Mimpi Absurd

Tadi pagi saya bermimpi.

Mimpi yang, seperti wajarnya mimpi, terasa absurd sekaligus begitu nyata.
Alkisah,
saya berada pada sebuah antrian audisi (Audisi apa? Lanjutkan membaca! :D)
Banyak yang ngantri. Kayak di acara Indonesian Idol.
Tapi sempat-sempatnya, saya dan kawan-kawan (entah siapa kawan-kawan saya ini) melakukan tindak kriminal dengan melakukan… apa ya..? kalau tidak salah, mencuri beberapa bagian mobil milik Bara putranya Juan Felix Tampubolon (Entah kenapa ada dia di mimpi saya! Kenal aja enggak. Hwkwkwkwkwkwkw. Padahal ga ada Nikita Willy. Ckckckc)
Saya berjalan ke sebuah saung yang ada tempat duduknya.
Saung itu terletak di atas, di bagian tanah yang tinggi.
Agak berat menanjaknya. Tapi seseorang membantu saya dengan mendorong punggung saya.
Hingga sampai di saung, saya duduk.
Ketika saya melihat siapa yang mendorong saya..
ternyata dia.
Si tampan. Mari kita inisialkan menjadi ST (hihihi..)
Kalimat saya hanya satu, yang intinya saya tidak menyangka dia akan berada di situ.
Ternyata itu satu-satunya kalimat yang ada di antara kami.
Dia tak menjawab, dan saya tidak berbicara apapun lagi padanya setelah itu.
Tapi kami -atau minimal, saya- tetap merasa nyaman.
Setidaknya tidak ada pertengkaran seperti biasanya.
Kemudian kami pindah lokasi (biasa, di mimpi pindah-pindah lokasi entah dimana).
Mengantri lesehan dengan ratusan pengantri lain, yang sebagian besar perempuan seumuran saya.
Dia, ST, satu dari segelintir cowok, duduk persis di sebelah kanan saya.
Menemani saya.
Kemudian Bara lewat.
Berlutut di samping kiri saya, dan mengeluarkan sesuatu yang saya yakin dia ambil (entah bagaimana) dari saku saya.
“O ow. Aku ketahuan! Mengaku saja apa ya?” pikirku mengingat tindak kriminalku tadi.
Dia menunjukkan benda yang dia ambil dari saku saya,
ternyata… stiker logo mobilnya (Gubraaaaaakkkkss!).
Dia meringis menertawakan.
Mungkin dia pikir, cemen banget saya cuma nyolong stiker mobilnya.
Lalu ia pun pergi meninggalkan saya.
Si Bara nampaknya masih mencari-cari pelaku pencurian isi mobilnya.
Beberapa orang dipanggil dari antrian.
Ada seorang gadis yang ketika digelandang, dia berat hati dan memelas,
“Tapi saya lagi ‘dapeeet’…”
Saya ngakak guling-guling mendengarnya.
Geer banget tuh cewek, kayak mau diapain aja sama si Bara.
Lalu ST menunjukkan pada saya bahwa saya lagi ‘dapet’ dan ‘tembus’.
Whaaaaattt?
Dengan wajah merah padam, saya tampar pelan pipinya supaya berpaling dari saya.
Sialan!
Menunggu.. dan menunggu..
Saya dan ST sama sekali tidak berbicara.
Hanya mengamati orang-orang yang berseliweran di depan kami.
Persis seperti orang lagi gelar lapak di Gasibu.
Tapi entah kenapa..
Kalau ada cowok yang lewat, sepertinya senang sekali mereka mengganggu ST.
Kebanyakan membuat dia jatuh terjengkang.
Saya kasihan tapi tidak bisa berbuat apa-apa,
saya pun tidak tahu apa salahnya sehingga ia dizolimi seperti itu.
Dan saya tidak bertanya.
(Ckckck. Bahkan dalam mimpi pun saya masih (pura-pura?) bersikap tidak peduli).
Sampai akhirnya…
Audisi dinyatakan selesai padahal saya belum sempat di tes.
Ternyata itu adalah audisi..
untuk mencari..
pemain tenis (Super absurd sekali sejak kapan saya tertarik main tenis? -__-“).
Kami pun pulang.
Nebeng sebuah mobil carry berwarna putih,
dengan teman-teman kuliah saya yang tidak begitu akrab (ga tau kenapa mereka juga ada di mimpi ini -___-“)
Saya terbangun.
Sejujurnya saya memang sedang kangen sama ST ini.
Tapi saya belum mau menghubunginya.
Jadi yaaah.. cukup senang ketemu dalam mimpi.
Lebih senang lagi karena tidak perlu ada percakapan yang biasanya berujung tidak enak.
Anyway,
Semoga dia baik-baik saja.

