Tidak Pantas

Saya baru kena tegur Allah.

KataNya saya terlalu sering memikirkan tentang jodoh.
Padahal Ia sudah mengaturnya.
Jadi seharusnya saya memikirkan-Nya saja.
Ah, malu saya jadinya *blushing*
Ia memang Maha Pencemburu.
Ia ingin kita mencintai-Nya dan memikirkan-Nya di atas segalanya.
Tapi sungguh hanya Dia dan hanya Dia yang layak mendapatkannya.
Memikirkan doi lebih sering dibanding Dia?
Sungguh tidak pantas,
tidak pantas,
tidak pantas.

Kita Menghamba Pada…?

Dapat sms bagus nih dari teman, makanya aku share di sini…

Jika seorang hamba di pagi dan sore hari tidak mempunyai keinginan apapun kecuali Allah SWT semata, maka Allah akan memikul seluruh kebutuhannya.
Tapi jika seorang hamba di pagi dan sore harinya tidak mempunyai keinginan apapun kecuali pada dunia, maka Allah akan membebankan padanya semua yang menjadi keinginannya.
Allah akan meninggalkannya dan menjadikan hatinya sibuk dari ketaatan pada-Nya dengan mengabdi pada manusia sesamanya.

Ketahuilah, setiap orang yang menolak dari menghamba pada Allah, maka ia akan diuji dengan penghambaan pada sesama makhluk, mencintai, dan mengabdinya (Ibnu Qayyim, Al Fawaid)

Lagi, Tentang yang Terlarang di Luar Nikah

Tidak; aku tidak bermaksud bersikap sok suci.

Tidak; aku, yang belum pernah melakukan itu, tidak akan menganggap diriku lebih baik daripada mereka.

Tidak, aku tidak akan bilang bahwa karena ini aku akan masuk surga, sementara mereka akan masuk neraka.

Seorang perempuan pezina saja diampuni dosanya karena memberi minum anjing yang kehausan, dan ulama yang rajin beribadah bisa saja ditolak masuk surga karena riya yang tak disadarinya.

Tidak; aku tidak bermaksud menghakimi mereka.

Tidak; sebenarnya aku tidak mau peduli. Terserah apa yang ingin mereka lakukan.

Tapi jujur saja, aku MERASAKAN sesuatu (tolong jangan salahkan aku, karena aku tak tahu bagaimana mencegah munculnya perasaan-perasaan ini)

Aku merasa sesak. Malu. Sedih. Kecewa. Khawatir. Takut.

Dan semua yang negatif itu terakumulasi menjadi satu: menyakitkan.

Aku memang naif.

Bahkan mungkin terlalu naif.

Kalau mereka (atau kalian) menertawakanku, tertawa saja. Aku akan ikut tertawa.

Hidupku memang “ga seru”, “ ga asik”, dan “membosankan”.

Aku pun tak sempurna.

Aku pun pernah salah, pernah khilaf.

Tapi setidaknya aku berusaha keras untuk tidak membuat Allah murka,

untuk tidak mencoreng muka orangtua,

untuk tidak memberi contoh buruk bagi adik-adikku dan orang lain,

untuk tidak membuat teman-temanku sedih dan kecewa,

untuk tidak menyerah dikalahkan syaitan laknatullah.

Setiap orang bebas menentukan pilihan,

sekaligus harus bertanggungjawab atas segala resiko yang ditimbulkan karena pilihannya itu.

Satu hal yang aku tahu pasti, dan aku yakini,

Keberkahan akan kita dapatkan jika kita menjalani hidup sesuai aturan-Nya.

Itu saja.

*ditulis dengan menahan rasa sakit,

setelah mendapat “berita buruk” dari seorang teman.

Astaghfirullah..

Astaghfirullah..

Astaghfirullah…

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya.

Amin.



10 Ramadhan: Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-10: Allah memberikan anugerah kepadanya,berupa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Sumber dari sini

—–

Aku membaca sebuah postingan si blog teman, di mana dia bercerita tentang impiannya untuk menjadi wanita karier. Hmm.. menarik. Meskipun impiannya sangat berbeda dengan impianku (emang siapa yang bilang harus sama? :p)

Kalau dia ingin jadi wanita kantoran yang mapan,
aku ingin jadi ibu rumah tangga 🙂

Pernah ada yang komentar
“ya elah.. itu sih PASTI lah, kita jadi ibu rumah tangga!”
hehe.. ketahuan deh males kerja kantoran. Hihihi..

Tapi bukan berarti aku ga mau kerja sama sekali.
Mau kok.. Mau banget.
Tapi yang kerjanya bisa di rumah.
Jadi pengusaha, misalnya 😀

Tapi tetap, kalau ada hal yang paling ingin aku lakukan di masa depan adalah mengurus keluarga. Seperti Mama.

Aku ingin menjadi ibu dari (perhatikan!) 3 orang anak, yang sulung laki-laki, dengan selisih umur 3 tahun dengan 2 adik di bawahnya. Anak tengah laki-laki, anak bungsu perempuan. Keduanya kembar. (Hohohoho.. detailnya berlebihan yee? hehe)

Aku ingin menjadi ibu yang setiap pagi memasak dan memastikan semua anggota keluarga berkumpul dan makan bersama. Seperti Mama, mengajarkan bahwa “sarapan adalah WAJIB”, kecuali kalau lagi puasa 😀

Aku ingin menjadi ibu yang mempelajari ilmu parenting dengan serius dan mendidik anak-anakku dengan cara terbaik yang bisa aku lakukan.

