SINGAPORE!

Wooohoo…
Pas dua bulan berturut-turut gak ngeblog sama sekali! Ckckckck *bersihin sarang laba-laba di blog ini*
Pada kangen gak sih?
Haaa..? Enggak?
Ah, kamu lain di bibir lain di hati. Hihi.. *geer*

Banyak momen yang tak terekam selama saya ninggalin blog.
Habis gimana ya.. lagi sering galau euy *halah!
Saya gak mau blog ini berisi curhatan yang terlalu pribadi atau kebanyakan galau.
Jadilah saya menunggu masa-masa galau itu berlalu.. *eaaa

Peristiwa paling “penting” yang terjadi dalam kurun waktu 2 bulan terakhir ini adalah…
1 DAY TRIP TO SINGAPORE!

Kenapa “penting”? Karena ini pertama kalinya saya pergi ke luar negeri! Huhuhu… *terharu norak*

Saya amat sangat bersyukur sekali ya. Allah tuh Maha Baik, mengizinkan saya ke Singapore bareng keluarga, komplit, bahagia dan bersenang-senang. Alhamdulillah.. makasih ya Allah.. Terimakasih.. :’)

Bersama mama papa juara satu sedunia :’)

My beloved family :* (minus si Nurul)
Si Nurul :))

Happy! Happy! Happy!

Advertisements

The Host

Suatu hari, Sinta, Yusuf, dan Rama duduk di depan TV menonton sebuah film yang disewa dari Video Ezy *bukan iklan*.

Sinta : “Ini film horor loh..”

Di layar TV, muncul judul tanpa subtitle: THE HOST.

Yusuf : “HANTU. Ya teh?”

Sinta : “Bukaaaaaann! Ini tentang monster ikan,”

Rama : “Hantu itu GHOST,”

Sinta : “Pinteeeeerrr…!” *angkat jempol*

Yusuf : “Terus The Host apa dong artinya?”

Nah loh.

Apa ya..? Sinta berpikir.

Yang pasti The Host adalah buku karya Stephenie Meyer setelah The Twilight Saga.

Di buku itu sih artinya “Inang”.

Tapi kayaknya di film ini bukan itu deh artinya.

Jadi apa dong?

The Host.. Hostes…

Akhirnya Sinta pun menjawab dengan ragu,

Sinta : “Tuan Rumah.”

Rama : “Host itu PEMBAWA ACARA,”

Sinta : “PINTEEERR!” *angkat jempol lagi*

Cerdas banget ya Rama? Sebenarnya Sinta juga sempat terpikir “pembawa acara”. Tapi…

Yusuf : “Masak judul filmnya ‘Pembawa Acara’?”

Di layar TV muncul penampakan sang monster.



Sinta : “Yah… monster ikan itulah pembawa acaranya…”

Kemudian hening.


Catatan:

Sampai sekarang, makna kata The Host sebagai judul film itu masih menjadi misteri.

Sumber gambar: Forbidden Planet, The Mad Challenge.

Tired But Happy

Jadi pengangguran pas bulan puasa itu ternyata enak. Sumpah! Hehehe. Bisa bangun siang. Bisa tidur kapan aja kalau ngantuk. Enak tho? Tapi saya tidak menyarankan kalian jadi pengangguran. Kerja keras adalah kebutuhan.

Sahabat saya yang sudah menikah pernah bercerita bahwa mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu capek. Lebih capek daripada pekerjaan dia dulu di bank. Padahal kerja di bank itu lumayan terforsir juga tuh tenaga dia. Teman kami bahkan ada yang keguguran karena kecapekan mengerjakan urusan rumah! *Innalillahi.. 😥

Sebagai orang yang bercita-cita menjadi istri dan ibu yang baik *eaaaaa, saya pun ‘latihan’ hari ini. Gak sengaja sih.

Diawali dengan perintah Mama untuk membangunkan adik-adik jam 06.45 WIB. What? Biasanya jam segitu kan saya masih tidur ya (bulan puasa neh!). Tapi kemarin adik-adik saya gak ke sekolah gara-gara kesiangan (Mama juga kesiangan). Jadilah saya yang paling bisa bangun dengan bunyi alarm, yang diberi amanat membangunkan mereka. Baiklah.

Bangun jam 4, sahur, internetan sampai jam 6, tidur-tiduran di kasur, niatnya pengen tidur beneran. Tapi belum sempet masuk ke alam mimpi, alarmnya udah bunyi! Gile.

Bangunin adik-adik, nyetrika baju seragam, jam 8 baru bisa tidur.

Nah, pas bangun siangnya, mulai deeeh…

Karena mesin cucinya rusak, saya disuruh nyuci pakai tangan -___-”

Biasanya cuci baju adalah “mainan” Mama dengan mesin cucinya. Kalau di kosan, seringnya laundry. Kebayang betapa shock nya saya, mencuci tumpukan baju 5 orang dengan cara manual. Sampai tiga “kloter” booook! Zzzzz… Cape gile. Untung lagi gak puasa *eh

Dilanjutkan dengan mencuci piring bekas makan sahur.

Terus..

ng..

ngapain lagi ya?

Jemur baju.. *pastilah!

Terus apa lagi ya..