PREMIERE

Sebelum cerita tentang acara premierenya, izinkan aku curcol dulu *boleh, boleh. Di film Flickering Light, aku menjabat sebagai sutradara Behind The Scene. Alias seksi dokumentasi. Sayangnya, BTS yang rencananya akan diputar saat premiere, tidak bisa dilaksanakan.
Kenapa?
Karena belum jadi!
*yaaaaaaahhhhh
**penonton kecewa.

Satu pelajaran yang aku dapat adalah, bahwa aku miss dengan ‘pasca produksi’. Selama ini aku menganggap pekerjaan BTS hanya merekam, memotret, dan menulis. Tapi bagaimana hasil perekaman, pemotretan, dan penulisan itu direkap, diolah, dan dipublikasikan, aku tidak memikirkannya dengan matang.

Aku menemui kendala teknis. Ga punya alat penyimpanan data yang aman dan ga punya komputer yang memadai untuk mengedit video. Aku sama sekali ga terpikir bahwa semuanya itu bisa menggagalkan produksi BTS. Well, my bad. Lain kali sebelum aku mengajukan diri jadi kru BTS, aku akan beli hardisk eksternal minimal 500 GB dan komputer yang layak untuk ngedit. Oh, dan tak kalah penting: waktu yang cukup untuk mengerjakan semuanya (sekarang aku nyaris tidak punya waktu untuk bikin film di luar pekerjaan).

Meskipun hasil karyaku berupa video BTS belum bisa diputar, aku tetap mengundang teman-temanku untuk datang dan menyaksikan FILMKU: Flickering Light (FL). Bagaimanapun, FL itu kan filmku juga dan di luar jobdesk BTS, ada, lah, keterlibatanku di dalamnya meskipun dikit: nyari pemain anak kecil dan minjemin clapperboard meski dipakainya sebentar. Heuheu..

Premiere Flickering Light diadakan hari Sabtu, 5 Maret 2011, di ruang 9009 bioskop kampus ITB. Kesanku tentang acara itu: “Oooo.. jadi gini toh yang namanya premiere..”

Aku sangat amat terharu dengan kehadiran sobat-sobatku. Yang paling berkesan adalah kehadiran Ijal dan Linto. Ijal tinggal di luar kota, dan kadang bolak balik ke Bandung. Sebenarnya minggu ini bukan jadwalnya ke Bandung. Tapi dia ingin memberikan dukungan padaku yang telah menghasilkan karya.

Sementara Linto, kami sangat jarang ketemu. Dan kalaupun ketemu, biasanya cuma pas acara reuni SMA. Tapi dia hadir untuk menjadi saksi kesuksesan aku (itu kata-kataku, bukan kata-katanya. Lebay ya? :p)

Selain mereka, ada Indri yang datang dari Lampung, ada juga sahabat lamaku, Tessa *bakal kujitak kalau dia sampai ga dateng*. Anak-anak kosan yang datang: Nurul, Ami, dan Ata, plus Zen.
Aku baru menyadari bahwa kehadiran mereka sungguh berarti. Aku merasa didukung. Dan dukungan itu rasanya menyenangkan! *terharu lagi*.

