanya manusia. Kalau melihat yang berkulit lebih putih, hidung lebih mancung, bentuk muka oval, kulit wajah kinclong, gigi rapi, dan senyum maut, rasanya tuh.. Subhanallah.. *lalu nangis di pojokan* *lebay*.

Sampai kemudian, saya baca tweet dari @hurufkecil yang kira-kira begini bunyinya:

kamu cantik. jangan percaya kalau ada yang ngomong lain termasuk dirimu sendiri.

Jleb.

Membaca itu saya jadi teringat sebuah kalimat dari novel 2 karya Dhonny Dhirgantoro, kalau ga salah, “Jangan pernah meremehkan dirimu karena Tuhan pun tidak pernah.” *jleb lagi.


Saat ini saya masih “berjuang” untuk merasa cantik. Caranya?

1. Rajin merawat diri

2. Pakai baju yang rapi dan gak ngasal kayak dulu. Hehehehe..

3. Afirmasi, yaitu dengan bercermin, tersenyum, bersyukur dan mengucapkan “Alhamdulillah”, lalu berdoa, Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku.“*

4. Dengan melihat benda yang satu ini:

Saya menerima kalung ini dari seseorang, dan membuat saya merasa cantik mendadak. Dia tidak mengucapkan apapun saat memberikan ini jadi saya tidak bisa menuduh dia gombal atau bohong. Hahahahaaaa. Terimakasih, kamu.

Sejujurnya, jauh di lubuk hati terdalam *tsah*. Saya yakin seyakin-yakinnya SETIAP PEREMPUAN ADALAH CANTIK. Itu adalah bentuk pengakuan atas kebesaran dan kekuasaan Tuhan saya yang Maha Menciptakan. Gak berani ah bilang orang lain jelek. Nanti Allah marah. Gak berani juga bilang saya jelek, nanti jatuhnya kufur nikmat. Astaghfirullah.. (kenapa bahasannya jadi berat gini?)

Ya sudahlah.

Akhir kata, saya mau bilang, saya cantik.

Kalian juga, girls, you are beautiful. Mari bersyukur 🙂



Who says you’re not pretty

Who says you’re not beautiful

Who says – Selena Gomez


NB OOT

*Ternyata doa bercermin itu “tidak ada”. Hadis yang menyatakan bahwa doa di atas adalah doa bercermin, ternyata dhoif jiddan. Yang benar, doa tersebut berlaku umum. Bukan khusus dibaca saat bercermin saja. Sumber: www.voa-islam.com

Another Quick Update

1. Saya sedang melaksanakan Praktek Entrepreneur Lapangan (PEL) di sebuah cafe di Jatinangor. Tugas utama: admin twitter. Saya dulu pernah berkhayal, kerja sebagai penulis novel, nulis di cafe yang nyaman sambil online. Kegiatan PEL ini nyaris sama dengan khayalan itu, kecuali bagian “menulis novel” :P. Gapapa. Someday I will be. Someday.

2. Adik saya yang satu kosan dengan saya, keterima kerja di Jakarta. Huaaaa… saya gak bisa membayangkan berpisah dengannya. Nanti saya pinjem baju sama siaaappaaaa…?? *loh.
3. Saya pengeeeeeeeen banget nonton The Billionaire. Tapi di PEL ini harus masuk setiap hari. Bahkan hari Minggu itu wajib. Hiks.. kapan saya bisa nonton kalau gini caranya?
4. Orangtua saya ke Bandung! Hore! Mereka mengisi kamar kos saya dengan kulkas, cooler, dispenser, dan penanak nasi. Kamar jadi sempit banget dan terancam tagihan listrik bulan depan membengkak. Hahahaha… Nikmati saja. Alhamdulillah.. 🙂 Plus, pastinya momen favorit saya: BELANJA BAJU!
5. Nemu satu blog baru yang recommended: www.namarappuccino.blogspot.com karya @ericknamara. Saya suka mengutip postingan “Sekeping Frase” dan men-tweet nya dengan hashtag namarappuccino. Check them out, guys! 😀

6. Merasa harus ikutan penyusunan buku antologi Banceuy (Bandung Cendoler’s Euy). Harus bikin cerpen atau puisi. Kayaknya sih lebih cepat dan lebih mudah bikin puisi. Doakan saya yah. Semoga dapet ide dan mood oke buat nulis puisi. Amiiin YRA.
7. Sahabat saya sebentar lagi akan MELAHIRKAN..! Waaaaooow *ikut deg-degan*
8. Sahabat saya yang sebentar lagi melahirkan gak cuma yang di Bandung, tapi yang di Batam juga! *double deg-degan* 😀
9. Resolusi 2009 baru terwujud akhir tahun ini: punya domain sendiri! (sintamilia.com)
10. Resolusi 2011 ada yang belum terwujud. Gak mau dibahas. Trims :p
Sekian dan terima kamu apa adanya 😀

Behel Oh Behel

Beberapa hari terakhir ini saya galau, pakai behel gak ya?

