Live Your Life!

Take a step back. Fucking look at yourself. You are human. You are beautiful. You are so beautiful. And you can be anything. You can be everything.

Do not hate because someone broke your heart, or your parents split up, your bestfriend betrayed you, your father hit you, the kid down the street called you fat, ugly, stupid, worthless.
Do not concern yourself with things you cannot control. Cry when you need to, then let go when it’s time. Don’t hang onto painful memories just because you’re afraid to forget. Let go of things that are in the past. Forget things that aren’t worth remembering.
Stop taking things for granted. Live for something. Live for yourself. Fall in love. Fall out of love. Fall in love. Fall out of love. Do this over and over until you know what it really is to love someone.
Question things. Tell people how you really feel.
Sleep under the stars.
Create.
Imagine.
Inspire.
Share something wonderful.
Make something beautiful.
Meet new people
Make someone’s day.
Follow your dreams. Live your life to its full potential. Just live, dammit. Let go of all the horrible things in your life and just fucking live.
And one day, when you’re old, look back with no regrets.
Source: leilockhart.tumblr.com
Terjemahan bebasnya:
Coba mundur selangkah. Lihat dirimu. Kamu manusia. Kamu cantik. Cantik sekali. Dan kamu bisa jadi apapun. Kamu bisa jadi apa saja.
Jangan membenci karena seseorang membuatmu patah hati, sahabatmu mengkhianatimu, orangtuamu bercerai, ayahmu memukulmu, ababil di jalanan menyebutmu gendut, jelek, bego, ga berguna.
Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tidak dapat kamu kontrol. Menangislah kalau memang perlu, lalu lepaskan. Jangan bergantung pada ingatan menyakitkan hanya karena kamu takut untuk melupakan. Lepaskan semua hal di masa lalu. Lupakan yang gak penting untuk diingat.
Jangan cepat merasa puas. Hiduplah dengan tujuan. Hidup untuk dirimu. Jatuh cinta. Bangkit. Jatuh cinta lagi. Bangkit lagi. Lakukan itu terus menerus sampai kamu tahu sebenarnya bagaimana mencintai seseorang.
Pertanyakan hal-hal. Katakan pada orang lain apa yang kamu rasakan.
Tidur di bawah bintang-bintang.
Berkarya.
Berimajinasi.
Jadilah inspirasi.
Bagikan hal -hal hebat.
Buat sesuatu yang indah.
Temui orang baru.
Buatlah orang lain gembira.
Ikuti mimpimu. Hiduplah dan keluarkan semua potensimu. Tinggalkan semua hal buruk dalam hidupmu. Jalani saja hidupmu.
Suatu hari nanti saat kamu sudah tua, menolehlah ke belakang dengan tanpa penyesalan.
Advertisements

#IngatanPenulis

Mengasah kepekaan adalah pekerjaan full-time penulis (setelah menulis tntu saja). Tdk smua yg ada di sekeliling bs diserap.

Seleksi dilakukan saat penulis buka seluruh indranya sbg kegiatan pra-kepenulisan. Detil2 apa yg prlu diingat dlm ?

Pilihan itu ada di tangan tiap penulis, tp ini bbrp contoh yg bisa digunakan sbg bahan untuk menjadi peka.

1. Yg mencetuskan pertanyaan. Kejadian/peristiwa/pemikiran yg buat bbrp pertanyaan hadir di benak. Prtanyaan2 ini bs diolah.

2. Yg berhubungan dgn moral/kode etik/pelajaran khdpan. Stp cerita psti pny tujuan, jd apapun yg diingat, ingat porsi ini.

3. Yg bisa memancing debat. Jk ada pro-kontra, perhatikan dan serap momen itu. Ini bs dijadikan sumber inspirasi cerita.

4. Yg bisa menguak kemanusiaan. Seni adalah lukisan ttng kehidupan & ketidakadilan/keadilan. Serap yg berhub dgn humanisme.

Kalau sdh terbiasa peka dan menyerap hal-hal yg td aku twit, maka kepingan-kepingan yg tidak “klop”, bisa dgn mudah dibuang.

Ingatan yg baik bukan ingatan random yg jumpalitan dan berantakan. Sortir, dan aktifkan indra kepekaan pd hal2 yg penting

Tujuan adlh menyadari “cerita” ada di depan mata pada setiap saat. Inilah apa yg ada di balik kepala profesi seorng penulis.

Ini yg diistilahkan dgn “kjatuhan inspirasi”. Kl orng nunggu inspirasi jatuh u/ nulis, maka penulis manggil inspirasinya dr .