Aku teringat, seorang juniorku (sebut saja Gifar) pernah jadi penulis skenario di sebuah film, dimana film itu diputar di Blitz Megaplex. Aku dan teman-teman hadir menontonnya. Meskipun mesti bayar Rp. 25.000,-, tapi senang rasanya bisa menunjukkan dukungan padanya.
Nah, sekarang aku merasakan berada di pihak ‘yang didukung’.
Ternyata rasa senangnya 2x lipat!:D

I have a dream..

Setelah ini.. aku ingin bisa berkarya lagi, bikin cerita yang bagus dan menginspirasi, bikin film yang berkualitas.
Lalu..
Orangtuaku hadir di Premiere, dan seperti di film Sang Pemimpi yang di akhir film menuliskan “Dipersembahkan untuk ayah-ayah kami (Ayah Mira Lesmana, Ayah Riri Riza, dan Ayah Andrea Hirata): Ayah juara satu sedunia”, aku ingin sekali bisa menampilkan di filmku itu:

“Dipersembahkan untuk kedua orangtua saya, Papa dan Mama juara satu sedunia.”
-Sintamilia-

(Berarti pilihannya aku harus jadi: produser/sutradara/penulis cerita yang bukunya bestseller)
*Amiiin*
😀

10 Ramadhan: Ingin Jadi Ibu Rumah Tangga

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-10: Allah memberikan anugerah kepadanya,berupa kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

Sumber dari sini

—–

Aku membaca sebuah postingan si blog teman, di mana dia bercerita tentang impiannya untuk menjadi wanita karier. Hmm.. menarik. Meskipun impiannya sangat berbeda dengan impianku (emang siapa yang bilang harus sama? :p)

Kalau dia ingin jadi wanita kantoran yang mapan,
aku ingin jadi ibu rumah tangga 🙂

Pernah ada yang komentar
“ya elah.. itu sih PASTI lah, kita jadi ibu rumah tangga!”
hehe.. ketahuan deh males kerja kantoran. Hihihi..

Tapi bukan berarti aku ga mau kerja sama sekali.
Mau kok.. Mau banget.
Tapi yang kerjanya bisa di rumah.
Jadi pengusaha, misalnya 😀

Tapi tetap, kalau ada hal yang paling ingin aku lakukan di masa depan adalah mengurus keluarga. Seperti Mama.

Aku ingin menjadi ibu dari (perhatikan!) 3 orang anak, yang sulung laki-laki, dengan selisih umur 3 tahun dengan 2 adik di bawahnya. Anak tengah laki-laki, anak bungsu perempuan. Keduanya kembar. (Hohohoho.. detailnya berlebihan yee? hehe)

Aku ingin menjadi ibu yang setiap pagi memasak dan memastikan semua anggota keluarga berkumpul dan makan bersama. Seperti Mama, mengajarkan bahwa “sarapan adalah WAJIB”, kecuali kalau lagi puasa 😀

Aku ingin menjadi ibu yang mempelajari ilmu parenting dengan serius dan mendidik anak-anakku dengan cara terbaik yang bisa aku lakukan.

Aku ingin menjadi ibu yang mengenal dan mengarahkan bakat anak-anaknya dengan menyediakan pendidikan formal dan non-formal yang mendukung minat mereka.

Aku ingin menjadi ibu yang bisa hadir pada kegiatan-kegiatan di sekolah mereka, acara perpisahan, acara pertunjukkan, atau pertandingan olahraga dimana mereka bisa menunjukkan padaku, “Lihat! Aku bisa!”

Aku ingin menjadi ibu yang bisa mengajarkan agama dengan baik, dan menjadikan salat berjamaah sebagai tradisi keluarga.

Aku ingin menjadi ibu yang mendongeng setiap malam sebagai pengantar tidur. Seperti yang dulu sering Papa lakukan untukku dan adik-adik.