Kok itu doang? Tapi udah cape banget rasanya.

Gimana kalau ditambah bersih-bersih rumah, nyapu+ngepel, nyetrika cucian segunung, dan masak? Ngebayanginnya aja mau pingsan.

Tapi saya senang. Setidaknya tenaga saya terpakai untuk sesuatu yang berguna. Setidaknya saya membantu mengurangi beban kerja Mama. Selama tadi saya kerja sih, si Mama tidur mulu (tapi ga tau jangan-jangan pas saya tidur si Mama kerja. Hahaha)

Inilah yang pernah saya inginkan ketika dulu saya masih berstatus “kerja”. Saya ingin di rumah, berbakti pada orangtua, membantu Mama.

Seumur hidup saya belum pernah punya waktu sebanyak ini untuk membantu beliau (meskipun tetep lebih sering internetan sih *dikeplak). Pernah di suatu masa, mungkin ketika saya dan adik-adik masih kecil, gak ada pembantu, Mama tampak begitu stres. Sering marah-marah dan merasa dianggap pembantu. Dipikir-pikir, emang semuanya kerjaan untuk pembantu sih. Ngurus rumah yang selalu berantakan, ngurus anak banyak yang semuanya minta perhatian…

Sedih..

Sekarang sih Mama udah jauh lebih santai. Anak-anaknya udah pada gede. Udah bisa disuruh ini itu. Tubuhnya makin gemuk (kata orang berarti makin makmur dan happy. Amin). Rumah gak seberantakan dulu. Dia punya banyak waktu untuk istirahat, tidur, nonton TV, bahkan ibadah.

Saya senang melihat Mama saya sekarang.

Dan saya masih ingin berbakti padanya.

Masih ingin membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Tidak apa-apa saya capek, yang penting saya senang.

Apalagi mengingat capek saya sekarang tidak seberapa dibanding capek Mama dulu,

atau capek saya nanti kalau sudah berkeluarga.

I’m tired and very happy.. 🙂

25th Wedding Anniversary

Seorang gadis ditinggal pergi kekasihnya yang menikah dengan perempuan lain. Hatinya begitu patah. Ia kini mengerti mengapa sang ibu tidak pernah merestui hubungannya. Insting sang ibu begitu kuat, pemuda itu tidak baik baginya.

Melihat putri bungsunya begitu sedih, sang ibu mengajaknya salat malam. Bersama-sama mereka berdoa agar sang gadis segera mendapatkan laki-laki yang lebih baik.

Beberapa waktu kemudian, muncul seorang pemuda yang tertarik dan mendekati sang gadis.

“Nah, kalau sama yang ini, Mama merestui,” ucap sang ibu.

“Apaan sih, Ma.. dia cuma teman…” sang gadis mengelak.

Sang gadis tak menyangka, pemuda itu serius dan berniat menikahinya. Seseorang yang pada awalnya ia anggap sekedar teman, ternyata takdir telah menggariskan bahwa mereka berjodoh.

Tanggal 9 Agustus 1986, keduanya menikah. Sampai sekarang, 25 tahun kemudian, mereka hidup bahagia dan dikaruniai empat orang anak: Sinta, Isnia, Yusuf, dan Rama.




Happy 25th Anniversary!

Ya Allah, limpahkan rahmat-Mu, berkahilah keluarga ini, jadikanlah kami keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah sampai akhir nanti.

Wahai Tuhan Kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari siksa api neraka…

Amin.

Menikmati Momen

Saya senang bisa menghabiskan waktu di hari pertama puasa ini dengan keluarga inti saya.

Saya lupa kapan terakhir seperti ini.
Enam tahun yang lalu mungkin, saat saya belum kuliah.

Saya bisa berada di sini saat ini karena kuliah saya sudah selesai, dan pekerjaan saya pun sedang ‘libur’. Yah, meskipun di rekening saya tinggal seribu perak (beneran!) tapi saya senang setidaknya kami sekeluarga bisa berkumpul dan tertawa bersama selayaknya keluarga harmonis lainnya *eaaaa.
Err..
Sebenarnya saya tidak tahu mau nulis apa lagi.
Hanya ingin kembali menulis blog saja ^_^

Up In The Water

Lagi lihat-lihat majalah film, bertiga.

Sampai pada halaman yang memuat artikel film UP.

Sinta : Kalian udah pernah nonton film UP?

Yusuf : *menggelengkan kepala*

Achmad : Belum..

Sinta : Bagus loooh.. *angkat jempol*

Achmad : Di tempat penyewaan ada gak, Teh?

Sinta: Hmm.. ga tau..

Achmad : Kalau film yang tadi Teh Sinta sewa apa? Up In The Water?

Sinta & Yusuf: Up In The AIR!

Achmad : Yah, sama aja lah..

Sinta : -______-“

Sumber gambar: id-top10.com

Candil "Preman"

OVJ Awards.

Candil Seurieus tampil dan menyanyi.

Achmad: Teh, ini preman ya?

Sinta: …

Sinta: Dia Rocker!

Papa, Mama, Yusuf: *ngakak*

Achmad: Kok nyanyinya teriak-teriak?

Sinta: Ya emang rocker kayak gitu.. -____-“

-live report nonton bareng OVJ Awards di rumah-