Penulis mmbawa “inspirasinya” setiap saat di balik kepalanya. Kepalanya adalah gudang detil cerita. Isinya diambl dr mna? Dr

Sumber: Tweets @clara_ng yang diretweet oleh @_PlotPoint beberapa jam lalu. Thank you for sharing!

Eniwei, aku baru selesai baca dua novel Clara Ng: Jampi-Jampi Varaiya & Ramuan Drama Cinta. Sukaaaaaaaa 🙂

#Cerpen

Menulis #cerpen itu kayaknya gampang. Padahal butuh skill yg canggih untuk menghasilkan cerpen yg keren. Pendek bukan berarti gampang 😉

Batasan #cerpen itu adalah jumlah kata. Biasanya panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata.

Karena batasan jumlah kata ini, maka #cerpen ceritanya tidak bisa sekompleks novel. Biasanya cuma sebuah event atau plot tunggal.

Walau simpel, #cerpen yg baik tetap bisa punya kesan yg mendalam. Coba deh baca cerpen Putu Wijaya utk @gm_gm di Kompas hari Minggu lalu.

Judul #cerpen itu: “Bersiap Kecewa Bersedih Tanpa Kata2”. Ttg seorang bapak yg kebingungan memilih di toko bunga.Ringan tp manis & ‘dalam’:)

#cerpen, seperti karya fiksi lainnya, harus punya: karakter utama, keinginan/keadaan ideal dan konflik!

Penulis bebas bikin karakter/plot yg super kompleks. Tp u/ menulis #cerpen kita harus pilih kejadian yg berkesan di antara kekompleksan itu.

Mau latihan menulis #cerpen? Coba tulis cerpen dari kejadian yang paling berkesan dalam hidupmu

Cara ini lumayan gampang, karena kamu sudah tahu endingnya. Coba beri “bumbu” pada kisah hidupmu agar jd #cerpen yg menarik 🙂

Kalimat pembuka yg menarik dengan kejadian yg menarik wajib ada di #cerpen. Kenapa?

Karena #cerpen biasanya diterbitkan di media yg kontennya banyak. Misal: majalah, koran, buku kumpulan cerpen. “Saingannya” banyak.

Makanya penulis #cerpen terkenal, Edgar Allan Poe bilang: cerpen harus harus dapat dibaca dalam waktu sekali duduk.

Yuk, mari mencoba menulis #cerpen. Kalau masih bingung coba baca #cerpen dari penulis favoritmu. Curi ilmu dari cerpen mereka 🙂

Setiap penulis punya ciri khas masing-masing. Entah temanya, sudutpandangnya, deskripsinya dan dialognya. Pelajari karya mereka 🙂

Mau jadi penulis ? Harus rajin baca dong 🙂 Biar kamu kenal gaya menulismu!

Sumber: Tweets @_PlotPoint, 19 Juli 2011, Menjelang pukul 5 sore.

Do Not Regret Anything

Pernah baca postingan di tumblr. Kira-kira bunyinya seperti ini:

Do not regret anything coz at one time it was what you all wanted.

