Cashflow Game

Agenda kelas hari ini adalah bermain Cashflow Game! Keren banget permainannya. Game ini diciptakan oleh Robert T. Kiyosaki berkaitan dengan bukunya yang berjudul The Cashflow Quadrant. Kita belajar mengatur arus kas sebagai seseorang yang bekerja aktif, kemudian sedikit demi sedikit mengumpulkan passive income hingga nilainya lebih dari total biaya (pengeluaran) per bulan dan bergelar bebas finansial, terus “main-main” di investasi sampai kekayaan kita berlipat-lipat dan meraih impian. Cool!

Maaf foto agak blur karena blur adalah fitur *alibi* :p

Sekilas game ini mirip permainan Monopoli. Ada papan bermain, uang-uangan, melempar dadu, menjalankan bidak, pemberian gaji, transaksi dengan bank, kartu-kartu peluang dan pengeluaran (kalau di Monopoli ada Kesempatan dan Dana Umum). Bedanya, di Cashflow Game kita bisa punya anak (semakin banyak anak, pengeluaran bertambah :D), bisa di-PHK, dan kalau cerai uang kita ludes (saya ga ngerti apa hubungannya cerai dengan uang ludes. Udah jatuh tertimpa tangga pula itu mah yak. Ckckck…).

Cara ngumpulin uang? Ada gaji, saham, real estate, dan bisnis. Pinter-pinter lah kita mengalokasikan uang tunai yang kita punya untuk investasi. Siapa yang nanti pada akhirnya berhasil meraih impian atau mencapai pertambahan cashflow 50.000 dolar, maka dialah pemenangnya.

Juara pertama di kelompok saya. Kalau udah jadi milyuner dan bebas finansial, tidur pun uang tetap ngalir. Enak toh? Siapa mau? 😉

Dari lima orang pemain (dalam satu papan), saya meraih juara keempat! *jiaaaaaah. Hahahaha.. Eits, gapapa dong. Yang penting saya berhasil meraih impian saya: Menghadiri Festival Film Cannes! Cihuuuy!

Bidaknya berbentuk tikus. Di sebelahnya itu adalah keju untuk menandai petak impian kita :D. Btw, saya mau ke festival film di luar negeri bukan sebagai aktris yah. Tapi sebagai kru di balik layar. Penting tuh dicatet :p

Kata fasilitator, kami akan memainkan game ini lagi nanti setelah menerima materi Accounting. Siiip..!

Kalau kamu penasaran dan pengen nyoba game ini, main aja ke YEA, Jl Teuku Angkasa No. 26 Bandung. Ajak teman-teman kamu, sediakan waktu seharian dan uang 50ribu perak per orang *gubraaaks!* :p Eh tapi ini seriuuuus. Kalau tertarik, mention aja saya di twitter yak (@sintamilia), kita kopdar dan main bareng 😉

Seeya!

Advertisements

Creative Promotion YEA 13: WE WON!

Creative Promotion adalah proyek kedua setelah Selling Competition. Satu kelas (17 orang) dibagi menjadi empat kelompok. Fasilitator membuka kesempatan untuk siapapun (kecuali yang sudah jadi ketua di Selcom) untuk menjadi pemimpin grup di Crepro ini. Empat orang teman saya mengajukan diri. Mereka berempat lalu hompimpa, dan memilih sendiri siapa saja yang mereka inginkan untuk jadi anggota timnya. Salah satu dari mereka, Ripin, menunjuk saya untuk bergabung. Well, makasih loh atas kepercayaanmu, Pin 🙂


Kami semua diberikan sebuah kasus nyata, tentang restoran Bali yang selama dua bulan terakhir sepi pengunjung. Kami diminta menganalisis usahanya dan membuat strategi promosi yang kreatif dengan (pura-puranya dikasih) budget 2 juta untuk masa satu bulan promosi. Kelompok yang menang akan dipilih oleh sang Manager resto dan hadiahnya makan bareng Pak Jaya Setiabudi (Owner YEA, penulis The Power Of Kepepet), terserah dimana. Hohohohoho… Boleh nih.