Aku ingin menjadi ibu yang menjadi tempat curhat anak-anakku, bahkan hingga mereka remaja dan mendewasa.

Aku ingin menjadi ibu yang mencetak generasi sholeh dan sholehah, cerdas, sukses, dan bahagia.

Ah..
Impianku sederhana ya?
Hanya ingin menjadi ibu yang berdedikasi pada keluarga.
hmm..
tentunya diawali dengan menjadi istri yang baik, dong 😀

Bagaimana denganmu? =)

6 Ramadhan: "Act of Dishonour"

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda; Siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke-6: Allah akan memberi pahala seperti pahala orang yang tawaf di-baitul makmur, dan batu-batu serta tanah liat memohonkan ampun untuknya.

—–

Hari ini aku menghadiri pemutaran film “Act of Dishonour” di ITB, dimana sang sutradaranya
Nelofer Pazira juga ikut hadir.

Film ini berkisah tentang.. (ehm, biar cepat aku copas aja lah dari Kabarindo :p)

Act of Dishonour (2010) adalah film terbaru karya sutradara Nelofer Pazira. Film ini berkisah
tentang Mena, seorang gadis cantik yang hidup di sebuah desa terpencil Afghanistan Utara. Di desa itu hidup pula tunangannya Rahmat. Penduduk desa mereka yang memegang teguh adat istiadat setempat didatangi serombongan kru film dari Kanada.

Momen ini mengawali persinggungan Mena dan penduduk desanya dengan dunia luar. Perjumpaan ini membawa pula ketegangan dan sekaligus pembelajaran bagi kedua belah pihak, dan dalam arti luas bagi dua budaya: Timur dan Barat.

Hmm.. masih kurang ah penjelasannya. Aku tambahin ni:

Mena adalah gadis 15 tahun yang akan menikah. Dia udah punya baju pengantin, tapi belum punya burqa untuk malam pertama (kalau orang Barat malam pertama pakai lingerie, kalau orang Afghanistan malah pake burqa, yang menutup SELURUH TUBUH termasuk wajah). Dia lalu bertemu kru film, yang mengiming-imingi burqa asalkan dia mau main film.

Mena yang polos pun bersedia main, padahal menurut adat, seorang perempuan, apalagi yang belum menikah, tidak boleh keluar rumah. Kelakuannya itu diketahui oleh keluarganya dan orang-orang.

Sang ayah mendapat tekanan sosial untuk membunuh anaknya karena telah mempermalukan dan menjatuhkan harga diri keluarga. Pembunuhan itu hampir ia lakukan saat Mena tidur, namun (mungkin) karena sayang, tidak jadi ia lakukan. TAPI, diam-diam ia membelikan peluru untuk Rahmat, tunangan Mena, agar nanti membunuh Mena dengan cepat dan tanpa rasa sakit.

Hingga akhirnya, di Hari-H, Rahmat menjemput Mena (yang cantik dengan gaun pengantinnya), melakukan perjalanan jauh berjalan kaki, dan di tengah gurun mereka berhenti. Rahmat mengarahkan senapannya ke arah Mena.

Mena pasrah.
Ia menangis.
Siap menjemput ajal.
(PERINGATAN: SPOILER!)

Rahmat (sambil mata berkaca-kaca karena sedih, berat hati, dan patah hati) menembak.
Membuang pelurunya, dan
meninggalkan Mena dalam keadaan hidup.
Terdampar in the middle of nowhere..

THE END

Konon, fim ini terinspirasi dari kisah nyata loh. Jadi, pernah ada seorang istri yang diajak main film. Saat itu suaminya di Pakistan. Begitu suaminya pulang ke Afghanistan, ia mendengar orang-orang membicarakannya istrinya yang keluar rumah tanpa sepengetahuannya. Dan istrinya itu lalu dibunuh!

Hmm..
Banyak yang ingin aku tulis sebagai tanggapan dalam film yang mengangkat nilai-nilai perdamaian, hak asasi, dan toleransi ini. Tapi yang mau aku highlight simpel aja..

