Galeri Foto: Kape Juragan

Sekarang di YEA udah ada kafe loh. Namanya Kape Juragan. Iya, pake “p” bukan pake “f” 😀


Saat ini baru punya dua meja di halaman tengah kampus YEA.


Ini namanya Nasgor Bule. Salah satu yang paling laris.


Suasana dapur


Bisa juga makan di dapur. Kalau makan di sini bisa nyolong2 nambah garnish *eh 😛
Kalau beruntung, kadang dapet tester hasil eksperiman menu 😀


Ini adalah Kape Juragan di halaman depan YEA yang sedang dibangun. Baru selesai masang ubin.


Saat ini konsumen Kape Juragan kebanyakan masih siswa, staf, dan fasilitator YEA. Plus, orang-orang yang hadir ketika ada acara #JarumYEA. Nantinya kalau yang di halaman depan udah dibangun, kafe ini akan lebih gencar lagi promosi untuk menarik masyarakat umum. Doakan yaah..

Yang ga sabar dan penasaran banget pengen makan di sini, boleh langsung mampir ke Jalan Teuku Angkasa No. 26 Bandung.

Ditunggu.. 😉



Advertisements

Business Plan

Begitu Home Business selesai, kami ditugaskan untuk membuat Business Plan, yaitu perencanaan bisnis yang akan kami buat selepas dari YEA. Meski diberi waktu beberapa hari (yang sebenarnya cukup), saya masih sulit membayangkan bisnis apa yang ingin saya buka. Sempat mau bikin tempat makan bekerjasama dengan pembimbing PEL saya, tapi modalnya gedeee banget dan saya nyerah *jangan ditiru*:p

Akhirnya saya explore minat saya yang lain: bisnis online. Pengen jualan online tapi gak tau produknya apa. Pada akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan bisnis sahabat saya, Dina, yang akan melanjutkan bisnis aksesorisnya: Nyala.

Nyala di Gogirl terbaru yang edisi 7th Birthday. Cool..!

Saya menempati posisi Marketing, yang diberi tugas mengelola sosial media Nyala di blog, Facebook dan Twitter. Daaaaan.. surprise! Di blog-blog yang Nyala follow, di teman-teman Fb-nya Nyala, buaaanyaaak banget produk-produk kreatif yang lucu-lucu. Sukaaaaaa…!

Anyway, masih ingat kalimat ini?

Hello, I’m Sinta, 24 years old. Currently living in Bandung, Indonesia.

Love books, movies, behind the scene, and arts.

Itu adalah bagaimana saya mendeskripsikan diri saya di blog ini. Dibanding books, movies, dan behind the scene, arts adalah sesuatu yang jarang (atau hampir ga pernah) saya bahas. Sejauh ini saya masih sebagai penikmat memang. Penikmat gambar yang bagus, penikmat benda-benda dengan desain unik, penikmat foto & film yang artistik. Dan dari Nyala, surga banget deh dapet link-link blog/ fb yang menampilkan segala hal yang kreatif itu.

Doakan ya, semoga bisnis ini lancar. Harus serius ni di sini. Ga bisa main-main coz menyangkut masa depan *sok iye*.

Buat teman-teman yang suka aksesoris handmade dan gak pasaran, langsung aja follow Nyala di:

Blog : www.ih-nyala.blogspot.com

Fb : Nyala Hujannyala 2

Fan Page : Nyala

Twitter : @hujannyala

Keep Shining! J

Dari Home Business: Kecab Ijo

Home Business (Hombis) merupakan suatu kegiatan praktek di Young Entrepreneur Academy (YEA) dimana siswa belajar menentukan dan membuat produk, mengemas, memasarkan, hingga membuat laporan keuangan.

Kecab Ijo (Kentang Cabe Ijo) adalah salah satu dari tiga produk Home Business YEA Batch 13 selain Pendekar Makaroni (Juara 1) dan Kacang Telur Pedas Arachis (‘Juara’ 2). Ya, Kecab Ijo memang menempati ‘juara’ ketiga.