Singkat kata singkat cerita… KELOMPOK KAMI MENANG…! \^_^/

The Winners: (Kiri-Kanan) Sinta, Chandra, Ajus, Ripin

Sebenarnya sih, ide kelompok kami gak terlalu istimewa. Saya pribadi merasa data yang didapat masih sedikit dan kurang mendalam. Tapi kami (terutama saya) menomorsatukan efektifitas. Jadi kami rekomendasikan untuk optimalisasi sosial media dan membuat event untuk mengundang crowd. Eventnya pun lumayan asik (menurut saya): Bali Dance Performances! (gini-gini saya mantan penari Bali loooh ;p). Alhamdulillah sang owner ngasih nilai maksimal (5) masing-masing untuk poin Efektifitas & Kreatifitas ide. Yes!

Pengen cerita di balik layarnya nih.

Segera setelah proyek Creative Promotion diumumkan, saya menerima info kalau Hima Mankom (jurusan saya dulu) ngadain seminar Creative Digital Marketing. Pas banget! Saya pun merelakan kocek demi mencuri ilmu dari sana (dan memang beneran terpakai di crepro!).

Saya juga konsultasi dengan sahabat saya yang lumayan ekspert soal Advertising. Lumayan.. kepake juga idenya.

Tapi salah satu rahasia paling gedenya sih..
saya sudah pernah dikasih tugas kayak gini! Hahahahaha.. mata kuliah Komunikasi Konsultatif. Bikin strategi marketing juga, sampai begadang, sampai menginap di kampus. Lebih dahsyat, lebih susah dan lebih “ancur”. Gagal banget waktu itu. Tapi cara dan proses berpikirnya ya sama. Produknya apa, cocoknya buat target pasar yang seperti apa, dan bagaimana mengkomunikasikannya biar sampai ke target yang dimaksud.

Tentunya gak dipungkiri, ilmu dari YEA-nya juga terpakai. Kritis banget fasilitator kami. Harus detail, harus jelas, harus kena sasaran, dsb. Lumayan bikin stres lah.

Senangnya, kelompok saya santai. Terutama karena ketua kelompoknya juga “slow”. Di banding kelompok lain, kelompok saya yang durasi ngumpulnya paling sedikit. Hwkwkwkwkw. Bagi saya itu penting banget. Kenapa? Karena kuliah di sini sangat amat padat sampai-sampai susah ada waktu buat diri sendiri *aih*. Jadi kalau gak ngumpul kelompok, kan saya bisa refreshing gitu loh. Hohohohohoho…

Ngomong-ngomong tentang kelompok, saya dapat tim yang oke banget. Ada Ripin, sang ketua yanggood listener dan jago desain. Ada Chandra yang berwawasan luas dan kreatif buanget dapat ide “Yes We Ikan” dan “Ikan Perjuangan” (jangan tanya apa maksudnya. Cuma Allah yang tahu :D). Ada Ajus juga yang karena dari Bali, ngerti banget gimana narik anak muda buat ke Lounge & Bar nya tuh restoran. Kalian semua keren, guys! :bd


Intinya.. hari ini saya senang sekali. Siap-siap mimpi indah ah… Bakal ditraktir makan di mana ya.. hmm… 🙂














Selling Competition YEA 13

Nama saya Sintamilia *halah!*. Saat ini saya sedang kuliah di Young Entrepreneur Academy (YEA) Bandung angkatan 13. Karena saya udah lulus S1, teman-teman mengira kuliah lanjutan saya ini setara S2. Salah besar! Saya tidak tertarik S2 dan sejak lama ingin kuliah yang memberikan ilmu praktis, ga cuma teori kayak di kampus yang sebelumnya.

Dulu yang sempat kepikiran adalah kuliah film di luar. Tapi prioritas hidup saya berubah. Saya jadi ingin pengusaha. Karena itulah saya memilih kuliah di sini, yang menjanjikan akan banyak praktek entrepreneurship.

