Want A Magic Wand!

Sejak saya menonton Harry Potter 7 Part 2, saya selalu membayangkan tangan saya memegang tongkat sihir dan mengayun-ngayunkannya melawan penyihir jahat.

Saya pengen punya tongkat sihir seperti yang di film Harry Potter.

Serius.

Tidak ada di dunia nyata?

Tak apa. Yang mirip saja sudah cukup.

Saya tahu tongkat sihir yang seperti di film itu bisa dibeli di tempat yang menjual merchandise Harry Potter.

Ya, yang seperti itu.

Saya tahu dengan tongkat itu saya tidak bisa membuat benda terbang meski mengucap mantra “Wingardium Leviosa!”

atau mengambil benda dengan kalimat “Accio!”

atau melucuti senjata lawan dengan “Expelliarmus!”

Tak apa, itu tidak masalah.

Tapi sungguh, saya ingin punya tongkat sihir yang di ujungnya bisa menyala dan berfungsi senter seperti dimantrai “Lumos!”. Saya tahu benda itu ada. Saya pernah melihat behind the scene Harry Potter. Kru Art-nya membuat tongkat dengan lampu pada ujungnya, dengan sebuah tombol untuk menyalakannya.

Saya ingin tongkat sihir itu.

dan agar tongkat sihir saya bisa melindungi saya dari orang yang mengganggu saya..

sebenarnya saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik ke orang itu dalam jarak paling tidak 10 meter. Saya tidak menguasai elektronika jadi saya tidak tahu itu memungkinkan dibuat atau tidak. Tapi kalau itu tidak memungkinkan… saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik seperti raket nyamuk. Siapa yang saya sentuh dengan tongkat, dia akan kesetrum. Tegangan listrik yang rendah, tentu. Jangan sampai orang itu tewas. Yang penting dia shock , melepaskan saya sehingga bisa kabur.

Saya ingin punya tongkat sihir, yang menggunakan baterai, yang bisa menyala dalam gelap, dan bisa menjadi senjata untuk pertahanan diri saya.

I really want…


THIS!

Sumber gambar: karya pribadi. Boleh copas dengan menyertakan sumber.

PREMIERE

Sebelum cerita tentang acara premierenya, izinkan aku curcol dulu *boleh, boleh. Di film Flickering Light, aku menjabat sebagai sutradara Behind The Scene. Alias seksi dokumentasi. Sayangnya, BTS yang rencananya akan diputar saat premiere, tidak bisa dilaksanakan.
Kenapa?
Karena belum jadi!
*yaaaaaaahhhhh
**penonton kecewa.

Satu pelajaran yang aku dapat adalah, bahwa aku miss dengan ‘pasca produksi’. Selama ini aku menganggap pekerjaan BTS hanya merekam, memotret, dan menulis. Tapi bagaimana hasil perekaman, pemotretan, dan penulisan itu direkap, diolah, dan dipublikasikan, aku tidak memikirkannya dengan matang.

Aku menemui kendala teknis. Ga punya alat penyimpanan data yang aman dan ga punya komputer yang memadai untuk mengedit video. Aku sama sekali ga terpikir bahwa semuanya itu bisa menggagalkan produksi BTS. Well, my bad. Lain kali sebelum aku mengajukan diri jadi kru BTS, aku akan beli hardisk eksternal minimal 500 GB dan komputer yang layak untuk ngedit. Oh, dan tak kalah penting: waktu yang cukup untuk mengerjakan semuanya (sekarang aku nyaris tidak punya waktu untuk bikin film di luar pekerjaan).

Meskipun hasil karyaku berupa video BTS belum bisa diputar, aku tetap mengundang teman-temanku untuk datang dan menyaksikan FILMKU: Flickering Light (FL). Bagaimanapun, FL itu kan filmku juga dan di luar jobdesk BTS, ada, lah, keterlibatanku di dalamnya meskipun dikit: nyari pemain anak kecil dan minjemin clapperboard meski dipakainya sebentar. Heuheu..

Premiere Flickering Light diadakan hari Sabtu, 5 Maret 2011, di ruang 9009 bioskop kampus ITB. Kesanku tentang acara itu: “Oooo.. jadi gini toh yang namanya premiere..”

Aku sangat amat terharu dengan kehadiran sobat-sobatku. Yang paling berkesan adalah kehadiran Ijal dan Linto. Ijal tinggal di luar kota, dan kadang bolak balik ke Bandung. Sebenarnya minggu ini bukan jadwalnya ke Bandung. Tapi dia ingin memberikan dukungan padaku yang telah menghasilkan karya.