Sang sutradara, Nelofer Pazira, membuat film ini tidak untuk menghasilkan uang dan tidak mencari popularitas.
Ia ingin duduk, berkumpul, berdialog, dan berdiskusi dengan penonton.

Ia ingin memotret fenomena, menunjukkan realitas pada orang-orang, dan membantu mencari solusi serta jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik.
Kasarnya, mencari cara agar budaya seperti itu bisa diubah.
Kalaupun tidak bisa diubah, setidaknya orang-orang (termasuk sang penganut budaya) aware akan plus minus budaya seperti itu (IMHO).

Hmm.. jadi inget produser 89 Project.
Mungkin visi dia juga mirip-mirip seperti itu kali ya.. (memotret fenomena dan membangun awareness)

Kalau aku sih,
pengen seperti Nelofer karena..

jalan-jalan ke luar negeri untuk memutarkan filmnya!

Aku juga ingin seperti itu, ya Allah..
Amiiiiiiinnn…!!

Damien Dematra

Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis.

Ia telah menulis 45 buah novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia,
53 skenario film dan TV series,
dan memproduksi 26 film dari berbagai genre.


Sebagai fotografer, ia meraih puluhan penghargaan internasional, diantaranya International Master Photographer of The Year.


Damien Dematra juga telah menghasilkan 365 karya lukis dalam waktu 1 tahun.

Sebagian karya-karyanya dapat dilihat di http://www.damiendematra.com

I LIKE THIS! *ngacungin jempol*

Emak Ingin Naik Haji

Satu lagi film berkualitas karya anak bangsa: Emak Ingin Naik Haji.

Melihat trailernya saja, nuansa sedihnya udah terasa.
Mungkin karena faktor lagunya kali ya. Hadad Alwi sih..
Maka hari ini juga aku dan teman-teman kosan menonton di Empire, BIP.

Ini adalah film pertama dimana sepanjang film aku bawaannya pengen nangiiiiis mulu.
Mataku berkaca-kaca.
Tapi aku tahan supaya enggak nangis.
Gengsi, ah. Hehe..

Bercerita tentang seorang ibu dari kalangan bawah yang ingiiiiiin sekali naik haji. Begini kira-kira salah satu dialognya,
“Emak nabung, lima tahunan baru dapet lima juta. Ongkos haji 30 juta. Berarti harus nabung 25 tahun lagi. Sekarang umur Emak 61 tahun. 25 tahun lagi umur Emak… (berpikir) 86 tahun. Masih ada umur gak ya?” (dengan nada nelangsa, dan anak laki-lakinya, Zein, hanya mendengarkan dengan prihatin). Hiks.

Konflik terjadi ketika uang tabungan Emak yang lima juta itu dipinjam tetangga untuk operasi anaknya yang terkena hernia. Zein tidak setuju sebenarnya. Tapi Emak mengambil keputusan yang benar: memberikan uang itu untuk pengobatan anak tetangganya.

Dan Emak pernah berkata,
“Raga Emak mungkin gak mampu, untuk menyeberangi lautan yang begitu luas.

Tapi Emak yakin, Allah pasti tahu.
Hati Emak udah lama ada disitu…
Udah lama ada disitu..
(sambil menahan tangis karena kerinduannya yang amat sangat)
Hua.. beneran kamu harus nonton!
Minimal, trailernya, lah.
Lihat aja di youtube.

Endingnya sih memang kurang seru dan ketebak.
Tapi bener deh, dengan akting pemain yang oke, ilustrasi musik dan soundtrack yang keren, serta adegan-adegan menyentuh tanpa banyak kata-kata, film ini sangat layak untuk ditonton.

Ada beberapa adegan yang menurut aku menarik karena ironis.