Dan inilah praktek pertama kami, tepat sebulan sejak hari pertama kuliah. Yaitu: Selling Competition!

Satu angkatan (kelas) yang berjumlah 16 orang dibagi jadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok diberi modal 30kg cokelat (!) untuk dijual selama 5 hari. Untuk menjadi pemenang, barang harus habis terjual dan meraih omset terbesar. Hadiahnya: Omset tim yang kalah semuanya dikasih ke tim yang menang. Sesuatu banget kan? Hohohoho..

Coklat yang siap dijual

Tim pertama (yang menang) meraih pendapatan omset terbesar Rp. 8,762,000. Wow! Fantastis! Kelompok ini punya satu orang marketer hebat yang terancam ga makan sampe akhir bulan kalau ga menang. Hehehe. Gak heran dia “ngotot” harus menang. Semua orang yang dikenal di teleponin. Berani malu banget deh! Salut! Mereka memang pantas jadi pemenang.

Tim ketiga mendapatkan omset paling kecil, Rp. 3,266,000. Tapi saya paling iri dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Kalau kelompok pertama banyak melakukan telemarketing, kelompok ketiga ini banyak turun ke jalan, menemui orang baru, mencari customer tak dikenal, sampai buka lapak ala kaki lima 😀 Challenging banget lah! KEREN!

Bagaimana dengan kelompok saya? Jangan tanya! Ancur paraaaaaahh!. Hwkwkwkwk. Yang jelas saya cukup puas mendapatkan omset Rp. 944,000 sendiri. Bagi saya itu prestasi banget.

Berhubung semua omset yang kami dapat diserahkan pada yang menang, bisa dibilang saya bangkrut (modal bikin packaging, komunikasi, & transportasi gak balik). Gak papa, bangkrut adalah sebuah pembelajaran. Bangkrut segitu mungkin ga seberapa dibanding “dunia nyata” nantinya. Jadi yah.. mari belajar ikhlas dan lapang dada J

Untuk merayakan keberhasilan kami semua yang meraih total omset Rp. 16,896,000, kelompok yang menang memutuskan untuk mentraktir teman-teman sekelas di Hanamasa. Horeeeee…!!! \^_^/

I love YEA 13 :*

Hari Ini, Satu Tahun Yang Lalu

I’m dead
But I’m happier than my previous life
No more tears

16 Januari 2010.
9.13pm

Pa..
masih banyak banget printilan2 skripsi yang belum dikerjain..

dua orang responden wawancaranya belum selesai..
transkrip hasil wawancara belum dibikin..
bab 4 & 5 masih revisi..
sistematika penulisan.. ada panduannya tapi saking detilnya sinta pusing sendiri..

konfirmasi hasil wawancara ke responden belum..
Huaaaaa… stres..! 😦

pengeeeen banget bisa ngundurin jadwal sidang.
tapi ga bisa, lah.
the show must go on

sebenernya sih merasa siap buat sidang..
kan di sidang mah yang penting bisa ngomong..

tapi ya itu…
skripsi sinta bakal ga lengkap.. 😦

klo dosennya belum ngijinin lulus gimana?
=((

hiks
hiks
Message sent to Dad

16 Januari 2010.
11.19pm.
Message received from Dad
Yang penting..optimalkan Ikhtiar plus doa..siapa tahu Allah memberi kemudahan dan kelancaran…Amin

17 Januari 2010

Aku pusing.
Terlalu banyak yang harus dikerjakan.
Terlalu banyak kekurangan
Terlalu membingungkan
Aku tidak siap sidang

Aku menangis.

18 Januari 2010
1.56am

jam 01.30 WIB
Dan sinta masih bingung bagaimana merevisi Bab 4 & 5 ini.
Transkrip masih belum selesai. Padahal Sinta udah men-delete beberapa responden biar ga banyak bikin transkrip.
Tetap saja.