Sementara Linto, kami sangat jarang ketemu. Dan kalaupun ketemu, biasanya cuma pas acara reuni SMA. Tapi dia hadir untuk menjadi saksi kesuksesan aku (itu kata-kataku, bukan kata-katanya. Lebay ya? :p)

Selain mereka, ada Indri yang datang dari Lampung, ada juga sahabat lamaku, Tessa *bakal kujitak kalau dia sampai ga dateng*. Anak-anak kosan yang datang: Nurul, Ami, dan Ata, plus Zen.
Aku baru menyadari bahwa kehadiran mereka sungguh berarti. Aku merasa didukung. Dan dukungan itu rasanya menyenangkan! *terharu lagi*.

Aku teringat, seorang juniorku (sebut saja Gifar) pernah jadi penulis skenario di sebuah film, dimana film itu diputar di Blitz Megaplex. Aku dan teman-teman hadir menontonnya. Meskipun mesti bayar Rp. 25.000,-, tapi senang rasanya bisa menunjukkan dukungan padanya.
Nah, sekarang aku merasakan berada di pihak ‘yang didukung’.
Ternyata rasa senangnya 2x lipat!:D

I have a dream..

Setelah ini.. aku ingin bisa berkarya lagi, bikin cerita yang bagus dan menginspirasi, bikin film yang berkualitas.
Lalu..
Orangtuaku hadir di Premiere, dan seperti di film Sang Pemimpi yang di akhir film menuliskan “Dipersembahkan untuk ayah-ayah kami (Ayah Mira Lesmana, Ayah Riri Riza, dan Ayah Andrea Hirata): Ayah juara satu sedunia”, aku ingin sekali bisa menampilkan di filmku itu:

“Dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, Papa dan Mama juara satu sedunia.”
-Sintamilia-

(Berarti pilihannya aku harus jadi: produser/sutradara/penulis cerita yang bukunya bestseller)
*Amiiin*
😀

Syutingnya Kocak, Screeningnya Lebih Kocak

p { margin-bottom: 0.08in; }

Salah satu hal yang membuatku senang bekerja adalah karena ada kegiatan syutingnya. Aku selalu suka suasana syuting, terutama karena sering ada kejadian lucu dan kocak, yang bikin aku ngakak seperti sedang nonton OVJ. Heuheu.


Seperti syuting yang satu ini misalnya. Salah satu scene-nya menceritakan tentang para pramuniaga yang malah ngerumpi sehingga mengganggu customer.


Dialog dalam naskah sebenarnya hanya sedikit:
A : Dia kenapa?
B : Tau tuh. Patah hati kali. Ditawari makan ga mau *sambil makan Chitato*
A : Hahahaha… *tertawa keras hingga customer terganggu*

Nah, karena aku melarang mereka berhenti berdialog sebelum aku bilang ‘cut!’, jadilah mereka berimprovisasi seperti ini.
A : Dia kenapa?
B : Ga tau tuh. Patah hati kali. Ditawari makan ga mau. Hehehe
A : Hahahaha.. kok bisa?
B : Iya tuh, ditinggal pacarnya..
A : Ooo.. masak sih?
B : iya.. tau gak, PACARNYA DIPELET SAMA JANDA!
A : HWKWKWKWK… (ketawa beneran, lupa kalau lagi akting).

Sayangnya improvisasi keren itu harus diulang karena bukan cuma si A doang yang ketawa tapi semua pemain dan kru. Yuwk.

Syuting selesai..
Editing berlangsung (lumayan) lancar..

Nah pas screening tuh..
Atasanku menemukan 2 kebocoran fatal. Kebocoran kru dan kebocoran properti.

Kameramen tertangkap kamera. Cuma setengah detik, tapi tetap ketahuan 😀


Semoga customer ini cukup cantik untuk mengalihkan perhatian penonton dari tripod yang eksis banget nongol di tengah frame


Atasanku sih ngakak aja pas liat video jadinya.
Hwkwkwkwk…

Ya sudahlah ya..
Ayo kita syuting lagi 😀

Thanks To 89P

p { margin-bottom: 0.08in; }

Dua bulan yang lalu, aku bersama seorang sahabat makan siang di sebuah tempat makan penyedia steak, sekedar bertemu dan bertukar kabar. Aku ceritakan padanya bahwa aku telah berhasil membawa pulang ijazah, setelah berbulan-bulan aku ‘titip’ di kampus.

Kenapa aku berlama-lama mengabaikan ijazah? Karena saat itu aku belum mendapat pekerjaan, sehingga ketika orang lain bertanya dimana aku bekerja setelah lulus, aku bisa menjawab, “Masih revisi skripsi.. belum dapet ijazah :)” *sok jadi mahasiswa padahal pengangguran*

Tapi alasan itu sudah tidak bisa digunakan lagi tentu. Sahabatku, yang statusnya tidak jauh beda denganku, berkomentar,
Jadi masih mending aku lah ya.. ada kerjaan..” sahutnya ‘menyombongkan diri’ sebagai pengajar bimbel freelance.
Enggak juga. Aku kan bikin film :p” Aku mengingatkannya tentang keterlibatanku dalam 89 Project (89P).
O iya, ya..”