Aku ingin menjadi ibu yang mengenal dan mengarahkan bakat anak-anaknya dengan menyediakan pendidikan formal dan non-formal yang mendukung minat mereka.

Aku ingin menjadi ibu yang bisa hadir pada kegiatan-kegiatan di sekolah mereka, acara perpisahan, acara pertunjukkan, atau pertandingan olahraga dimana mereka bisa menunjukkan padaku, “Lihat! Aku bisa!”

Aku ingin menjadi ibu yang bisa mengajarkan agama dengan baik, dan menjadikan salat berjamaah sebagai tradisi keluarga.

Aku ingin menjadi ibu yang mendongeng setiap malam sebagai pengantar tidur. Seperti yang dulu sering Papa lakukan untukku dan adik-adik.

Aku ingin menjadi ibu yang menjadi tempat curhat anak-anakku, bahkan hingga mereka remaja dan mendewasa.

Aku ingin menjadi ibu yang mencetak generasi sholeh dan sholehah, cerdas, sukses, dan bahagia.

Ah..
Impianku sederhana ya?
Hanya ingin menjadi ibu yang berdedikasi pada keluarga.
hmm..
tentunya diawali dengan menjadi istri yang baik, dong 😀

Bagaimana denganmu? =)

2 Ramadhan: Doa Berbuka, Mestikah Diganti?

Pesan sponsor:
Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-2: Allah swt memberi pengampunan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya jika keduanya mukmin (orang yang beriman)

—–

Sodara-sodara! Tahu tidak, ternyata doa berbuka puasa yang “Allahumma laka shumtu wa bika amantu.. ” itu sumber hadisnya lemah loh!

yang benar itu ini:
Dzahabdh-Dhama-u wab-Talatil-‘Uruuqu wa Tsabatal-Ajru Insyaa Allaah
(Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala insyaa Allaah)

Dalilnya ini:

Dari Ibnu ‘Umar : Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka (puasa) beliau mengucapkan :

Dzahabdh-Dhama-u wab-Talatil-‘Uruuqu wa Tsabatal-Ajru Insyaa Allaah
(Telah hilang dahaga, telah basah urat-urat, dan telah tetap ganjaran/pahala insyaa Allaah)”

(HR. Abu Dawud no. 2357, Nasa’i 1/66, Daruquthni dan ia mengatakan sanad hadits ini hasan, Hakim 1/422, dan Baihaqi 4/239; dan Syaikh Al-Albani menyetujui apa yang dikatakan Ad-Daruquthni).

Sumber: Indonesian Community

Wuaduuuuuh..
trus kenapa selama bertahun-tahun kita diajarinya yang “Allahumma laka shumtu ya..?”
kan susah kalau mesti ganti sekarang..

bagaimana ini?
menurut kalian gimana?

1 Ramadhan: Teman Adalah Hadiah

Pesan Sponsor:
Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-1, terlepaslah ia dari dosa-dosanya seperti ketika ia baru dilahirkan oleh ibunya.

—–

Hari ini aku sms-an dengan seorang sahabat lama. Sebut saja Oki (Setiana Dewi. Yuwk. Hehe)
Kami berbicara tentang beberapa topik sampai akhirnya ia bilang ingin reunian.
Tapi ketika aku bilang bahwa salah satu ‘peserta reuni’ adalah Rifky (Balweel :D)-bukan nama
sebenarnya-, Oki langsung berubah pikiran dan membatalkannya.

Hey hey, what’s wrong with Rifky? tanyaku padanya.
Tapi Oki hanya menjawab “Mmm.. nothing…”

Si Oki ini memang sebelumnya pernah juga menghindari teman kami yang lain, sebut saja Jay,
tanpa alasan yang jelas.
Tapi sikapnya terhadap Rifky menjadi menarik bagi aku karena Oki adalah ORANG KESEKIAN yang tampak malas bertemu Rifky!

Aku kemudian teringat beberapa waktu yang lalu, saat aku mendapat ‘pujian’ karena berteman dengan Rifky. Aku merasa pujian itu lebay karena.. hey, making friend is easy, rite?
Masa’ cuma karena temenan doang aku dipuji?

Tapi pembicaraanku dengan Oki membuat aku mendapat sebuah asumsi:
Sepertinya memang tidak semua orang bisa berteman dengan Rifky..

Bagi aku, teman itu seperti hadiah.
Yang namanya hadiah, ya terserah yang ngasih dong?
Kadang-kadang ada hadiah yang menurut kita ‘enggak banget’. Tapi kan hadiah gitu loh, pasti diberikan dengan maksud yang baik dari pemberinya.

Begitu juga dengan teman. Aku gak memungkiri ada saja teman yang menyebalkan atau tidak cocok sama aku. Tapi bukan berarti aku langsung ‘membuangnya’ kan? Hadiah itu seharusnya diterima dengan senang hati. Maka aku berusaha untuk menerima teman-temanku apa adanya.

Si Rifky ini, misalnya. Ia mungkin memiliki beberapa sifat yang bikin orang ingin mencekiknya
(lebay). Tapi aku tahu, sebenarnya dia baik dan tidak bermaksud buruk sama orang lain.

Kasihan amat deh si Rifky..

Aku lalu berpikir,
bagaimana kalau aku di posisi Rifky?
Bagaimana jika ada orang, yang tidak suka padaku, tanpa aku sadari?
Yang menghindariku karena kehadiranku menganggunya?
Pasti sedih banget..

Ah, ya Allah..
Jagalah perilaku hamba agar tetap lurus,
agar tidak menyakiti orang lain..
agar menjadi orang yang selalu ditunggu kehadirannya..
agar menjadi orang yang bermanfaat..

Amin.