Tinta printer habis.
Masih buanyak bgt yang harus di print.
Padahal 6 eks. skripsi harus dikumpulin paling lambat jam 10.00 WIB di Jatinangor.

Sinta dari kemaren2 pengen begadang.
Baru bisa begadang malam ini.
Tetap saja.
Otak Sinta juga susah diajak mikir jam segini.

Sinta belum siap, Pa. 😦
Bukannya Sinta takut sidang.
Semata-mata karena Sinta memang merasa belum mampu mempertanggungjawabkannya.
Belum siap lahir batin.

Ibaratnya mau perang,
Sinta bukannya takut sama musuh,
tapi memang sinta belum selesai berkemas-kemas,
belum menguasai senjata.

Kalau sinta paksa sidang selasa,
takutnya sinta bahkan ga tau argumentasi apa yang bisa Sinta pake,
karena toh Sinta sendiri merasa apa yang sinta tulis di skripsi itu belum memuaskan untuk dianggap benar.

Sinta pengen mundurin tanggal.
kalau boleh (dan kalau jurusan juga mengijinkan)
sinta pengen sidang skripsi tanggal 2 Februari..

Gimana, Pa?
Message sent to Dad

Aslm. Ibu, revisi Bab 4 & 5 sy blm selesai. Msh m’pelajari ttg kategorisasi.
Transkrip wawancara blm slesai semua. Sy mrasa skripsi sy blm siap utk sidang bsk.
Klo sy mundurin tgl sidang bs ga y, bu? Mnurut ibu bgmn?
Message sent to Pembimbing 1 @05.45 WIB

Setelah mengirim sms itu, aku berbaring. Mencoba tidur.
Teh Ana menyuruhku bangun dan melanjutkan skripsiku.
Aku bilang padanya kalau aku tidak mengerti tentang kategorisasi yang harus dibuat untuk perbaikan skripsiku.
Aku telah memutuskan untuk tidak sidang besok.
Tapi ia kemudian membantuku membuat kategorisasi
Ia juga menyuruhku meminta bantuan anak-anak kosan yang hari itu nganggur, buat bantuin aku menyelesaikan pernak-pernik skripsi.
Dan diriku yang lain, tidak rela aku menyerah lalu tidur kembali
Tubuhku ingin bergerak.
Berusaha melakukan apa yang aku bisa.
“Kerjakan saja sekarang, berhasil atau tidak, lihat saja nanti.”
Maka aku pun menulis skripsi lagi.
Dan meminta tolong Putri & Ami membuatkan transkrip wawancara

Aku mengumpulkan skripsi ke jurusan pukul 3 sore.
Terlambat 6 jam dari waktu yang ditentukan.

Pulangnya, aku menemui Nisa & Dg. Masih di kampus.
Dan aku pun menangis di depan mereka.
Sekali lagi menyatakan bahwa aku tidak siap sidang.
Skripsiku belum selesai!

***

I’m sorry for rejecting your call, bicky.
I just don’t wanna let you hear me cry.
Message sent to Bicky

Do you have alter ego?
Another different person live in you?
I have one.
And she pushing me in front of lions without any weapon
How come she do that to me?
Message sent to Bicky

I’ve choose to die.
Messages sent to Bicky

***

19 Januari 2010

Pukul 8.30 WIB,
Ketua sidang menanyakan kesiapanku.
Hatiku ragu.
Namun atas nama konformitas dan formalitas, aku menjawab, “Siap”.

Dan terjadilah.
Tak penting aku ceritakan detailnya.

***
I’m dying.
Message sent to bicky
***

Aku habis tercabik-cabik
Sakit.

Aku menangis lagi.

Bukannya aku takut tidak lulus.
Kelulusan hanya soal waktu.
Kalau tidak lulus saat ini, berarti ada saat yang lain.

Aku sedih semata-mata karena aku mengecewakan orang tuaku.
Aku sedih karena aku belum memaksimalkan kemampuanku saat menulis skripsi.
Aku sedih karena menyadari kesalahan dan kemalasanku selama ini.

