It’s Your Wedding Day The Movie

“Kuyakin akan pilihanku untuk bersamamu…”

Advertisements

Friendship Through The Years

Buat saya, foto di atas ini mengharukan sekali :’)
Sepuluh tahun selalu bareng, dari anak-anak hingga beranjak dewasa.
Gak kebayang gimana jadi mereka yang sekarang harus berpisah.
Pasti sedih banget.
Saya belum pernah punya hubungan persahabatan sepuluh tahun.
Hubungan saya dengan teman terdekat saya baru akan menginjak 9 tahun. Itu pun cewek dan kami kuliah di kampus yang berbeda. Ga sebanding lah sama Emma, Daniel, & Rupert.
Emma sendiri pernah bilang.. apa ya.. intinya bahwa ga banyak orang di dunia ini yang tahu bagaimana rasanya jadi dia (secara dia aktris dan menghabiskan masa remajanya di film Harry Potter yang fenomenal itu). Cuma dua orang yang ngerti karena punya pengalaman yang kurang lebih sama dengan dirinya, yaitu Dan & Rupert. Emma sampai nangis pas produksi film HP berakhir dan dia tahu pasti akan sangat merindukan syuting bersama dua sahabatnya itu.
Saya gak tahu detail persahabatan mereka di dunia nyata. Yang saya tahu persahabatan Harry, Ron, dan Hermione di film (di buku udah lupa >.<).
Satu hal yang saya perhatikan: MEREKA SUKA BERTENGKAR! Hahahahaha..
Harry & Hermione jarang sih.
Ron & Harry kadang-kadang.
Ron & Hermione lumayan sering.
Bagi saya pribadi, pertemanan/persahabatan kurang afdol kalau belum bertengkar. Pertengkaran itu seperti ujian. Kalau setelah bertengkar kita tetap bisa bersahabat seperti sebelumnya, maka bisa dikatakan kita memang benar-benar sahabat. Sebaliknya, kalau malah membuat hubungan memburuk, kita tahu sebatas apa hubungan kita.
Selain pertengkaran, jarak dan waktu juga bisa menjadi ujian. Ketika kita berpisah jauh, atau jarang sekali bertemu, kita akan tahu sejauh mana nilai persahabatan saat kita bertemu. Apakah canggung atau bingung mau ngobrol apa, ataukah akan curhat panjang lebar seperti saat dekat dulu seolah jarak & waktu yang pernah memisahkan itu tidak pernah ada?
Saya benar-benar salut sama orang yang bisa mempertahankan persahabatan sampai bertahun-tahun. Ujian pertengkaran masih bisa dilewati kalau saya dan sahabat saya sama-sama ikhlas memaafkan. Tapi kalau ujian jarak dan waktu… saya agak susah nih, meskipun sekarang saya mulai berharap terbantu dengan adanya internet.
Melihat persahabatan Golden Trio juga bikin saya punya teori *halah.
Sebuah teori tentang persahabatan dengan lawan jenis.
Mari kita sebut dengan “Teori Persahabatan Hermione”.
Begini bunyinya,
Seperti Hermione dan Ron, persahabatan bisa berubah jadi percintaan.
Seperti Hermione dan Harry, persahabatan bisa bertahan selamanya.
*Eaaaaaa
Sesuatu banget kan ya? Hehehehehe..
Eniwei, bagaimana kabar sahabatmu? 😉

The Host

Suatu hari, Sinta, Yusuf, dan Rama duduk di depan TV menonton sebuah film yang disewa dari Video Ezy *bukan iklan*.

Sinta : “Ini film horor loh..”

Di layar TV, muncul judul tanpa subtitle: THE HOST.

Yusuf : “HANTU. Ya teh?”

Sinta : “Bukaaaaaann! Ini tentang monster ikan,”

Rama : “Hantu itu GHOST,”

Sinta : “Pinteeeeerrr…!” *angkat jempol*

Yusuf : “Terus The Host apa dong artinya?”

Nah loh.

Apa ya..? Sinta berpikir.

Yang pasti The Host adalah buku karya Stephenie Meyer setelah The Twilight Saga.

Di buku itu sih artinya “Inang”.

Tapi kayaknya di film ini bukan itu deh artinya.

Jadi apa dong?