Kecab Ijo yang sempat dinamai Kentang Galau ini adalah makanan pendamping nasi yang konon kalau di Bandung lebih populer dengan sebutan kentang mustofa. Kentangnya berbentuk stik tipis yang dibumbui. Kecab Ijo versi awal cukup enak apalagi kalau ditambah teri dan kacang tanah *berkhayal*. Huehehehehe…

Di tiga hari pertama Hombis, Kecab Ijo mendapat masalah pelik yang seolah tak ada solusinya: dalam kemasan, kentangnya melempem dalam waktu tak lebih dari 24 jam! Bagian marketing jadi sulit menjualnya dan justru menderita kerugian. Karena tak menemukan solusi, mereka sempat ingin berganti produk. Sayangnya, YEA tidak mengizinkan. Peraturan tetap peraturan, dilarang mengganti produk di tengah Hombis.

Satu minggu berjalan, YEA mengadakan review. Tiga kelompok mempresentasikan progresnya masing-masing. Mulai dari pencapaian target produksi & penjualan, hingga kendala-kendala apa saja yang dihadapi.

Kecab Ijo yang saat itu tampak madesu (:p), mendapat masukan dari kelompok lain. Saya lupa detilnya (dan gak ngerti juga sih). Intinya, ada yang memberi saran bagaimana mencegah kentang melempem meski dimasukkan dalam kemasan plastik. Tim Kecab Ijo menampung semua saran dan berjanji akan mencobanya.

Beberapa waktu kemudian…

Jreng jreng..!

Wujud Kecab Ijo berubah. Secara tampilan, jadi lebih ‘ciut’ tapi jauh lebih kering. Gak terlihat berminyak seperti sebelumnya. Teksturnya lebih renyah. Rasanya enak dan gurih. Bagi saya, dibanding dua produk lain, Kecab Ijo adalah sang juara dari segi rasa.

Penjualan Kecab Ijo pun meningkat. Bahkan di sebuah seminar dimana tiga produk Hombis YEA 13 membuka stand, penjualan Kecab Ijo lebih banyak dibanding Arachis! Waow.

Satu minggu setelah review YEA itu, Hombis berakhir. Meskipun penjualan membaik, dibanding produk lain omset Kecab Ijo tetap berada di peringkat paling bawah, yang menurut saya lebih dikarenakan permasalahan internal (SDM). Produknya sendiri sudah cukup baik.

Setelah Hombis, tak ada kewajiban untuk melanjutkan produksi. Namun, Kecab Ijo ternyata masih banyak yang mencari. Akhirnya Kecab Ijo melanjutkan produksi berdasarkan pesanan. Itu pun dengan syarat “tukang masak”nya (sebut saja namanya Dina) lagi mood dan ada waktu luang.

Pernah Dina membawa 6 bungkus Kecab Ijo yang udah dipesan. Ternyata itu kurang. Pesanan yang sebenarnya lebih banyak dari jumlah bungkus yang dia bawa. Belum lagi yang tidak memesan, ikutan mupeng melihat Kecab Ijo ‘berseliweran’ *halah, yang sayang sekali tidak bisa ia beli saat itu juga. Hihihi..

Inilah kenapa saya pernah nge-tweet, “Sumpaya ni makanan enak banget dan langka.” Yang udah mesen aja waiting list, apalagi yang belum mesen? J

Saya sangat berharap Kecab Ijo tetap eksis untuk seterusnya. Amiin.

Nah.. berhubung saya lagi ngidam Kecab Ijo dan akan gak efisien kalau Dina bikin 1-2 bungkus buat saya doang, gimana kalau teman-teman ikutan pesan dan nyicip? Dijamin enak! Kalo ga enak kasih saya aja biar saya yang abisin. Heuheu.

Go Kecab Ijo gooo…!

*Arachis murtad*

Home Business (2)

Production

Minggu pertama semua anggota sibuk produksi. Mulai dari mengupas bawang putih, ngulek, menimbang bahan, mencampur adonan, sampai menggoreng. Gak pernah sekalipun bisa mencapai target per hari 80 tabung.

Ruang Produksi Arachis

Minggu kedua, kami merekrut tim produksi dua orang. Dengan bantuan orang yang lebih expert dan penggunaan blender untuk menggantikan ulekan (heuheu), kapasitas produksi bisa mencapai 200 bungkus per hari (!)