Ampuni hamba, Ya Allah…
Ampuni hamba..
Astaghfirullah..

Pukul 16.50 WIB
Aku dinyatakan tidak lulus.
Tapi aku tidak menangis lagi.

Allah selalu memberikan yang terbaik.
Aku selalu percaya itu.

Aku pulang bersama Nisa, Indri, Dg, dan Ernest,
yang menemaniku sidang dari pagi.
Bercanda dan tertawa sepanjang perjalanan.
Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur hari itu.

I’m dead.
But I’m happier than before
No more tears
Message sent to all of you

Ceritanya,
Tulisan ini aku publikasikan di facebook tanggal 20 Januari 2010,
hanya 15 orang Very Important Person On My Friendlist yang aku tag & aku perbolehkan membacanya. Semuanya memberikan motivasi dan dukungan.

Hari ini, 1 tahun yang lalu, aku mengulang sidang skripsi, dan dinyatakan LULUS.
Alhamdulillah.. 🙂

*Tulisan ini mengalami editing ulang tanpa mengubah substansi

Mengejar Impian Itu Seperti Mendaki Gunung

Beberapa hari yang lalu, aku membaca postingan Dina yang menganalogikan mengejar impian itu seperti mau makan KFC, tapi harus menghadapi berbagai macam hambatan. Begini paragraf pertamanya:

impian itu sama dengan kepengen kamu makan ayam KFC untuk dinner, padahal kamu malas luar biasa untuk keluar membelinya, mana hujan, harus naik angkot dan pulangnya jalan kaki, kamu udah membayangkan perjalanan itu adalah ngga enak, ngga nyaman, ngga senang

Pas baca itu, aku ngomong dalam hati, ”Ya elah Din, telpon 14022 aja kali,” Heuheu.

Tapi..
membaca postingan itu mengingatkan aku pada niatku untuk menulis tentang mengejar impian, yang aku analogikan seperti mendaki gunung.

Tanggal 1 Mei lalu, aku bersama empat orang teman kuliah mendaki Gunung Geulis, Jatinangor. Karena aku ga ingat pernah naik gunung sebelumnya (seringnya naik turun bukit), anggap saja itu adalah kali pertama aku naik gunung; pertama kali masuk hutan MALAM HARI, salah kostum, pake sendal, dan ga bawa senter. Hohoho..

Sang penunjuk jalan sama amatirnya sama yang lain. Jadilah kami nyasar. Mencari jalan ke sana kemari, menemukan jalan buntu tertutup tanaman tak tertembus, balik lagi, nyari jalan lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya menemukan jalan yang benar.

Kalau ga nyasar, perjalanan menuju puncak memakan waktu 3 jam. Nah, karena nyasar, kami yang mulai berangkat dari kaki gunung jam 9 malem, nyampe nya jam 3 pagi! Wooohooo… *kaki lemes*

Dengan perjalanan yang lumayan berat, aku ga rela dong, itu jadi sia-sia. Harus ada yang harus aku dapat, minimal hikmahnya. Hehe. Makanya, aku menganalogikan mengejar mimpi tuh seperti naik gunung.
Penuh perjuangan, Cin!

Nih ya, alasan kenapa mengejar mimpi itu kayak naik gunung:

1. Perlu persiapan
Pertama, harus tahu mau menuju kemana, harus ngerti peta, tahu rute, harus bawa perlengkapan memadai.
Waktu naik gunung, kami hanya membawa 1 senter dan 1 emergency lamp untuk berlima! Karena perjalanan lebih lama dari yang direncanakan, di tengah jalan dua-duanya mati dong! Jadilah kita mengandalkan cahaya bulan. Yuwk.
Harus siap fisik dan mental juga pastinya.

2. Selalu ada hambatan
Penerangan kurang, gelap, ga ada penunjuk jalan (ya iyyaalah!), jurang, nyasar mulu, ditempelin ulet (hiiiiy..), bawaan berat, adalah beberapa hambatan yang menyapa (deuh, menyapa!)
Tapi semua halang rintang jangan sampai menghentikan langkah dong. Apapun hambatannya, maju terus…!