Jadi begini, struktur gigi saya berantakan. Miring ke sana kemari karena space di gusi gak cukup untuk menampung gigi-gigi saya. Seorang teman saya yang mahasiswi kedokteran (sekarang koas), setelah melihat gigi saya, menyarankan pake behel. Seorang dokter gigi juga pernah menyarankan begitu. Tapi waktu itu saya abaikan karena saya belum sanggup bayar.

Sekarang, uangnya ada. Behel pun lagi ngetrend jadi saya gak akan sendirian mengalami penderitaan *halah. Tapi tapi..

Saya meramalkan, kayaknya minimal tiga gigi saya bakal dicabut. Rebutan tempat soalnya. Membayangkannya saja saya tidak suka. Gigi saya sehat wal’afiat loh! Oke lah dicabut kalau berlubang parah, atau posisi miringnya menyakiti bagian dalam pipi. Tapi gigi-gigi saya tuh baik. Ga lagi sakit. Kayaknya jahat aja kalau saya “membunuh” mereka. Apa salah merekaaa..? Ya kan? (alibi, padahal mah takut sakit :p)

Saya lalu mengadakan survei kecil-kecilan ke teman-teman, meminta dukungan mereka agar saya… TIDAK pake behel! Hahahaha.. Saya tanya mereka, “Penting gak sih aku pake behel?” Dan ini jawaban mereka.

Responden 1 (cowok) : “Kalau manfaatnya ga signifikan dan waktunya ga mendesak berarti belum penting.”

Kata responden pertama ini, uangnya mending buat modal usaha. Well, yang namanya cowok emang lebih gak concern ke penampilan dibanding cewek kayaknya. Lebih concern cari duit (bagus sih). Akhirnya saya tanya deh ke cewek-cewek.

Responden 2 (cewek): “Gak perlu,”

Responden 3 (cewek) : Menggelengkan kepala, “Untuk apa pake behel?”

Responden 4 (cewek, pake behel) : “Terserah, kalau menurutmu penting untuk meningkatkan kepercayaan diri. Kalau udah pede sih ga usah..” *jleb banget ini. Hwkwkwkwk

Responden 5 (cewek, pake behel) : “Perlu..” sambil ngangguk-ngangguk (Oh Nooo..!).

Responden 6 (cowok) : “Beheeeelll…? Hmm…”

Panjang banget deh komentar responden terakhir ini. Dia tidak menyarankan saya pake behel (YES!). Dia ceritain minusnya. Mulai dari: sakit, ribet, beli mahal-mahal tapi ga laku dijual lagi (ya iyyalah!), kelihatan lebih monyong (LOL), kalau makan suka nyangkut, sampai kalo kissing sangat menganggu (sesuatu banget yah). Plus, tentunya sebagai cowok dia juga bilang mending buat modal usaha, sedekah, umroh.. (Subhanallah sekali :D)

Gak mau nanggung, sekalian saya minta komentarnya tentang berantakannya gigi saya. Dan dia bilang.. “Ga ada yang salah dengan senyummu..”Aw aw.. *melting* Gosh, I like this guy :D. Puas banget lah sama jawabannya.

Jadi..

Saya tidak mau ikut-ikutan tren. Saya bersyukur diberi gigi-gigi yang lengkap, sehat, dan berfungsi normal (Alhamdulillah..). Semakin jarang orang yang ber-gingsul, semakin istimewa saya (hohoho). Eh, bener loh, teman saya (cewek) pernah ada yang request, gingsul saya jangan dihilangkan. Pemanis soalnya *blushing*.

Well, kayaknya saya gak akan pakai behel dulu. Nanti aja kalau udah nyobain kissing *eh? *plaaaak!

Me, My Gingsul and The Unperfect Teeth

“You are beautiful no matter what they say..”

(Beautiful – Christina Aguilera)

Jangan Paksa Saya Jadi Pengusaha!

Protes 1

Saya pernah melihat sebuah judul buku: Kalau Mau Kaya, Berhenti Sekolah Sekarang Juga! (kira-kira gitu deh, lupa tepatnya). Saya memang belum baca buku itu tapi saya pernah membaca tulisan yang ide intinya sama. Bahwa sekolah itu tidak membuat kaya. Bahwa banyak orang-orang sukses padahal gak sekolah, putus sekolah, atau drop out (DO). Banyak figur-figur yang dijadikan contoh, termasuk si penemu Facebook yang sekarang tajir tujuh turunan *berlebihan* meski DO dari kuliahnya.

Yeah, right.

Tapi plis dong, saya benar-benar tidak suka mereka melarang (?) orang bersekolah dan melanjutkan kuliah demi kekayaan dan (apa yang mereka sebut) kesuksesan.

Belajar dan menuntut ilmu adalah wajib. Tidak ada yang salah dengan orang yang memilih belajar di universitas sampai tamat, sampai S2, S3, PhD. Tidak ada yang salah dengan orang yang belajar demi kehausan akan ilmu pengetahuan, atau keinginan mengejar passion dalam mengajar dan menjadi ilmuwan.

Buat kamu yang meninggalkan bangku sekolah dan sukses jadi pengusaha, kamu keren!

