Alih Profesi

Quick update aja. Saya sudah berhenti kerja kantoran dan sekarang lagi belajar jualan di Gasibu tiap Minggu pagi. Huehehehehe..

Idenya adalah dari teman saya, Dihyah. Dia yang nyiapin barang, beli peralatan, sekaligus yang koar-koar dan melayani pembeli.

Dibantu oleh Galih sebagai investor (?) dan supir pengangkut barang. Huahahahaha.. Peace, ah, Galih ^_^v
Galih juga bantuin unpack-packing barang 🙂

Saya? Oh saya bagian mempermanis lapak aja. Kan gersang tuh kalau cowo semua. Huahahahaha…

Kami jualan kaos muslimah, gamis, kemeja cowok untuk dewasa dan anak-anak. Semuanya murah meriah paling mahal cuma 50 ribu perak!
Mampir ya ke lapak kita, di depan gedung dwi warna, antara Museum Geologi & Pusdai.

See ya!

Advertisements

Dari Home Business: Kecab Ijo

Home Business (Hombis) merupakan suatu kegiatan praktek di Young Entrepreneur Academy (YEA) dimana siswa belajar menentukan dan membuat produk, mengemas, memasarkan, hingga membuat laporan keuangan.

Kecab Ijo (Kentang Cabe Ijo) adalah salah satu dari tiga produk Home Business YEA Batch 13 selain Pendekar Makaroni (Juara 1) dan Kacang Telur Pedas Arachis (‘Juara’ 2). Ya, Kecab Ijo memang menempati ‘juara’ ketiga.

Kecab Ijo yang sempat dinamai Kentang Galau ini adalah makanan pendamping nasi yang konon kalau di Bandung lebih populer dengan sebutan kentang mustofa. Kentangnya berbentuk stik tipis yang dibumbui. Kecab Ijo versi awal cukup enak apalagi kalau ditambah teri dan kacang tanah *berkhayal*. Huehehehehe…

Di tiga hari pertama Hombis, Kecab Ijo mendapat masalah pelik yang seolah tak ada solusinya: dalam kemasan, kentangnya melempem dalam waktu tak lebih dari 24 jam! Bagian marketing jadi sulit menjualnya dan justru menderita kerugian. Karena tak menemukan solusi, mereka sempat ingin berganti produk. Sayangnya, YEA tidak mengizinkan. Peraturan tetap peraturan, dilarang mengganti produk di tengah Hombis.

Satu minggu berjalan, YEA mengadakan review. Tiga kelompok mempresentasikan progresnya masing-masing. Mulai dari pencapaian target produksi & penjualan, hingga kendala-kendala apa saja yang dihadapi.

Kecab Ijo yang saat itu tampak madesu (:p), mendapat masukan dari kelompok lain. Saya lupa detilnya (dan gak ngerti juga sih). Intinya, ada yang memberi saran bagaimana mencegah kentang melempem meski dimasukkan dalam kemasan plastik. Tim Kecab Ijo menampung semua saran dan berjanji akan mencobanya.

Beberapa waktu kemudian…

Jreng jreng..!

Wujud Kecab Ijo berubah. Secara tampilan, jadi lebih ‘ciut’ tapi jauh lebih kering. Gak terlihat berminyak seperti sebelumnya. Teksturnya lebih renyah. Rasanya enak dan gurih. Bagi saya, dibanding dua produk lain, Kecab Ijo adalah sang juara dari segi rasa.

Penjualan Kecab Ijo pun meningkat. Bahkan di sebuah seminar dimana tiga produk Hombis YEA 13 membuka stand, penjualan Kecab Ijo lebih banyak dibanding Arachis! Waow.

Satu minggu setelah review YEA itu, Hombis berakhir. Meskipun penjualan membaik, dibanding produk lain omset Kecab Ijo tetap berada di peringkat paling bawah, yang menurut saya lebih dikarenakan permasalahan internal (SDM). Produknya sendiri sudah cukup baik.