3. Tetap semangat, pantang menyerah.
Ada saat-saat dimana kita begitu lelah sehingga ingin berhenti, atau lebih parah, pengen balik lagi alias pulang.
Bahkan setelah kita berada di jalur yang benar, nyali jadi ciut karena perjalanan tampak masih jauh dan sulit, padahal kaki rasanya udah mau patah.
Tapi kalau begitu, sia-sia dong?
Pokoknya, ga boleh nyerah!

4. Nikmati proses, bukan hasil
Di kosan, seorang teman yang aku ceritakan tentang pengalamanku naik gunung, bertanya,
Dia : ”Terus di puncak, ngapain teh?”
Aku : ”…. tidur,”
Dia : ”Hah? Bo’ong! Masa tidur?”
Aku : ” Ya abis ngapain lagi? Capek, pegel, ngantuk, ya tidur lah!”

Jujur saja, keadaan di puncak di bawah ekspektasiku. Aku kira, akan ada padang rumput, dimana kita bisa melihat pemandangan seluas mata memandang.
Ternyata sodara-sodara, ilalangnya tinggi-tinggi banget!
Jadi pemandangannya cuma kelihatan sepotong.
Masih lebih bagus pemandangan citylight yang kami lihat di tengah perjalanan menanjak.
(ya, sebelumnya saat mendaki, kami sempat istirahat agak lama di tengah jalan curam, sambil menikmati citylight Jatinangor yang sangat indah)

Jadi, nikmatilah perjalanan dan pemandangan sekeliling dalam menggapai mimpimu, kawan.
Jangan sampai cuma dapet capek doang..

Selamat mengejar mimpi! 🙂

Kembali Posting ;p

I’m back.
Miss me?

Hohoho..
begitulah kata Mbak Okke kalau udah menulis Hiatus.

Sebenarnya tidak ingin posting, hanya saja, sayang sekali kalau aku mematahkan komitmenku sendiri untuk posting setiap hari.
Dengan ‘proyek’ Posting Setiap Hari ini, tentunya aku berharap bisa belajar menulis secara konsisten, apapun isi tulisan itu.

By the way..
buat teman-teman yang nge-blog di Blogspot, mungkin ada yang tahu dengan Blogs of Note?
Itu loh.. jadi pihak Blogspot secara berkala suka merekomendasikan blog-blog keren yang “Patut Dilihat”, begitu istilahnya.
Dan aku suka banget melihat blog-blog hasil rekomendasi Blogspot itu.

Selama ini sih, aku belum pernah melihat blog Indonesia yang masuk list.

Eh, pernah deng.
Bogor Daily Photo. Kalau ga salah loh.

Tapi yang mau aku bahas bukan itu.
Aku menemukan satu blog milik teman sekelasku yang keren: Firly in Curlyland.

Isinya gambar-gambar hasil karya dia,
dan cerita ala dongeng dalam bahasa Inggris.
Dengan isi yang sangat spesifik, fokus, dan totally in English itu,
blognya (menurut aku) layak untuk masuk Blogs of Note.

Tinggal tunggu waktu aja (amiin). Hehe..

Firly adalah anak yang sangat berbakat, jago gambar,
gaya berpakaiannya sangat unik, malah aku pernah dengar ada yang menjulukinya Agnes Monica ketika dulu dia bergaya Harajuku (bener ga, Fir?). Pernah juga pakai baju Tailor ala Sailormoon ke kampus, yang pastinya sangat menarik perhatian orang-orang.
Hoho..

Sampai-sampai aku pernah berkhayal, kalau aku bikin film beneran, dia bakal aku tarik untuk bagian Art & Wardrobe.
Hehe.
Imajinaaasii..

Ini salah satu gambar favoritku.

Cekidot yang lain, Gan… 🙂
Hanya di Firly in Curlyland..