Itu adalah sebuah kalimat yang mengingatkan saya bahwa apapun kondisi, apapun yang saya lakukan sekarang, tidak pantas disesali. Toh saya yang memutuskan. Saya yang memilih.
Seperti saat ini.
Apakah saya menyesal pindah dari Bandung ke Batam? Tidak.
Cuma sedih. Dan itu wajar.
Sedih meninggalkan kehidupanku yang (almost) perfect di sana.
Apakah aku menyesal karena kehidupanku di Batam belum seperti yang aku harapkan?
hmmm.. sedikit.
Tapi sejauh ini I’m fine.
Setidaknya aku masih sehat, aman, nyaman, kenyang, dan punya (sedikit) uang 😀
Aku memutuskan ke Batam karena ingin bersama orangtuaku, menghabiskan waktu selama mungkin bersama mereka sebelum aku ‘diambil orang’ (:p), dan belajar mengurus urusan domestik layaknya Ibu Rumah Tangga *lol
Boleh tertawa karena saya memang lobgay (loba gaya). Orang calon suami aja belum punya! *ketawa guling2
Tapi pengalaman membuktikan, saya tidak akan mencapai sesuatu kalau saya belum siap. Saya tidak lulus kuliah sampai saya merasa siap, saya tidak bekerja sampai saya siap. Saya yakin tidak akan menikah sampai saya merasa siap.
So?
Makanya sekarang saya bersiap-siap! 😀
Meskipun teman saya yang bekerja sebagai recruitment staff pernah berkata bahwa masa-masa pengangguran harus diisi dengan aktivitas di luar rumah (alias menjadi pengangguran banyak acara), tapi ‘hebatnya’, saya malah bertahan di dalam rumah. Online all day long. Haha. Sempet jenuh tingkat tinggi sih, but a thought came to my mind…
Apakah begini rasanya jadi Ibu Rumah Tangga?
Bersihin rumah, nyapu, ngepel, masak, nyuci baju, jemur baju, nyetrika, nonton infotaiment (thanks God there are Star Movies & HBO here), sore-sore kongkow sama ibu-ibu sambil mengawasi rumah (biar ga kemalingan) dan mengawasi anak-anak bermain.
Oke lah mungkin ga se-ekstrim itu. Saya maunya nanti ada pembantu
*huuuuu **disorakin pembaca.
Kalau saya tidak mengerjakan 100% pekerjaan domestik, saya akan menggunakan waktu untuk menulis.
Tapi ya ampun! Bahkan nulis pun mesti nunggu mood & ide. Menyebalkan sekali T_T
Intinya adalah…
Keadaan yang saya jalani saat ini bisa jadi adalah keadaan yang akan saya jalani (lagi) di masa depan.
Meskipun ada pertanyaan besar: “Benarkah ini yang saya inginkan?”,
Tapi setidaknya saya tahu,
I WILL SURVIVE IN THE HOUSE!
(jangan lupa pembantu! :p)

Beratnya Punya Anak Perempuan…

Woaaaa… tiga minggu ga nge-blog!
maafkan aku sodara-sodara, kemarin-kemarin aku konsentrasi penuh revisi skripsi, yang telah tertunda selama 7 bulan (2 bulan lagi melahirkan tuh T_T)
Alhamdulillah, sudah selesai & mendapat ijazah. Yippiieee…!
Jadi, sekarang bisa nge-blog lagi. Asik asik asik.

Udah pada nonton film Satu Jam Saja belum? Meskipun menurutku ceritanya simpel dan alurnya lambat, tapi aku tetap menyarankan kalian nonton demi mendukung perfilman Indonesia yang berkualitas *tsaaah*. Lagipula, soundtracknya bagus (alasanku nonton ini cuma karena soundtracknya aja sih. Hehe)

Aku nonton Satu Jam Saja bareng anak-anak kosan hari senin malam (11/10) di BIP, and surpraisingly, tiga pemain utamanya dateng dong.. Vino, Revalina, dan Andhika Pratama. Reva bahkan ditemani Agus Ringgo. Hohoho.. (Hmm.. paragraf ini ga penting sebenarnya. Mau pamer aja *halah!*)

Film ini bercerita tentang seorang Gadis yang hamil di luar nikah. Sang pelaku yang notabene sahabatnya sendiri , lari dari tanggungjawab. Pesan moral film ini adalah.. Hati-hati dalam bergaul. Bahkan meski ga pacaran, meski statusnya sahabat, tapi kalau syaitan lewat dan kita ga punya tameng cukup kuat untuk melawan tuh syaitan sialan, celakalah jadinya.

Mari kita berbelok sedikit.

Aku tidak terlalu suka acara hipnotis Uya Emang Kuya, karena banyak mengumbar aib.
Kita diperintahkan untuk tidak mengumbar aib orang lain.
Allah saja menutupi aib kita. Masa’ kita membongkar aib sendiri? Ga banget lah pokoknya.

Tapi aku pernah melihat satu episode yang agak bagus. Uya menghipnotis ibu dan anak perempuannya. Dalam keadaan tidak sadar, sang anak bercerita kalau dia merasa dikekang oleh sang ibu, sehingga ia pacaran backstreet. Sementara ketika sang ibu dihipnotis, beliau bercerita kalau ia sangat mengkhawatirkan pergaulan anak jaman sekarang. Sikapnya yang protektif pada anaknya itu adalah karena dia sayang dan tidak ingin anaknya terjerumus. Di akhir acara, sang anak meminta maaf pada ibunya sambil menangis. Mereka berpelukan.

Ah, mengharukan sekali. Melihat itu, aku jadi teringat Papa.

Beberapa bulan yang lalu, aku pernah mendapat sms dari Papa. Isinya kira-kira begini, “Sinta & Nurul, hati-hati ya di sana. Jangan sampai melakukan hal yang dilarang agama”.