The Host.. Hostes…

Akhirnya Sinta pun menjawab dengan ragu,

Sinta : “Tuan Rumah.”

Rama : “Host itu PEMBAWA ACARA,”

Sinta : “PINTEEERR!” *angkat jempol lagi*

Cerdas banget ya Rama? Sebenarnya Sinta juga sempat terpikir “pembawa acara”. Tapi…

Yusuf : “Masak judul filmnya ‘Pembawa Acara’?”

Di layar TV muncul penampakan sang monster.



Sinta : “Yah… monster ikan itulah pembawa acaranya…”

Kemudian hening.


Catatan:

Sampai sekarang, makna kata The Host sebagai judul film itu masih menjadi misteri.

Sumber gambar: Forbidden Planet, The Mad Challenge.

Want A Magic Wand!

Sejak saya menonton Harry Potter 7 Part 2, saya selalu membayangkan tangan saya memegang tongkat sihir dan mengayun-ngayunkannya melawan penyihir jahat.

Saya pengen punya tongkat sihir seperti yang di film Harry Potter.

Serius.

Tidak ada di dunia nyata?

Tak apa. Yang mirip saja sudah cukup.

Saya tahu tongkat sihir yang seperti di film itu bisa dibeli di tempat yang menjual merchandise Harry Potter.

Ya, yang seperti itu.

Saya tahu dengan tongkat itu saya tidak bisa membuat benda terbang meski mengucap mantra “Wingardium Leviosa!”

atau mengambil benda dengan kalimat “Accio!”

atau melucuti senjata lawan dengan “Expelliarmus!”

Tak apa, itu tidak masalah.

Tapi sungguh, saya ingin punya tongkat sihir yang di ujungnya bisa menyala dan berfungsi senter seperti dimantrai “Lumos!”. Saya tahu benda itu ada. Saya pernah melihat behind the scene Harry Potter. Kru Art-nya membuat tongkat dengan lampu pada ujungnya, dengan sebuah tombol untuk menyalakannya.

Saya ingin tongkat sihir itu.

dan agar tongkat sihir saya bisa melindungi saya dari orang yang mengganggu saya..

sebenarnya saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik ke orang itu dalam jarak paling tidak 10 meter. Saya tidak menguasai elektronika jadi saya tidak tahu itu memungkinkan dibuat atau tidak. Tapi kalau itu tidak memungkinkan… saya ingin tongkat saya bisa mengalirkan listrik seperti raket nyamuk. Siapa yang saya sentuh dengan tongkat, dia akan kesetrum. Tegangan listrik yang rendah, tentu. Jangan sampai orang itu tewas. Yang penting dia shock , melepaskan saya sehingga bisa kabur.

Saya ingin punya tongkat sihir, yang menggunakan baterai, yang bisa menyala dalam gelap, dan bisa menjadi senjata untuk pertahanan diri saya.

I really want…


THIS!

Sumber gambar: karya pribadi. Boleh copas dengan menyertakan sumber.

Up In The Water

Lagi lihat-lihat majalah film, bertiga.

Sampai pada halaman yang memuat artikel film UP.

Sinta : Kalian udah pernah nonton film UP?

Yusuf : *menggelengkan kepala*

Achmad : Belum..

Sinta : Bagus loooh.. *angkat jempol*

Achmad : Di tempat penyewaan ada gak, Teh?

Sinta: Hmm.. ga tau..

Achmad : Kalau film yang tadi Teh Sinta sewa apa? Up In The Water?

Sinta & Yusuf: Up In The AIR!

Achmad : Yah, sama aja lah..

Sinta : -______-“

Sumber gambar: id-top10.com

Meng-keramasi Suster Keramas

Suster, rambutnya saya keramas ya.. Tapi lain kali kursi rodanya ditinggal aja..

Pertama kali melihat ni hantu suster (tadinya mau bilang Miss Kunti. Tapi kan bukan ya), aku langsung suka. Kreatif aja gitu. Pas banget sama baligonya.

Tadinya mau duduk di atas kursi. Tapi serem juga kayaknya. Lagian, ga mau samaan sama ABG2 yang foto dengan gaya persis di baligo. Hehe.

Jadi posenya gitu deh: Meng-keramasi suster keramas 😀

Btw, aku ilfeel liat trailernya. ga banget.