1. Seorang Ibu Kaya dapat 34 kupon berhadiah naik haji, hasil dari belanja yang totalnya jutaan. Dengan santai si Ibu Kaya membuang kupon itu di depan Zein. Bayangkan perasaan Zein!

2. Burung peliharaan Zein mati. Tetangga Zein, seorang gadis remaja, menawarkan untuk menguburnya. Ternyata malah dia masak!

Sang gadis beralasan, dia sekeluarga udah ga pernah lagi makan daging.
Sementara itu, di rumah Ibu Kaya, sang anak perempuan menyuruh ayam goreng tepung yang dihidangkan dikasih ke kucing aja! Gokil!

3. Disaat Emak kesulitan dana untuk naik haji, anaknya Ibu Kaya (masih SMP, sih) dengan mudahnya membatalkan umroh sekeluarga karena Dude Harlino batal ikut! (Keluarga Kaya itu ikut program umroh bareng artis, ceritanya..)

Menonton film ini, aku jadi ingat Papa. Ia ingin sekali menaik-hajikan ibunya. Yang sampai sekarang belum terwujud. Kira-kira apa ya, yang Papa pikirkan kalau menonton film ini?

Btw, aku menemukan target baru untuk bekerja di perfilman. Kalau selama ini aku pengen bergabung di Demi Gisela Citra Sinema, sekarang aku punya pilihan kedua: Mizan Productions!

Oh.. aku sungguh-sungguh ingin terlibat dalam sebuah produksi film yang berkualitas..

Amin, Ya Allah, Amiiiin….

Memberanikan Diri Bermimpi


Kemarin, sahabatku, sebut saja Mela, mengajakku chat melalui facebook.
Ia mempunyai ide brilian: Backpacking ke Inggris dan Prancis, bertiga bersama sahabat kami yang lain, Delvi.
Kami punya waktu dua tahun untuk menabung dan mengumpulkan uang 20 juta rupiah untuk biaya perjalanan.

Komentar pertamaku saat mendengarnya adalah:
Aje gile.. hehehe..

Sebelumnya, Mela memang pernah menulis status di facebook bahwa dia sangat iri dengan si Naked Traveler, dan bertanya-tanya kapan dia bisa keliling dunia.
Aku memberi komentar bahwa aku juga merasakan hal yang sama.
Delvi juga menulis komentar, kalau kami mau keliling dunia, jangan lupa mengajak dia.
Hahaha.. Saat itu kami hanya mengaminkan.

Aku tidak menyangka Mela serius dengan mimpinya itu, dan membuat rencana seperti yang telah aku sebutkan di atas. Dia bahkan punya rencana cadangan, kalau uangnya tidak mencukupi untuk ke Eropa, kami bakal ke Aussie atau New Zealand, ke lokasi syuting The Lord of The Rings.

Gokil!

Aku bilang padanya aku sebenarnya tidak berani pergi ke luar negeri sendirian tanpa didampingi orang yang bisa melindungi kami seperti, ehm, suami.. atau Papa.. atau tour guide terpercaya. Tapi kalau Mela berani, aku akan memberanikan diri lah. Hehe.. Sebenarnya belum tentu diizinin ortu juga sih.

Aku juga sempat bilang kalau sebelum ke luar negeri aku pengen ke Bali dulu..
Terus kalau memang belum bisa ke Eropa.. ya ke Asia aja.. Jepang, Korea, China, India.. (tapi rencana yang terakhir ini sepertinya akan terkendala bahasa. Hihi…)

Chatting kemarin adalah obrolan yang singkat, tapi menyenangkan. Mengajarkan aku untuk berani bermimpi besar. Meskipun yah.. mengingat bahwa aku dan Mela sekarang belum lulus kuliah, dan Delvi bekerja sebagai guru SD, maka pertanyaan besarnya adalah,
bagaimana kami akan mengumpulkan uang?

Teorinya, itu tidak boleh jadi hambatan. Memangnya seberapa banyak uang Ikal ketika ia ke Eropa? ;p

Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu (Andrea Hirata)