Hah? Apaan nih? Ga ada angin, ga ada hujan, tiba-tiba Papa ngirim ini? Emangnya aku ngapain?

Aku bingung dan ga tau mesti merespon bagaimana. Ada beberapa hal yang dilarang agama. Tapi tentu saja yang dimaksud Papa bukan membunuh, merampok, atau korupsi. Kita semua tahu lah ya, apa konotasi “hal yang dilarang agama”. Sms itu ga aku balas.

Papa lalu mengirim sms lagi yang menceritakan bahwa tetangga kami, Pak Haji Entahsiapa, yang anak perempuannya hamil di luar nikah. Oalaaah. Jadi itu alasannya Papa ngirim sms ‘aneh’? Akhirnya aku balas sms Papa dan meyakinkan beliau kalau insya Allah kami akan baik-baik saja di sini. Kami saling menjaga dan mengawasi satu sama lain.

Beberapa waktu kemudian, ketika aku pulang ke Batam, aku mendapat cerita versi Mama. Mama bercerita, ketika Papa mendengar tentang anak perempuan Pak Haji Entahsiapa itu, raut muka Papa tiba-tiba berubah. Papa terlihat sediiiiiiiiiiiih.. sekali. Belum pernah Mama melihat Papa sesedih itu (FYI, Papa emang hampir ga pernah terlihat sedih. Dapet cobaan hidup seberat apapun, ia selalu tampak cool, calm, & confident. Heuheu). Mama yang heran lalu bertanya, “Kenapa pa? Kok sedih?”. Papa menjawab,

“Dia yang tinggal sama orangtuanya aja bisa seperti itu. Gimana anak-anak kita, yang jauh dari pengawasan?”

Ya Allah.. Betapa khawatirnya Papa pada kami! Jadi terharu.. Hiks hiks..

Mama sendiri merasa ga sedih, biasa aja tuh (emang, dasar :p). Mungkin karena Mama punya feeling & naluri keibuan yang kuat, jadi kalau anak-anaknya macem-macem pasti langsung ketahuan. Tapi bukan berarti Mama ga peduli. Dulu Mama pernah ngasih aku pilihan, mau diberi kebebasan yang bertanggungjawab, atau, kalau aku belum bisa bertanggungjawab, Mama akan kekang sekalian, biar aman. Aku tentu milih yang pertama dong.

Mama juga pernah menganalogikan, anak perempuan itu seperti gelas kristal. Gelas kristal itu rapuh dan mudah pecah. Kalau sampai retak, nilainya ga akan berharga lagi. Makanya harus dijaga dengan baik.

Mungkin punya anak perempuan memang berat ya. Buktinya, Allah ngasih pahala yang besar bagi para ortu yang berhasil membesarkan, merawat, dan menjaga anak-anak perempuannya. Ada hadist yang bilang, bahwa:

“Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta sikap bertanggungjawab, maka baginya adalah surga.”

(Sumber hadist: http://www.scribd.com/doc/27449087/40-keistimewaan-wanita)

Udah banyak bukti di sekitar kita.

Seharusnya kita belajar.

Belajar dari Gadis, yang menderita karena akhirnya menikah dengan orang yang tidak ia cintai demi menutupi aib..

Belajar dari Uya Emang Kuya, yang menunjukkan betapa parahnya pergaulan remaja sekarang sehingga sang ibu begitu protektif.

Belajar dari Pak Haji Entahsiapa, yang bahkan dengan embel-embel Pak Haji pun tidak menjamin anaknya “selamat”.

So girls,

mari kita sama-sama jaga diri,

saling mengingatkan sesama cewek,

supaya gak ada lagi Gadis-Gadis lain,

yang tak lagi “gadis” ketika menikah.

Luv u all 🙂

Sumber gambar: Indonesian Film


NB: Mbak-mbak tukang sobek karcisnya mungkin terpukau juga dengan kedatangan artis-artis itu sampai lupa menyobek karcisku. Hihihi..

Melamar-Melamar Kerja

(Catatan: Tulisan ini aku buat sebagai hadiah kelulusan untuk para sahabatku.. )

Begitu aku dinyatakan lulus sidang skripsi, aku menyimpan skripsiku alih-alih merevisinya. Aku memang berencana fokus nyari kerja dulu. Ga mau nganggur, ceritanya.