Pada akhirnya dia setuju kalau kami “beruntung” karena status kami bukan pengangguran 100%
(menghibur diri). Kami punya kegiatan.

Thanks to 89P karena “menyelamatkan” aku dari status pengangguran murni.

Kalau baca cerita di atas, kesannya aku mencatut nama 89P ya? Seolah 89P cuma jadi tamengku dalam
menjawab pertanyaan orang-orang. Seolah aku cuma nebeng nama dan sok eksis sebagai BTS*. Apalagi
wujud konkrit BTS sampai saat ini memang belum jadi, meskipun ga bisa juga dibilang ga ada sama
sekali.

Ketika syuting 89P berakhir, pertanyaan pertamaku adalah: “What’s next?” karena aku belum ingin
berhenti sampai di sini. Memang, kalau orang bertanya apa kegiatanku sekarang, aku bisa
menjawab dengan riang: “Kerja… ^_^”. Tapi ternyata aku kurang puas dengan jawaban itu.

Aku ingin, ketika orang lain bertanya, “Lagi sibuk apa, Sin?”
Maka aku akan menjawab,

“Kerja… ^_^ dan masih bikin film juga sama teman-teman.. :D”

Well, baiklah,
saatnya mengerjakan BTS 89P. Semangat!



*BTS=Behind The Scene=Dokumentasi proses produksi film

Sumber gambar: Gettyimages

Tiket Masuk Surga* Bisa Diambil Di Sini :)

Hai readers..!
Buat yang belum tahu nih, aku dan teman-teman sedang memproduksi sebuah film berjudul Flickering Light. Ini adalah sebuah proyek film non profit tentang Hemofilia.

Apakah Hemofilia itu? Banyak orang yang belum tahu, bahwa Hemofilia adalah kelainan darah dimana darah sulit membeku. Jadi kalau terluka, pendarahannya sulit berhenti.
Film ini dibuat dengan tujuan agar bisa menjadi media sosialisasi Hemofilia. Begitu.. 🙂

Nah, masalahnya adalah…
Bikin film itu mahal guys. Perlu dana beberapa juta nih. Dana yang terkumpul sekarang masih sangat minim. Jadi.. kalau ada di antara kalian yang berbaik hati mau membeli tiket ke surga*, silahkan memberikan donasi di sini.

Sekarang film ini sedang dalam masa syuting. Kalau mau tahu info lebih lengkapnya, silahkan langsung ke blog resminya ya.. Follow juga..

Akhir kata, terimakasih atas partisipasinya.. ^_^

*syarat dan ketentuan berlaku :p

Bikin Sinopsis

Om Produser memintaku untuk membuat sinopsis cerita Flickering Light (FL) buat dipublish di blog 89 Project. Huh, padahal kan sebenarnya itu adalah tugas penulis skenario. Sempat ada miskomunikasi antara produser-scriptwriter-aku yang bikin aku melempari mereka granat (iya, beneran aku ngelempar granat. Via facebook :p).

Tapi yah.. karena aku kasihan sama produserku itu, dan aku juga anak yang baik hati dan penurut, maka aku iyakan sajalah meskipun aku agak-agak ga ngerti gimana bikin sinopsis yang “menjual” seperti yang ia inginkan. Aku pernah bikin sinopsis FL di blog ini, tapi menurutnya itu terlalu to the point. Ia ingin yang seperti sinopsis novel.

Aku pun lalu ngebela-belain ke Gramedia untuk melihat contoh sinopsis di cover belakang novel-novel. Hmm.. menarik juga. Aku mencatat berbagai format penulisan sinopsis. Ada yang diawali kutipan atau dialog isi novel, ada yang mendeskripsikan konflik, mendeskripsikan karakter, uraian penjelasan cerita, ada juga yang mengambil sudut pandang tokoh utama. Semuanya menarik, meskipun ada beberapa format yang menurutku kurang bisa diaplikasikan untuk membuat sinopsis FL.

Begitu sampai rumah, aku mulai bereksperimen membuat sinopsis dengan bermodalkan skenario dan sinopsis versi scriptwriter. Dari rencana bikin 2 buah, ternyata malah jadi 4 buah sinopsis yang akan dipilih salah satu. Lumayan..