PREMIERE

Sebelum cerita tentang acara premierenya, izinkan aku curcol dulu *boleh, boleh. Di film Flickering Light, aku menjabat sebagai sutradara Behind The Scene. Alias seksi dokumentasi. Sayangnya, BTS yang rencananya akan diputar saat premiere, tidak bisa dilaksanakan.
Kenapa?
Karena belum jadi!
*yaaaaaaahhhhh
**penonton kecewa.

Satu pelajaran yang aku dapat adalah, bahwa aku miss dengan ‘pasca produksi’. Selama ini aku menganggap pekerjaan BTS hanya merekam, memotret, dan menulis. Tapi bagaimana hasil perekaman, pemotretan, dan penulisan itu direkap, diolah, dan dipublikasikan, aku tidak memikirkannya dengan matang.

Aku menemui kendala teknis. Ga punya alat penyimpanan data yang aman dan ga punya komputer yang memadai untuk mengedit video. Aku sama sekali ga terpikir bahwa semuanya itu bisa menggagalkan produksi BTS. Well, my bad. Lain kali sebelum aku mengajukan diri jadi kru BTS, aku akan beli hardisk eksternal minimal 500 GB dan komputer yang layak untuk ngedit. Oh, dan tak kalah penting: waktu yang cukup untuk mengerjakan semuanya (sekarang aku nyaris tidak punya waktu untuk bikin film di luar pekerjaan).

Meskipun hasil karyaku berupa video BTS belum bisa diputar, aku tetap mengundang teman-temanku untuk datang dan menyaksikan FILMKU: Flickering Light (FL). Bagaimanapun, FL itu kan filmku juga dan di luar jobdesk BTS, ada, lah, keterlibatanku di dalamnya meskipun dikit: nyari pemain anak kecil dan minjemin clapperboard meski dipakainya sebentar. Heuheu..

Premiere Flickering Light diadakan hari Sabtu, 5 Maret 2011, di ruang 9009 bioskop kampus ITB. Kesanku tentang acara itu: “Oooo.. jadi gini toh yang namanya premiere..”

Aku sangat amat terharu dengan kehadiran sobat-sobatku. Yang paling berkesan adalah kehadiran Ijal dan Linto. Ijal tinggal di luar kota, dan kadang bolak balik ke Bandung. Sebenarnya minggu ini bukan jadwalnya ke Bandung. Tapi dia ingin memberikan dukungan padaku yang telah menghasilkan karya.

Sementara Linto, kami sangat jarang ketemu. Dan kalaupun ketemu, biasanya cuma pas acara reuni SMA. Tapi dia hadir untuk menjadi saksi kesuksesan aku (itu kata-kataku, bukan kata-katanya. Lebay ya? :p)

Selain mereka, ada Indri yang datang dari Lampung, ada juga sahabat lamaku, Tessa *bakal kujitak kalau dia sampai ga dateng*. Anak-anak kosan yang datang: Nurul, Ami, dan Ata, plus Zen.
Aku baru menyadari bahwa kehadiran mereka sungguh berarti. Aku merasa didukung. Dan dukungan itu rasanya menyenangkan! *terharu lagi*.

Aku teringat, seorang juniorku (sebut saja Gifar) pernah jadi penulis skenario di sebuah film, dimana film itu diputar di Blitz Megaplex. Aku dan teman-teman hadir menontonnya. Meskipun mesti bayar Rp. 25.000,-, tapi senang rasanya bisa menunjukkan dukungan padanya.
Nah, sekarang aku merasakan berada di pihak ‘yang didukung’.
Ternyata rasa senangnya 2x lipat!:D

I have a dream..

Setelah ini.. aku ingin bisa berkarya lagi, bikin cerita yang bagus dan menginspirasi, bikin film yang berkualitas.
Lalu..
Orangtuaku hadir di Premiere, dan seperti di film Sang Pemimpi yang di akhir film menuliskan “Dipersembahkan untuk ayah-ayah kami (Ayah Mira Lesmana, Ayah Riri Riza, dan Ayah Andrea Hirata): Ayah juara satu sedunia”, aku ingin sekali bisa menampilkan di filmku itu:

“Dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, Papa dan Mama juara satu sedunia.”
-Sintamilia-

(Berarti pilihannya aku harus jadi: produser/sutradara/penulis cerita yang bukunya bestseller)
*Amiiin*
😀