Aku ikut beberapa kali jobfair. Hmm.. tiga kali, kalau tidak salah. Pengalaman ketiganya hampir sama: tidak ada posisi yang membuatku sangat tertarik, tidak ada perusahaan yang aku cita-citakan, aku tidak nyaman berada di kerumunan orang pencari kerja, dan aku juga agak ga rela bayar tiket masuk jobfair (bisa buat makan sehari tuh T_T), padahal tidak mendapatkan yang aku harapkan. Di jobfair ketiga aku bertekad, “Ini kehadiran terakhir ku di jobfair. Ga lagi-lagi deh”. Dan memang, sampai sekarang aku ga pernah lagi ke jobfair.

Aku pernah melamar ke sebuah lembaga pelatihan broadcasting, karena tertarik dengan dunia pertelevisian & perfilman (plus konsentrasiku pas kuliah kan di bidang training). Aku diterima, lulus wawancara, dan sempat beberapa kali ikut training pemasaran. Orang-orangnya baik, trainingnya keren, tapi aku merasa belum bisa jadi marketing officer. Apalagi honornya sistem komisi, bukan gaji tetap. Aku pun menghilang dari sana tanpa kabar (ga sopan, emang >.<)

Aku juga pernah melamar ke stasiun TV di Jakarta. Ikut psikotes, lulus wawancara pertama, tapi gagal pas wawancara kedua. Baru beberapa hari kemudian aku ‘ngeh’ dengan kesalahanku yang membuatku gagal wawancara. Kalau aku tahu ‘trik’ itu sebelumnya, pasti aku bisa lolos tuh! Heuheu. Gpp lah. Belum rezeki, berarti.

Aku sempat ingin bekerja freelance. Jadi pengajar bimbel misalnya. Kesempatan itu datang tak lama kemudian. Ada lembaga bimbel buka lowongan. Aku melamar dan langsung diterima. Aku sudah menerima surat tugas mengajar, ketika aku diberitahu bahwa ada training untuk pengajar dengan biaya sekian-sekian (yang membuat honor mengajarku sepertinya akan habis terkuras untuk itu). Aku tidak bisa menerimanya, dan mengundurkan diri H-1 sebelum ngajar (!). Sempet sedih, tapi it’s okay. Allah pasti menyiapkan yang lebih baik.

Aku juga pernah melamar menjadi editor di perusahaan penerbitan ternama di Jakarta. Aku suka sekali membaca, dan tugas utama editor tentu saja membaca (dan mengeditnya). I’ll love this job. Aku dipanggil untuk tes, yang (sayangnya) gagal karena kurang pengetahuan & kurang persiapan. Tapi dari pengalaman terakhir itu, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.

Kenapa aku gagal ketika wawancara/tes di Jakarta, padahal aku sangat amat berminat dan merasa mampu?

Jawab: Karena mungkin.. jauh di hati kecilku, ternyata aku belum siap kerja di Jakarta. Aku ingin di Bandung, aku masih ingin bersama teman-temanku.

Aku lalu merenung lebih jauh.

Kenapa belasan lamaran yang aku sebar di jobfair ga ada satu pun yang nyangkut?

Jawab: Karena aku memang tidak sedikitpun tertarik, tidak sedikitpun menginginkannya.

Kenapa lamaranku nyangkut, lalu dipanggil wawancara/tes di lembaga pelatihan broadcasting, di stasiun TV, di lembaga bimbel, dan di penerbitan?

Jawab: Karena aku memang BERMINAT di bidang itu.

Kenapa aku belum bekerja tetap?

Jawab: Karena jelas, aku masih ingin BIKIN FILM (yang ini mah sengaja :p). Keinginanku yang satu ini benar-benar serius dan tidak dapat diganggu gugat.

Aku ingin bikin film. Tapi karena butuh uang untuk hidup, aku harus bekerja. Maunya sih bekerja sebagai pekerja film, tapi mungkin karena “belum siap meninggalkan Bandung & teman-teman”, lamaranku ke PH-PH di Jakarta belum ada balasan. Oke. Menurutku itu masuk akal.

Aku ingin (1)bikin film+(2)bekerja buat makan+(3)di Bandung+(4)masih bareng teman-teman. Solusinya adalah.. berbisnis, atau jadi freelancer. Freelancer dulu aja deh. Karena aku suka nulis, aku ingin jadi freelance writer. Itulah keinginanku yang sebenarnya.

Allah Maha Mendengar, Allah Maha Pengabul Doa.