Setelah Hombis, tak ada kewajiban untuk melanjutkan produksi. Namun, Kecab Ijo ternyata masih banyak yang mencari. Akhirnya Kecab Ijo melanjutkan produksi berdasarkan pesanan. Itu pun dengan syarat “tukang masak”nya (sebut saja namanya Dina) lagi mood dan ada waktu luang.

Pernah Dina membawa 6 bungkus Kecab Ijo yang udah dipesan. Ternyata itu kurang. Pesanan yang sebenarnya lebih banyak dari jumlah bungkus yang dia bawa. Belum lagi yang tidak memesan, ikutan mupeng melihat Kecab Ijo ‘berseliweran’ *halah, yang sayang sekali tidak bisa ia beli saat itu juga. Hihihi..

Inilah kenapa saya pernah nge-tweet, “Sumpaya ni makanan enak banget dan langka.” Yang udah mesen aja waiting list, apalagi yang belum mesen? J

Saya sangat berharap Kecab Ijo tetap eksis untuk seterusnya. Amiin.

Nah.. berhubung saya lagi ngidam Kecab Ijo dan akan gak efisien kalau Dina bikin 1-2 bungkus buat saya doang, gimana kalau teman-teman ikutan pesan dan nyicip? Dijamin enak! Kalo ga enak kasih saya aja biar saya yang abisin. Heuheu.

Go Kecab Ijo gooo…!

*Arachis murtad*

Home Business (2)

Production

Minggu pertama semua anggota sibuk produksi. Mulai dari mengupas bawang putih, ngulek, menimbang bahan, mencampur adonan, sampai menggoreng. Gak pernah sekalipun bisa mencapai target per hari 80 tabung.

Ruang Produksi Arachis

Minggu kedua, kami merekrut tim produksi dua orang. Dengan bantuan orang yang lebih expert dan penggunaan blender untuk menggantikan ulekan (heuheu), kapasitas produksi bisa mencapai 200 bungkus per hari (!)

Packaging

Seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya, awalnya kemasan Arachis adalah tabung. Lalu kemudian diganti jadi plastik sablon supaya harganya bisa lebih murah. Menyablon plastik ternyata membutuhkan waktu beberapa hari. Jadi dalam masa peralihan *tsah, Arachis pake plastik + stiker.

Kami salah memilih orang untuk menyablon. Hasil sablonan gak sesuai harapan dan kami pun komplain. Jadi pelajaran aja sih..

Bagian packaging

Marketing

Sayang sekali penjualan kami tidak memenuhi target. Tapi setelah dievaluasi, banyak banget pelajaran yang didapat dari pengalaman ini. Antara lain:

1. Untuk produk baru, ga bisa seenaknya menentukan harga. Saat pricing, harus memperhatikan juga harga kompetitor dan “harga psikologis” konsumen (harga yang layak menurut konsumen).

2. Selera orang beda-beda *yaealaaaah

3. Dua minggu ini (ternyata) masih dalam masa riset, trial & error. Produk belum fix untuk disebarluaskan ke pasar.

4. Cara paling efektif untuk memasarkan produk seperti ini adalah melalui reseller dan membuka stand di event-event.

5. Cara paling tidak efektif (selama Home Business) adalah menitipkannya di warung karena cashflownya sangat amat lambat. Mencari warung yang tepat juga gak mudah.

Bagian Marketing lagi bantuin ngulek merica :))

Finance

Pencatatan keuangan gak terlalu bermasalah sepertinya. Maklum, dipegang oleh orang yang ahli: si cici. Hihihi..

Pemasukan, pengeluaran, belanja, HPP, utang, piutang, dll.