Keesokan harinya, papaku (yang malam sebelumnya mengantarku ke Gramedia dan tahu kalau itu dalam rangka bikin sinopsis) memberiku referensi How To Write A Synopsis yang ia dapat dari hasil googling. OMG, papi! Perhatiannya sering bikin aku geleng-geleng kepala 😀 .Tapi agak telat. Coz aku kan udah menyelesaikan sinopsisnya duluan. Heuheu.

Begitu aku kirim 4 sinopsis itu ke Om produser, ia langsung menyetujui rekomendasiku dan memilih sinopsis D. Seperti apa sinopsisnya? Silahkan cekidot di Synopsis: Flickering Light.

Bikin sinopsis ternyata lumayan fun juga. Dan sekarang aku mulai berencana membuat sinopsis untuk novelku nanti.

Amin 🙂

Thanks to Om produser, yang udah ngasih kesempatan buat aku untuk menggali potensi diri (Bahasanyaa..! Yuwk)

Thanks to scriptwriter yang udah bikin skenario bagus. Sinopsis yang bagus *muji diri sendiri* kan berawal dari cerita yang bagus. Bukan begitu? 😉

28 Ramadhan: Foto Yang (Semoga Tidak) Menghebohkan

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam keduapuluhdelapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.

Sumber dari sini

—–

Akhir-akhir ini fb ku agak sedikit ramai. Ada apa gerangan?
Ternyata teman-teman SMA-ku melihat fotoku yang sedang ‘joged’ di tempat karaokean.
OMG!

Sebenarnya saat itu aku sedang menyanyikan lagu ‘Geregetan’nya Sherina. Entah karena gayaku yang katro atau emang yang motretnya pinter milih timing, aku jadi terlihat lagi dangdutan. Siaul! Aku sampai harus meremove tag untuk mencegah semakin banyaknya teman-teman dalam friendlistku yang melihat foto itu.

Aku teringat sebuah peristiwa sekitar 2 tahun yang lalu.
Saat itu aku menjadi objek sebuah foto yang (kayaknya sih) berpotensi menimbulkan kehebohan.
Begini ceritanya…

Hari itu adalah H-1 peresmian Laboratorium Fotografi di kampusku. Aku dan beberapa orang teman membantu dosen menyiapkan ruangan laboratorium dengan memajang foto-foto karya mahasiswa.
Kami juga beberapa kali berfoto ria, mencoba background, kamera, dan lighting. ‘Laboratorium’ itu benar-benar jadi studio foto dan kami lah yang pertama kali mencobanya. Huahahaha..
*evil laugh*

Di ruangan itu ada sebuah lampu.. apa ya namanya? pokoknya lampu itu berada dalam sejenis kain menerawang yang besar, dan menghasilkan cahaya soft.
Ga tau apa nama lampu itu.
Maap, saya memang ga pinter fotografi :p

Sang dosen menunjukkan salah satu cara mempergunakan lampu itu, yaitu membuat foto siluet.

Kami lalu melakukan ‘uji coba’.
Saya berdiri di depan lampu itu bersama seorang cowok (sebut saja A). Berhadapan.
Sebenarnya ga benar-benar berhadapan, karena sebenernya kami berdiri bersisian dengan jarak setengah meter (ah, aku mengulang kata ‘sebenarnya’).

A berdiri di sebelah kananku, lebih dekat dengan lampu.
Aku berdiri lebih dekat dengan kamera.
Karena Lampu, A, aku, dan Kamera berada dalam 1 garis lurus, jarak setengah meter antara aku dan A tidak terlihat.

Perhatikan contoh foto di samping.
Apakah mereka benar-benar berhadapan?
Belum tentu.
Bisa saja posisi mereka sebenarnya adalah bersebelahan dengan jarak 1 meter.

Beberapa kali memotret untuk mendapatkan hasil yang sempurna, dengan pose yang sudah disepakati, akhirnya didapatkanlah foto ‘Sepasang kekasih sedang kissing’ yang kira-kira mirip seperti ini:

Great, huh?

Malamnya, hingga keesokan harinya, aku cemas.
Hey, what did the hell I do?
Kenapa aku mau difoto seperti itu?
Gimana kalau orang-orang banyak yang tahu?

Orang-orang yang ga tau behind the scene-nya pasti mengira aku benar-benar kissing sama A. Yah.. emang sih, wajah kami ga terlihat. Namanya aja siluet. Tapi kalau orang melihat foto-foto kami yang lain yang ga siluet, pasti tahu lah.
“Ini Sinta? Gila, sama si A? Paraaaaah!”

Aaaaaarrgghh.
Aku stres.

Tapi sampai saat ini sepertinya tidak terjadi apa-apa.
Semoga saja tidak apa-apa.
Semoga filenya HILANG. Hihi..
Amin.

Sumber gambar:
2 cewek -> blognya Frozzy
couple -> Free Printables