Buat kamu yang rela “hidup miskin”, selalu berhemat, mencari beasiswa, demi pendidikan setinggi-tingginya, kamu HEBAT!

Protes 2

Sekarang lagi musim “kampanye” untuk jadi pengusaha sepertinya. Buku-buku yang berjejer di toko buku banyak yang “mengajari” itu. Bagus, sih, Indonesia memang butuh lebih banyak pengusaha. Tapi sejujurnya itu membuat saya merasa bersalah dan merasa “berdosa” karena (waktu itu) sama sekali tidak berniat dan berminat jadi pengusaha.

Saya pernah curhat ke seorang teman, “Saya maunya jadi penulis, ga mau jadi pengusaha. Gimana dong?”

Dia (yang “pro” pengusaha) menjawab, “Bikin sekolah penulisan aja kalau gitu,”

Zzzz…

Saya maunya NULIS, bukan me-MANAGE orang-orang untuk belajar dan mengajar nulis. Itu sama saja kayak saya mau jadi penulis skenario, terus disaranin jadi produser. Saya maunya berimajinasi, mengarang cerita, sambil ngetik di laptop, bukan pusing nyari duit buat produksi! *maap, agak gemes*

*cooling down*

Tapi baiklah…

Saya sedikit demi sedikit mengerti betapa “urgent” jadi pengusaha.

Saya tahu 9 dari 10 pintu rejeki ada di perdagangan.

Saya (sepertinya) tahu in the end hidup jadi pengusaha itu enak. Waktu kerja fleksibel, uang ngalir terus. Passive income.

Saya tahu bahwa seharusnya saya tidak egois melakukan hal-hal yang hanya menyenangkan buat saya diri sendiri, tapi juga bermanfaat bagi orang lain. Saya sebaiknya ikut membuka lapangan kerja.

Saya perlu jadi pengusaha.

Maaf,

mungkin ini hanyalah cara agar saya tidak terus menerus merasa bersalah karena menamatkan S1 lalu memilih menganggur saat ini (menganggurnya jangan dicontoh!), bukannya mengundurkan diri di semester 4 lalu mulai berjualan.

Mungkin ini hanyalah pembelaan saya yang mengaku sudah mengerti pentingnya jadi pengusaha, tapi toh belum juga memulainya.

Saya masih perlu waktu…

Eniwei, saya juga pernah baca, katanya kalau kita memang belum bisa jadi pengusaha, mintalah pasangan untuk berwirausaha. Pokoknya salah satu harus jadi pengusaha.

Nah, itu lebih solutif menurut saya. Hahaha..

Jadi gimana kalau kamu..

kamu yang di belakang itu..

iya kamu.. kamu pengusaha sukses kan?

Mau jadi suami saya?

Yuwk mariiii…

ckckckckck

I Have Literacy Hand (Part 2)

Jadi singkat cerita, sekarang saya lumayan yakin bahwa saya punya bakat dan minat di bidang tulis menulis.

TAPI, itu belum cukup.

Sepertinya semua orang pernah mendengar, bahwa bakat itu hanya 1% pengaruhnya pada kesuksesan. Sementara 99%-nya adalah kerja keras.
BENAR SEKALI.

Siaulnya, itulah masalah saya sekarang >.<

Saya tahu bahwa Allah menciptakan setiap manusia dengan bakat dan minatnya masing-masing bukan tanpa tujuan. Saya yakin ada ‘tugas’ yang diemban setiap manusia, termasuk saya, berkaitan dengan apa yang Allah anugerahkan itu.
Allah juga tak pernah meninggalkan saya berjuang sendirian. Ia sudah membukakan jalan. Misalnya, sekarang saya tahu ada @nulisbuku yang bersedia mengedit naskah kita, me-layout, mendesain cover, mendaftarkan buku kita hingga punya Nomor ISBN (entah apa itu), memajang buku kita di situsnya, hingga mencetaknya dan mengirimkannya kalau ada yang tertarik membelinya.
Kurang apa lagi?
Saya juga ‘dijerumuskan’ (oleh siapa saya ga ingat. Maap -__-. Kalau ga salah antara Fitri Gita Cinta & Tri Lego Indah; salah satunya) ke dalam kelas Cendol, dimana sering hadir para penulis terkenal yang sangat amat sabar dan berdedikasi tinggi membagi ilmu penulisan pada yang masih newbie seperti saya. Di kelas sering ada lomba menulis yang berujung pada pemuatan di media massa atau dibukukan. Isn’t it so cool?
Dan di sinilah saya sekarang.
Facebookan, twitteran, tumblring (alias just reblogging), stuck ketika harus menulis.
Boro-boro nulis buku, novel, apalagi skenario,
cerpen aja kagak. Sinopsis aja kagak.
Nulis postingan ini aja udah prestasi.
Padahal Benjamin Franklin pernah bilang,

Hide not your talents, they for use were made.
What’s a sundial in the shade?”
yang terjemahan bebasnya:
“Jangan sembunyikan bakatmu, mereka ada untuk digunakan.
Untuk apa gunanya jam matahari jika berada di bawah bayangan?”
*dalem*
Allah, ampuni hamba…
😥 😥 😥 😥 😥