Packaging

Seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya, awalnya kemasan Arachis adalah tabung. Lalu kemudian diganti jadi plastik sablon supaya harganya bisa lebih murah. Menyablon plastik ternyata membutuhkan waktu beberapa hari. Jadi dalam masa peralihan *tsah, Arachis pake plastik + stiker.

Kami salah memilih orang untuk menyablon. Hasil sablonan gak sesuai harapan dan kami pun komplain. Jadi pelajaran aja sih..

Bagian packaging

Marketing

Sayang sekali penjualan kami tidak memenuhi target. Tapi setelah dievaluasi, banyak banget pelajaran yang didapat dari pengalaman ini. Antara lain:

1. Untuk produk baru, ga bisa seenaknya menentukan harga. Saat pricing, harus memperhatikan juga harga kompetitor dan “harga psikologis” konsumen (harga yang layak menurut konsumen).

2. Selera orang beda-beda *yaealaaaah

3. Dua minggu ini (ternyata) masih dalam masa riset, trial & error. Produk belum fix untuk disebarluaskan ke pasar.

4. Cara paling efektif untuk memasarkan produk seperti ini adalah melalui reseller dan membuka stand di event-event.

5. Cara paling tidak efektif (selama Home Business) adalah menitipkannya di warung karena cashflownya sangat amat lambat. Mencari warung yang tepat juga gak mudah.

Bagian Marketing lagi bantuin ngulek merica :))

Finance

Pencatatan keuangan gak terlalu bermasalah sepertinya. Maklum, dipegang oleh orang yang ahli: si cici. Hihihi..

Pemasukan, pengeluaran, belanja, HPP, utang, piutang, dll.

Berdasarkan laporan keuangan yang ia buat, net profit Arachis selama Home Business adalah… 13ribuan! Haaaa? Kok bisa? Hahahahaa… saya juga tidak mengerti pokoknya seperti itu lah. Total omset 2jutaan. Gak menang, pastinya. Dan kami jadi kelompok paling “bangkrut’! :))

Well, sejujurnya aku tidak puas. Terutama pada kinerja diri saya sendiri sebagai ketua. Tapi saya pastikan saya (dan teman-teman) mendapatkan “pelajaran”. Oh iya dong, udah keluar duit buanyak banget, rugi dong kalau gak dapet ilmu dan pengalamannya. Betul tidak? :p *menghibur diri*

Akhir kata, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak pada rekan-rekan satu tim saya. Kalian semua keren banget. We had a good teamwork and I love you all *eaaaaa. Mohon maaf atas segala kekurangan. I’m sorry and thank you so much ;’)

Pada penasaran ga sih sama muka-muka mereka? Hehehehe..

Here we are..

Dari bawah ke atas:
Tallia (Finance), Sinta (Director), Ripin (Packaging), Febri (Production), Chandra (Marketing)
NB:
Yang penasaran pengen nyicipin Arachis, bisa pesan via @Arachiss 🙂

Home Business (1)

Tanggal 5-19 Januari lalu, YEA 13 mengerjakan proyek Home Business. Ini adalah praktek memulai bisnis. Di sini kami diminta menentukan produk, melakukan proses produksi, menentukan merek, logo, dan kemasan, memasarkan, hingga membuat laporan keuangan. Komplit!

Beberapa peraturannya:

1. Modal awal maksimal Rp. 500.000

2. Harus produksi sendiri (1 minggu pertama).

3. Boleh merekrut tenaga penjualan mulai minggu pertama. Boleh merekrut tenaga produksi di minggu kedua.

4. Wilayah penjualan terbatas hanya di Bandung raya

Target : Omset 8 juta dalam 2 minggu.

Kalau omset gak sesuai target, kelompok harus menyerahkan 50% omset ke YEA (25% untuk pemenang, 25% untuk panti asuhan)

Kalau omset mencapai 8 juta tapi ada kelompok lain yang beromset lebih tinggi, cukup serahkan 10% omset pada pemenang.

Satu kelas dibagi menjadi tiga kelompok. Saya beruntung satu kelompok dengan empat orang yang keren: Tallia (Finance), Chandra (Marketing), Ripin (Logistic & Design), dan Febri (Production).