Sampai bulan Ramadhan lalu, aku kerja di kosan Dago Bandung, jadi freelance writer di sebuah situs kuliner (kerjanya 100% online dan aku maniak internet), serta –tentu saja!-aku juga bikin film bareng teman-teman di 89 Project. I got what I really want. Sempurna sekali hidupku!

Inti yang mau aku sampaikan di sini adalah, kalau di antara kalian ada yang bertanya-tanya: Kenapa sulit sekali mendapat pekerjaan? Kenapa aku ga dapat panggilan? Kenapa aku gagal tes/wawancara padahal aku merasa mampu & memenuhi semua kualifikasi? Kenapa aku belum bekerja?

Tanyakan pada hatimu, teman. Mungkin pekerjaan itu bukan yang benar-benar kamu inginkan.

Hati-hati dengan kata hatimu yang terdalam, yang seringkali kurang terdengar. Bahkan aku dengan keinginan dan kemauan yang sangat menggebu ingin bekerja di PH-PH Jakarta, bisa tertahan dengan keinginan ‘cemen’ seperti “pengen di Bandung & pengen bareng teman-teman”. Hal sepele seperti ini bisa jadi hambatan lho.

Tapi jangan terlalu khawatir tentang pekerjaan. Jangan pernah takut ga dapet kerja. Sekarang, nikmatilah masa-masa kelulusanmu. Setelah puas, mulailah berpikir dengan tenang.

Dengarkan kata hatimu, milikilah mimpi, harapan, keinginan, dan minat, lalu kejar!

Selama kamu yakin, insya Allah, cepat atau lambat, keinginanmu akan tercapai.

Pesan dari Steve Jobs,

The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the hearts, you’ll know when you find it.”

Selamat mengejar impian, kawan! Semoga sukses selalu 🙂

Bikin Sinopsis

Om Produser memintaku untuk membuat sinopsis cerita Flickering Light (FL) buat dipublish di blog 89 Project. Huh, padahal kan sebenarnya itu adalah tugas penulis skenario. Sempat ada miskomunikasi antara produser-scriptwriter-aku yang bikin aku melempari mereka granat (iya, beneran aku ngelempar granat. Via facebook :p).

Tapi yah.. karena aku kasihan sama produserku itu, dan aku juga anak yang baik hati dan penurut, maka aku iyakan sajalah meskipun aku agak-agak ga ngerti gimana bikin sinopsis yang “menjual” seperti yang ia inginkan. Aku pernah bikin sinopsis FL di blog ini, tapi menurutnya itu terlalu to the point. Ia ingin yang seperti sinopsis novel.

Aku pun lalu ngebela-belain ke Gramedia untuk melihat contoh sinopsis di cover belakang novel-novel. Hmm.. menarik juga. Aku mencatat berbagai format penulisan sinopsis. Ada yang diawali kutipan atau dialog isi novel, ada yang mendeskripsikan konflik, mendeskripsikan karakter, uraian penjelasan cerita, ada juga yang mengambil sudut pandang tokoh utama. Semuanya menarik, meskipun ada beberapa format yang menurutku kurang bisa diaplikasikan untuk membuat sinopsis FL.

Begitu sampai rumah, aku mulai bereksperimen membuat sinopsis dengan bermodalkan skenario dan sinopsis versi scriptwriter. Dari rencana bikin 2 buah, ternyata malah jadi 4 buah sinopsis yang akan dipilih salah satu. Lumayan..

Keesokan harinya, papaku (yang malam sebelumnya mengantarku ke Gramedia dan tahu kalau itu dalam rangka bikin sinopsis) memberiku referensi How To Write A Synopsis yang ia dapat dari hasil googling. OMG, papi! Perhatiannya sering bikin aku geleng-geleng kepala 😀 .Tapi agak telat. Coz aku kan udah menyelesaikan sinopsisnya duluan. Heuheu.

Begitu aku kirim 4 sinopsis itu ke Om produser, ia langsung menyetujui rekomendasiku dan memilih sinopsis D. Seperti apa sinopsisnya? Silahkan cekidot di Synopsis: Flickering Light.

Bikin sinopsis ternyata lumayan fun juga. Dan sekarang aku mulai berencana membuat sinopsis untuk novelku nanti.

Amin 🙂

Thanks to Om produser, yang udah ngasih kesempatan buat aku untuk menggali potensi diri (Bahasanyaa..! Yuwk)

Thanks to scriptwriter yang udah bikin skenario bagus. Sinopsis yang bagus *muji diri sendiri* kan berawal dari cerita yang bagus. Bukan begitu? 😉