Berdasarkan laporan keuangan yang ia buat, net profit Arachis selama Home Business adalah… 13ribuan! Haaaa? Kok bisa? Hahahahaa… saya juga tidak mengerti pokoknya seperti itu lah. Total omset 2jutaan. Gak menang, pastinya. Dan kami jadi kelompok paling “bangkrut’! :))

Well, sejujurnya aku tidak puas. Terutama pada kinerja diri saya sendiri sebagai ketua. Tapi saya pastikan saya (dan teman-teman) mendapatkan “pelajaran”. Oh iya dong, udah keluar duit buanyak banget, rugi dong kalau gak dapet ilmu dan pengalamannya. Betul tidak? :p *menghibur diri*

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak pada rekan-rekan satu tim saya. Kalian semua keren banget. We had a good teamwork and I love you all *eaaaaa. Mohon maaf atas segala kekurangan. I’m sorry and thank you so much ;’)

Pada penasaran ga sih sama muka-muka mereka? Hehehehe..

Here we are..

Dari bawah ke atas:
Tallia (Finance), Sinta (Director), Ripin (Packaging), Febri (Production), Chandra (Marketing)
NB:
Yang penasaran pengen nyicipin Arachis, bisa pesan via @Arachiss 🙂

Selling Competition YEA 13

Nama saya Sintamilia *halah!*. Saat ini saya sedang kuliah di Young Entrepreneur Academy (YEA) Bandung angkatan 13. Karena saya udah lulus S1, teman-teman mengira kuliah lanjutan saya ini setara S2. Salah besar! Saya tidak tertarik S2 dan sejak lama ingin kuliah yang memberikan ilmu praktis, ga cuma teori kayak di kampus yang sebelumnya.

Dulu yang sempat kepikiran adalah kuliah film di luar. Tapi prioritas hidup saya berubah. Saya jadi ingin pengusaha. Karena itulah saya memilih kuliah di sini, yang menjanjikan akan banyak praktek entrepreneurship.

Dan inilah praktek pertama kami, tepat sebulan sejak hari pertama kuliah. Yaitu: Selling Competition!

Satu angkatan (kelas) yang berjumlah 16 orang dibagi jadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok diberi modal 30kg cokelat (!) untuk dijual selama 5 hari. Untuk menjadi pemenang, barang harus habis terjual dan meraih omset terbesar. Hadiahnya: Omset tim yang kalah semuanya dikasih ke tim yang menang. Sesuatu banget kan? Hohohoho..

Coklat yang siap dijual

Tim pertama (yang menang) meraih pendapatan omset terbesar Rp. 8,762,000. Wow! Fantastis! Kelompok ini punya satu orang marketer hebat yang terancam ga makan sampe akhir bulan kalau ga menang. Hehehe. Gak heran dia “ngotot” harus menang. Semua orang yang dikenal di teleponin. Berani malu banget deh! Salut! Mereka memang pantas jadi pemenang.

Tim ketiga mendapatkan omset paling kecil, Rp. 3,266,000. Tapi saya paling iri dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Kalau kelompok pertama banyak melakukan telemarketing, kelompok ketiga ini banyak turun ke jalan, menemui orang baru, mencari customer tak dikenal, sampai buka lapak ala kaki lima 😀 Challenging banget lah! KEREN!

Bagaimana dengan kelompok saya? Jangan tanya! Ancur paraaaaaahh!. Hwkwkwkwk. Yang jelas saya cukup puas mendapatkan omset Rp. 944,000 sendiri. Bagi saya itu prestasi banget.

Berhubung semua omset yang kami dapat diserahkan pada yang menang, bisa dibilang saya bangkrut (modal bikin packaging, komunikasi, & transportasi gak balik). Gak papa, bangkrut adalah sebuah pembelajaran. Bangkrut segitu mungkin ga seberapa dibanding “dunia nyata” nantinya. Jadi yah.. mari belajar ikhlas dan lapang dada J

Untuk merayakan keberhasilan kami semua yang meraih total omset Rp. 16,896,000, kelompok yang menang memutuskan untuk mentraktir teman-teman sekelas di Hanamasa. Horeeeee…!!! \^_^/

I love YEA 13 :*