Perkenalan kru nya udah. Sekarang lanjut ke 4P

PRODUCT

Febri mengusulkan beberapa ide produk. Dari pengalaman para senior, lebih baik membuat produk yang tahan lama dan gak cepat basi. Akhirnya setelah brainstorming, kami memutuskan membuat kacang telur pedas dengan merek Arachis. Arachis diambil dari bahasa latin kacang tanah: Arachis hypogaea. Ada tiga level kepedasan. Dari yang paling ga pedas sampai yang paling pedas berturut-turut level Semut Api, Phoenix, dan Naga 🙂

PRICE

Awalnya, kami mematok harga Rp. 15.000,- untuk 1 tabung Arachis dengan isi 120 gram. Ternyata, banyak yang bilang kemahalan. Kami pun berusaha menurunkan harga jual dengan menurunkan harga pokok produksi (HPP). Berhubung yang paling mahal adalah kemasan, kami pun mengganti tabung dengan plastik. Harga jual akhir pun menjadi Rp. 9000,-

PLACE

Arachis didistribusikan melalui reseller (Arachis Angels) dan beberapa warung dengan sistem konsinyasi.

PROMOTION

Promosi Arachis dilakukan dari mulut ke mulut, Facebook, dan Twitter @Arachiss. Kami juga mencetak poster.

Bersambung…

Next Post : Laporan Produksi, Packaging, Penjualan, dan Keuangan.

Cashflow Game

Agenda kelas hari ini adalah bermain Cashflow Game! Keren banget permainannya. Game ini diciptakan oleh Robert T. Kiyosaki berkaitan dengan bukunya yang berjudul The Cashflow Quadrant. Kita belajar mengatur arus kas sebagai seseorang yang bekerja aktif, kemudian sedikit demi sedikit mengumpulkan passive income hingga nilainya lebih dari total biaya (pengeluaran) per bulan dan bergelar bebas finansial, terus “main-main” di investasi sampai kekayaan kita berlipat-lipat dan meraih impian. Cool!

Maaf foto agak blur karena blur adalah fitur *alibi* :p

Sekilas game ini mirip permainan Monopoli. Ada papan bermain, uang-uangan, melempar dadu, menjalankan bidak, pemberian gaji, transaksi dengan bank, kartu-kartu peluang dan pengeluaran (kalau di Monopoli ada Kesempatan dan Dana Umum). Bedanya, di Cashflow Game kita bisa punya anak (semakin banyak anak, pengeluaran bertambah :D), bisa di-PHK, dan kalau cerai uang kita ludes (saya ga ngerti apa hubungannya cerai dengan uang ludes. Udah jatuh tertimpa tangga pula itu mah yak. Ckckck…).

Cara ngumpulin uang? Ada gaji, saham, real estate, dan bisnis. Pinter-pinter lah kita mengalokasikan uang tunai yang kita punya untuk investasi. Siapa yang nanti pada akhirnya berhasil meraih impian atau mencapai pertambahan cashflow 50.000 dolar, maka dialah pemenangnya.

Juara pertama di kelompok saya. Kalau udah jadi milyuner dan bebas finansial, tidur pun uang tetap ngalir. Enak toh? Siapa mau? 😉

Dari lima orang pemain (dalam satu papan), saya meraih juara keempat! *jiaaaaaah. Hahahaha.. Eits, gapapa dong. Yang penting saya berhasil meraih impian saya: Menghadiri Festival Film Cannes! Cihuuuy!

Bidaknya berbentuk tikus. Di sebelahnya itu adalah keju untuk menandai petak impian kita :D. Btw, saya mau ke festival film di luar negeri bukan sebagai aktris yah. Tapi sebagai kru di balik layar. Penting tuh dicatet :p

Kata fasilitator, kami akan memainkan game ini lagi nanti setelah menerima materi Accounting. Siiip..!

Kalau kamu penasaran dan pengen nyoba game ini, main aja ke YEA, Jl Teuku Angkasa No. 26 Bandung. Ajak teman-teman kamu, sediakan waktu seharian dan uang 50ribu perak per orang *gubraaaks!* :p Eh tapi ini seriuuuus. Kalau tertarik, mention aja saya di twitter yak (@sintamilia), kita kopdar dan main bareng 😉

Seeya!